Afifuddin lubis
Afifuddin lubis Pensiunan PNS

Selalulah belajar dari siapapun

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Di Pesantren Purba Baru, Guru Disapa "Tuan" atau "Tuan Syekh"

24 Maret 2017   13:37 Diperbarui: 24 Maret 2017   13:41 1198 0 0

Saya masih berada di Pesantren  Mustofawiyah Purba Baru ,sebuah pesantren tertua di Sumatera Utara terletak di Kabupaten Mandailing Natal.Menurut rencana malam ini dan esok pagi Jokowi akan melakukan beberapa kegiatan di pesantren yang  didirikan tahun 1912 ini.
Berbincang bincang dengan santri menjadi menarik bagi saya untuk lebih memahami bagaimana sapaan santri  kepada para guru atau pengasuh pondok pesantren.

Kalau pesantren di pulau Jawa sepanjang yang diketahui para santri menyapa gurunya dengan kata " Kiai" atau kadang kadang terdengar juga kata " iai".Pada acara acara resmi  para guru yang sudah haji disebut dengan Kiai Haji. Tidak hanya di pesantren tapi secara umum di Jawa para ulama juga disapa dengan kiai atau kiai haji dan juga ada yang disapa dengan habib sapaan khusus untuk ulama turunan Arab.Para ulama yang disapa Kiai Haji atau Habib punya kedudukan terhormat di mata santri atau di mata masyarakat. Tetapi di Pesantren Purba Baru tidak dikenal panggilan Kiai atau Kiai Haji terlebih lebih Habib.

Untuk menyapa atau menyebut para guru mereka lebih akrab menggunakan kata " Tuan".Adakalanya sapaan " tuan" itu diikuti oleh nama gurunya misalnya Tuan Buchari artinya nama guru itu Buchari. Tapi ada lagi sapaan " tuan" yang tidak berkaitan dengan nama tetapi tentang usia atau juga karena tingkat kepakaran di bidang ilmu.

Pesantren Purba Baru didirikan oleh Syekh Mustafa Husein pada 12 November 1912. Dalam pembicaraan sehari hari pendiri pesantren yang karismatis ini bukan disapa dengan namanya Syekh Mustafa Husein tetapi disapa dengan panggilan yang menggambarkan penghormatan yaitu " Tuan Natobang" yang arti nya tuan yang tua.Kemudian ada lagi guru yang disapa sebagai " Tuan Naposo" atau tuan yang muda yaitu almarhum Syekh Abdul Halim.Tapi Tuan Naposo ini bukanlah adik dari Tuan Natobang tapi karena kekayaan ilmunya ia disebut " Tuan Muda".

Kemudian ada juga sapaan Tuan Natobang( Tuan yang Tua) dengan Tuan Naposo ( Tuan yang Muda) karena mereka berdua adalah ulama besar yang kakak adik.Sekitar 40 tahun yang lalu di Panyabungan ibu kota Kabupaten Mandailing Natal ada 2 orang ulama besar kakak adik sama sama punya karisma yaitu yang paling sulung Syekh Djafar Abdul Kadir Al Mandiliy disapa dengan sebutan Tuan Natobang dan adiknya disapa Tuan Naposo.
Di Pesantren Purba Baru pimpinannya sekarang disebut Mudir dan disapa dengan menyebut namanya Tuan Mustafa Bakri yang merupakan cucu dari pendiri pesantren yang terkenal itu.

Selain sapaan " tuan" ,para santri juga ada yang menyapa gurunya dengan sebutan " Syekh" misalnya salah seorang guru yang aktip sekarang Syekh Mahmudin Pasaribu yang juga Ketua Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Mandailing Natal dsn juga Rois Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Sumatera Utara.Untuk Kabupaten Mandailing Natal gelar Syekh juga diperuntukkan bagi para ulama dan di daerah ini ulama tidak disapa dengan gelar panggilan Kiai Haji.

Gelar " Syekh" atau " Tuan Syekh" di beberapa daerah di Sumatera Utara juga digunakan sebagai sapaan kepada pemimpin tariqat terutama yang menyelenggarakan ritual ibadah yang disebut dengan suluk.Syekh Abdul Wahab Yazid Rokani (Alm) misalnya adalah seorang pemimpin tariqat Naksyabandiah yang terkenal di Kabupaten Langkat.

Ada lagi panggilan di Mandailing Natal untuk ulama baik sewaktu hidup atau yang sudah wafat dengan sapaan " Baleo"  seperti misalnya " Baleo Natal" yang sangat terkenal di kawasan paling selatan Sumatera Utara.Kemungkinan besar kata " baleo" berasal dari kata " beliau" yang merupakan kata ganti untuk menyebut seseorang yang sangat dihormati. Setahu saya daerah lain yang menggunakan kata " Tuan" untuk menyapa ulama ialah di Nusa Tenggara Barat ( NTB) malahan selalu disebut dengan sapaan " Tuan Guru".Saya belum dapat informasi yang memadai kenapa di Mandailing Natal dan di NTB ,ulama sama sama disebut dengan sapaan Tuan atau Tuan Guru.

Begitu juga halnya muncul pertanyaan di hati saya kenapa di Purba Baru dan di Mandailing Natal para murid atau masyarakat menyapa ulama dengan bahasa Melayu/Indonesia yaitu " Tuan " dan tidak menggunakan sapaan dengan bahasa lokal misalnya " Amanta" yang berarti orang tua kita.Untuk mempelajari hal hal seperti ini tentu selalu menarik. Di Pesantren Purba Baru ini saya senang melihat aktivitas santri termasuk adab dan kesopanan mereka kalau ketemu gurunya yang selalu menjabat dan mencium tangan gurunya dengan takzim karena guru itu adalah " Tuan" atau " Tuan Syekh".
Salam Persatuan!