Mohon tunggu...
Marahalim Siagian
Marahalim Siagian Mohon Tunggu... Konsultan-sosial and forest protection specialist

Homo Sapiens

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan Pilihan

Cemen, Dijewer KLHK Mengadu ke Mendag

8 Agustus 2020   16:28 Diperbarui: 7 September 2020   19:50 423 30 7 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Cemen, Dijewer KLHK Mengadu ke Mendag
Tangki CPO hasil olahan perkebunan kelapa sawit (Gambar Marahalim Siagian)

Jika Kementerian Perdagangan (Kemendag) menganggap kampanye negatif sawit dari kalangan organisasi non pemerintah (NGO) sebagai "suara knalpot bising dari motor butut"  apa mau dilawan dengan "suara bising dangdut koplo" ? hanya akan menjadi polusi wacana.  

Kemarin (7/8/2020) KOMPAS.COM memberitakan kementerian perdagangan (Kemendag)  berinisiatif membentuk Tim Khusus Tangkal Kampanye Sawit Negatif sebagai respon Kemendag setelah menerima audiensi pengusaha sawit secara virtual,  Rabu (5/8/2020). Beritanya di sini: 

https://money.kompas.com/read/2020/08/07/190000726/tangkal-kampanye-negatif-sawit-pemerintah-akan-bentuk-tim-khusus?page=1

Mengutip berita Kompas.com di atas disebutkan:

"Menteri Perdagangan Agus Suparmanto mengatakan, diperlukan sinergi yang lebih kuat antara stakeholder sawit Indonesia di tengah berbagai macam serangan khususnya dari Uni Eropa. Menurutnya, serangan itu akan makin sistematis dengan menyasar semua aspek. Pada waktu yang lalu, serangan terhadap sawit berkisar pada dampak ekologis dan sosiologis."

Membentuk tim khusus tangkal kampanye negatif sawit hemat saya tidak ada urgensinya. Jika Kementerian Perdagangan (Kemendag) menganggap kampanye negatif sawit dari kalangan organisasi non pemerintah (NGO) sebagai "suara knalpot bising dari motor butut"  apa mau dilawan dengan "suara bising dangdut koplo" ? hanya akan menjadi polusi wacana.  

Lupakah kita? Baru tahun lalu (2019) kita mengalami krisis lingkungan akibat terjadinya kebakaran lahan dan hutan di Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur (ini belum menyisir provinsi lain yang juga mengalami Karhutla dengan titik api dan luasan yang lebih kecil). Apakah kita akan menyembunyikan fakta bahwa asap dari kebakaran hutan dan lahan ini membawa dampak lingkungan, ekonomi,  dan kesehatan bagi  manusia?

Bagi orang yang jauh dari sentrum terjadinya Karhutla, dampak asap itu mungkin tidak begitu terasa. Namun bagi yang mengalaminya, kondisinya sangat buruk. Tahun lalu, saat terjadi Karhuta, penulis berada di Jambi ikut terlibat dalam Satgas Karhutla dalam upaya pengedalian kebakaran lahan dan hutan. Melihat langsung Kathutla di kawasan hutan yang terbakar dan di kawasan pekebunan kelapa sawit serta hutan tanaman industri (HTI). Menghirup udara kotor setiap hari---tidak ada tempat untuk lari, di luar dan di dalam ruangan sama saja, asap bisa masuk. Flu berat, mata perih, stamina drop, jarak pandang berkurang.  Berada di area Karhutla, menghirup udara bertuba selama berhari-hari, berminggu-minggu, hingga  tiga bulan sungguh kondisi yang menyiksa.

Pemerintah via Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup (KLHK) bahkan menyegel 64 perusahaan yang terkait Karhutla dan sekarang dituntut ke pengadilan. Dari 64 perusahaan yang disegel, 47 diantaranya adalah perusahaan perkebunan kelapa sawit, termasuk perkebunan milik asing. 

Sekali lagi, ini hanya yang terjadi tahun lalu. Tahun 2020 ini juga masih ada kasus Karhutla di Jambi dan Riau walau tidak sebesar tahun 2019.

Kebakaran di lahan kelapa sawit (Gambar CNN Indonesia)
Kebakaran di lahan kelapa sawit (Gambar CNN Indonesia)
Jika kita rentangkan ingatan kita, tahun 2019 kebelakang hingga tahun 1997 yang juga krisis lingkungan besar akibat Karhutla, menunjukkan bahwa setiap tahun ada masalah lingkungan terjadi di hutan tanaman industri dan perkebunan sawit.

Karhutla di Jambi 2019 (Gambar Marahalim Siagian)
Karhutla di Jambi 2019 (Gambar Marahalim Siagian)
Selama masa puncak Karhutla 2019, banyak penerbangan pesawat dibatalkan dan ditunda, angka ISPA (infeksi saluran pernapasan atas) meningkat, serta dilaporkan adanya kematian Balita akibat sesak nafas. Belum termasuk kegitan sekolah yang diliburkan, geliat ekonomi  dipusat terdampak yang tergangu, serta yang jarang kita hitung adalah nilai keragaman hayati selain tegakan pohon. Berapa nilai harga satwa yang mati? Bukan hanya mamalia serta hewan besar lainnya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x