Afifuddin lubis
Afifuddin lubis Pensiunan PNS

Selalulah belajar dari siapapun

Selanjutnya

Tutup

Politik Artikel Utama

Akankah Ucapan Amien Rais tentang Partai Setan Naikkan Elektabilitas Prabowo?

16 April 2018   09:24 Diperbarui: 16 April 2018   10:39 2784 16 15
Akankah Ucapan Amien Rais tentang Partai Setan Naikkan Elektabilitas Prabowo?
Ketua Majelis Pertimbangan Pusat PAN Amien Rais, berbicara saat deklarasi pencapresan Prabowo Subianto dan bakal Cawapres Hatta Rajasa, di Jakarta Timur, Senin (19/5/2014). Prabowo dan Hatta yang diusung enam partai, yaitu Gerindra, PAN, PKS, PPP, Golkar, dan PBB ini akan mendaftarkan diri ke KPU pada Selasa (20/5/2014). TRIBUNNEWS/HERUDIN

Seperti yang telah ditulis di Kompasiana yang bertajuk "Salahkah Kalau Tafsirkan Partai Setan yang Dimaksud Amien Rais itu adalah Partai Pendukung Jokowi?" saya berpendapat atau lebih tepat menafsirkan bahwa yang dimaksud Amien Rais dalam tausyiahnya pada Jumat (13/042018) di Masjid Baiturrahim Jakarta Selatan, erat kaitannya dengan pertarungan pada Pilpres 2019.

Diperkirakan pada pilpres itu akan terjadi laga ulang atau rematch antara dua orang putra bangsa, yakni Joko Widodo dan Prabowo Subianto.

Dari berbagai komentar yang dikemukakannya selama ini tidak lah salah kalau saya menyebut Amien Rais akan mendukung Prabowo. Karenanya ketika ia menyebut Partai Allah dan Partai Syetan, tidak salah juga lah kalau saya menafsirkan yang dimaksudnya dengan Partai Allah itu adalah Gerindra, PKS dan PAN.

Ketika dia mengajak umat agar bersama dengan partai pembela agama Allah maka itu berarti dia mengajak umat untuk mendukung mantan Pangkostrad itu dan sekaligus jangan mendukung Jokowi. Ajakan Amien Rais yang demikian apakah akan bisa menaikkan elektabilitas Prabowo?

Seperti kita ketahui, dalam pandangan publik selama ini ada 4 parpol yang punya perwakilan di DPR RI yang masuk kategori partai Islam. Yakni PKB, PKS, PAN, dan PPP.

Partai Kebangkitan Bangsa punya basis pemilih tradisional di Jawa Timur dan sebahagian besar dari mereka adalah warga Nahdlatul Ulama.

Tentu warga PKB akan keberatan apabila Amien Rais tidak memasukkan partai mereka sebagai bahagian dari partai pembela agama Allah.
Sekurang-kurangnya mereka akan menggugat dalam hati apa ukuran yang digunakan oleh pendiri PAN itu membuat dikotomi antara Partai Allah dengan Partai Syetan.

Kemungkinan besar ada 2 buah ukuran yang dibuat Amien Rais berkaitan dengan hal tersebut. Pertama adalah Pilgub DKI 2017 pada masa itu pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno pada putaran pertama diusung oleh Gerindra-PKS dan pada putaran kedua PAN ikut bergabung.

Pada putaran pertama, PAN, PKB, PPP dan Demokrat adalah pengusung Agus Harimurthi Yudhoyono-Silvana Murni. Pada putaran kedua PKB dan PPP mengalihkan dukungannya kepada pasangan Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Syaiful Hidayat. Pada masa itu sebahagian umat Islam mengecam Basuki Tjahaja Purnama karena ucapannya tentang Al Maidah 51. Oleh karena pada Pilgub DKI itu sentimen agama sangat kuat diangkat maka muncullah istilah partai penista agama.

Sangat jelas yang dimaksud istilah itu adalah para parpol pengusung dan pendukung Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Syaiful Hidayat yaitu: PDIP, Golkar, Hanura, Nasdem, PKB, dan PPP. Sedangkan partai yang disebut bukan penista agama adalah Gerindra, PKS, dan PAN.

Saat itu muncul lah seruan yang sampai sekarang masih terdengar gaungnya, jangan pilih partai penista agama. Kemungkinan ukuran berikutnya yang digunakan oleh Amien Rais adalah parpol yang akan mengusung Jokowi dan yang mendukung Prabowo. Untuk partai pendukung Prabowo masuk kategori partai pembela Agama Allah sedangkan partai pendukung Jokowi bisa dimasukkan bukan partai pembela agama Allah.

Dikotomi yang demikian tentunya beranjak dari ukuran ukuran keislaman sesuai pemahaman Amien Rais. Kita mengetahui bahwa Gerindra adalah partai yang berbasiskan nasionalisme dan dalam pemahaman publik pun Gerindra bukanlah partai Islam.

Kepengurusannya juga terdiri pemeluk berbagai agama dan bukan hanya yang beragama Islam saja. Lalu apa dasar pendiri PAN itu memasukkan Gerindra dalam kelompok partai pembela agama Allah?

Dalam konteks yang demikianlah tentu akan muncul pertanyaan dari umat Islam yang merupakan pendukung PKB dan PPP, mengenai apa dasar yang menggolongkan partai mereka sebagai bukan partai pembela agama Allah.

Pada partai partai yang berbasis nasionalis tentu sangat banyak juga tokoh dan anggota partainya yang merupakan pemeluk Islam yang taat.

Banyak di antara mereka yang saya kenal sangat rajin melaksanakan puasa Senin-Kamis dan delalu menjalankan ibadah dengan baik. Lalu karena mereka berada pada partai yang berbasis nasionalis itu maka layakkah mereka disebut anggota partai yang tidak membela agama Allah?

Selanjutnya tentu muncul juga pertanyaan apa kapasitas Amien Rais sehingga berhak mengatakan ada partai pembela agama Allah dan ada partai syaitan.Otoritas apa yang dimilikinya sehingga mengungkapkan hal yang demikian ke publik.

Terhadap hal hal yang dikemukakan diatas maka muncul lah pertanyaan berikutnya. Apakah ungkapan mantan Ketua MPR itu akan mampu menaikkan elektabilitas Prabowo? Jujur, saya amat ragu dengan hal tersebut. Malahan saya khawatir justru pernyataan pernyataan yang demikian akan dapat menurunkan tingkat keterpilihan mantan Pangkostrad itu.

Tetapi hal yang demikian adalah pendapat saya pribadi. Jawaban yang konkret tentang hal itu baru akan diperoleh beberapa waktu ke depan ketika lembaga lembaga survei yang kredibel mengumumkan hasil surveinya.

Salam Demokrasi!