Afifuddin lubis
Afifuddin lubis Pensiunan PNS

Selalulah belajar dari siapapun

Selanjutnya

Tutup

Politik

Apakah Jokowi Harus Memilih Gatot Atau Ahok sebagai Cawapresnya?

13 Oktober 2017   16:16 Diperbarui: 13 Oktober 2017   16:33 1319 4 2

Dua hasil  survei baru baru ini dirilis oleh Syaiful Mujani Research and Consultant (SMRC) serta oleh Indikator Politik yang dikomandoi oleh Burhanuddin Muhtadi.
Kedua lembaga survei itu masih menempatkan Jokowi sebagai tokoh yang paling punya peluang besar untuk memenangkan pertarungan pilpres tahun 2019 yang akan datang.

Hasil survey SMRC menyebut tingkat elektabilitas Jokowi sekarang ini(survei September 2017) berada pada angka 38,9 persen kemudian disusul  oleh Prabowo Subianto pada angka 12,0 persen.Sedangkan Indikator Politik menempatkan Jokowi pada angka 47,3 persen sedangkan Prabowo 19,0 persen.
Kemudian ada hasil survei yang juga menarik yang dilakukan oleh Indikator yaitu tentang siapa yang paling tepat sebagai wapresnya Jokowi nanti.
Survei  dilakukan dengan menyodorkan 16 nama calon wakil presiden pendamping Jokowi di Pilpres 2019.

Dari skala 0-40,Ahok meraih angka 16 diikuti Gatot dengan angka 10.Figur lainnya yaitu Walikota Bandung Ridwan Kamil (8),Menteri Keuangan ,Sri Mulyani (7),Walikota Surabaya (5) dan Kapolri Tito Karnavian (4).(CNNIndonesia.com).
Dengan demikian survei itu mengindikasikan sebaiknya Jokowi memilih Cawapresnya ,Ahok atau Gatot Nurmantyo.

Ahok tentu sudah dikenal publik di seantero republik.Mantan Bupati Belitung Timur ini sekarang sedang menjalani hukuman penjara di Mako Brimob.
Berkaitan dengan kasus penistaan agama yang dilakukannya ia dijatuhi hukuman dua tahun penjara terhitung Mei 2017 yang lalu.
Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok dianggap juga punya pengikut atau fans fanatik tidak hanya di Jakarta tetapi juga di daerah daerah.
Betapa hebatnya simpati kepadanya terlihat ketika ia di vonnis penjara ,maka Balai Kota Jakarta dibanjiri karangan bunga ,menyampaikan rasa simpati terhadapnya.Bahkan tidak hanya di Jakarta ,tetapi di daerah daerah juga mengalir karangan bunga ke tempat tempat tertentu seperti di lapangan terbuka yang kesemuanya juga memberikan dukungan moril kepada suami Veronica Tan tersebut.

Disisi lain ,Ahok juga telah muncul sebagai simbol representasi sebahagian kelompok masyarakat yang ada di negeri ini.
Tetapi andainya Jokowi akan memilihnya sebagai pasangan ,akan ada beberapa hal yang perlu disimak.
Diperkirakan Pilpres 2019 akan digelar pada Juni atau Juli  yaitu kurang dari  dua tahun lagi.Tetapi kemungkinan proses pendaptaran capres dan cawapres di Komisi Pemilihan Umum (KPU) sudah diadakan pada sekitar pebruari atau maret 2019.

Pada masa tersebut status Ahok masih menjalani hukuman penjara.Jadi kecil kemungkinannya ia berhasil lolos sebagai cawapres.
Kemudian hal lain yang perlu dicermati ialah posisi Ahok yang di kalangan sebahagian ummat Islam tidak berterima.Ahok adalah sosok penista agama yang telah dijatuhi hukuman oleh pengadilan.

Kalau  berpasangan dengannya maka Jokowi bisa kehilangan suara dari sebahagian kelompok ummat Islam.
Tetapi harus jujur juga diakui kalau mantan Bupati Belitung Timur tersebut dipasangkan dengan Jokowi maka pasangan tersebut akan memperoleh suara pemilih yang berasal dari masyarakat pendukung atau simpatisan Jokowi.
Bagaimana kalau dengan sosok Gatot Nurmantyo?

Jenderal bintang empat kelahiran Tegal ini sekarang popularitasnya sedang naik daun.Sikapnya terhadap Aksi Aksi Bela Islam tahun lalu menuai simpati yang cukup besar dari sebahagian ummat Islam.
Begitu juga kebijakannya untuk memutar film Penghianatan G 30 S PKI di satuan satuan TNI mendapat komentar yang cukup positip dari tokoh tokoh Islam.

Andainya Jokowi menggandengnya nanti maka simpati sebahagian ummat Islam akan mengalir ke pasangan ini.Hal ini akan meningkatkan elektabilitas Jokowi dan pasangannya.
Namun walaupun disebut tingkat elektabilitas Ahok dan Gatot cukup tinggi sebagai pendamping Jokowi ,tapi sampai sekarang belum terlihat isyarat dukungan dari PDIP yang diperkirakan akan  menjadi partai pengusung utama Jokowi pada 2019 nanti.

Dan harus diingat juga seperti yang sering dikemukakan banyak orang ,bahwa politik itu dinamis dan cair dan sering putusan diambil pada last menutes.

Karenanya masih sangat sulit menduga siapa pada akhirnya yang akan mendampingi Jokowi nanti.

Salam Persatuan!