Afifuddin lubis
Afifuddin lubis Pensiunan PNS

Selalulah belajar dari siapapun

Selanjutnya

Tutup

Politik

Mencermati Serangan Massa Anti Komunis ke Gedung LBH Jakarta

18 September 2017   17:02 Diperbarui: 18 September 2017   17:29 3209 2 2

Tempo.co memberitakan,Senin (18/9/2017) dinihari sekumpulan massa menyerang kantor Lembaga Bantuan Hukum ( LBH) Jakarta.
Massa yang terdiri dari anggota berbagai ormas itu melakukan penyerangan dengan dalih ingin membubarkan acara yang sedang di gelar di dalam gedung tersebut.

Pada minggu malam ,17/9 /2017 ,LBH Jakarta menggelar acara Seni AsikAsik Aksi .Didalam gedung,para aktivis,seniman ,dan korban tragedi 1965 menonton beberapa acara seperti puisi dan musik.

Massa yang berasal dari Aliansi Masyarakat anti komunis meneriakkan yel yel " Ganyang PKI,Ganyang ,Ganyang,Ganyang PKI" sekarang juga.
Tindakan seratusan  massa yang mengepung kantor LBH Jalan Diponegoro ,Menteng Jakarta Pusat itu , merupakan reaksi karena menurut rencana awal ,LBH Jakarta pada hari Minggu 17/9/2017 akan menyelenggarkan Seminar Sejarah 1965.Namun karena seminar tersebut dilarang kepolisian maka acara dirobah menjadi acara Seni AsikAsikAksi.

Berkaca dari pengepungan gedung LBH tersebut ada beberapa isyarat yang bisa kita peroleh.
Bahwa issu kebangkitan komunis atau PKI adalah sesuatu yang sangat peka di masyarakat kita.

Banyak elemen masyarakat yang percaya bahwa komunis/PKI adalah sebuah kekuatan yang terorganisir dan siap untuk bangkit kembali.
Kepekaan terhadap isu kebangkitan ini juga sangat kuat terasa di organisasi organisasi Islam.
Hal ini dapat dipahami karena pada sekitar tahun 65 an sering terjadi bentrokan fisik antara PKI melalui mantel organisasinya seperti Pemuda Rakyat dengan Pemuda Ansor milik NU.

Pada sekitar tahun 65 beredar issu yang diyakini masyarakat kebenarannya bahwa PKI akan menghabisi para Kiai atau juga para ulama.
Penyerangan PKI melalui Barisan Tani Indonesia (BTI) dan Pemuda Rakyat(PR) ke acara Pelajar Islam Indonesia (PII) di Kanigoro,Kediri, pada sekitar awal tahun 1965 menguatkan anggapan masyarakat bahwa PKI sangat anti dengan organisasi Islam.

Begitu juga halnya perseteruan antara Concentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI) ,mantel organisasi mahasiswa nya PKI yang selalu menyerang Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) semakin menguatkan anggapan bahwa PKI memang akan menghabisi organisasi organisasi Islam.
Bahkan Dipa Nusantara Aidit ( DN Aidit) ,pimpinan tertinggi PKI pada pidatonya Mei 1965 dengan lantang berkata di Stadion Gelora Bung Karno Jakarta,kalau CGMI tidak mampu membubarkan HMI maka lebih baik anggota CGMI memakai kain sarung saja.

 Ketika konfrontasi dengan Malaysia pada tahun1963-1965 dalam halmana rakyat diperintahkan untuk membangun lobang lobang didalam tanah untuk mengantisipasi serangan udara Malaysia dan kekuatan neo imperialis ,maka kemudian berkembang issu bahwa lobang lobang didalam tanah tersebut adalah untuk kuburan bagi para kiai atau tokoh masyarakat yang anti PKI.

Cerita turun temurun tentang PKI ini terus membayang di hati para aktivis organisasi Islam hingga hari ini.
Karenanya setiap ada upaya untuk membicarakan tentang PKI apakah sejenis rekonsiliasi atau pengakuan bahwa telah terjadi pelanggaran HAM berat pada tahun 1965/1966 ,maka selalu muncul reaksi keras untuk menentang dan menolaknya.

Kelihatannya reaksi penolakan untuk membicarakan rekonsiliasi nasional terhadap korban tragedi 1965 semakin mendapat penolakan yang keras oleh karena dihembuskannya issu bahwa pimpinan nasional sekarang ini sangat dekat hubungannya dengan PKI.Issu keterkaitan Jokowi dengan PKI sudah berhembus sejak awal proses pencalonan pipres 2014 yang lalu.

Berbagai issu di medsos tentang kaitan Jokowi dengan PKI ini terus dikembangkan oleh orang orang yang tidak bertanggung jawab.Tahun  lalu buku " Jokowi Undercover" yang berisi fitnah berupa kaitan Jokowi dengan PKI juga beredar.

Beberapa kali Jokowi juga menegaskan bahwa siapa orang tuanya jelas diketahui dan orang tuanya tersebut tidak  ada hubungannya dengan PKI.
Kemudian sesudah Jokowi menjadi orang nomor satu di republik ini beredar lagi issu bahwa pejabat utama di lingkungan istana juga berbau PKI.
Pejabat yang dituduh menantang orang yang menuduhnya bahkan mengadukannya ke aparat penegak hukum.

Walaupun Jokowi telah berulang kali membantah keterkaitannya dengan PKI tapi masih banyak juga kelompok yang terus menggelindingkannya.
Hal hal ini menunjukkan bahwa issu komunis/PKI akan terus digulirkan menjelang pilpres nanti.

Berkaitan dengan hal tersebut maka seyogianya pemerintah juga memperhitungkan risiko politik apabila berniat untuk memperbincangkan hal hal yang berkaitan dengan tragedi 1965.

Massa anti komunis yang menyerang kantor LBH Jakarta merupakan sebuah indikasi bahwa membicarakan tragedi 1965 ternyata masih sesuatu yang peka di republik ini.

Salam Persatuan!