Mohon tunggu...
Marahalim Siagian
Marahalim Siagian Mohon Tunggu... Konsultan-sosial and forest protection specialist

Homo Sapiens

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Mufut, Piknik ala Dayak Punan

31 Desember 2019   22:49 Diperbarui: 25 September 2020   04:01 140 11 4 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Mufut, Piknik ala Dayak Punan
Dayak Punan (Foto Thomas Bolliger)

Mufut ditandai dengan perginya seluruh anggota keluarga meninggalkan pemukiman untuk berburu dan mencari buah-buahan. Tradisi ini berhubungan dengan rekreasi dan juga berfungsi ganda yakni, respon untuk situasi paceklik dan memelihara keseimbangan hubungan sosial diantara kerabat-kerabat terdekat.

**

Dayak Punan di Sungai Tubu dan Sungai Malinau---Kalimantan Utara, selalu ingin dekat dengan sumberdaya hutan. Hal tersebut membuat mereka disebut "pendatang terakhir" ke dunia modernisasi dibanding subetnik Dayak lainnya di Kalimantan.

Dayak Punan yang hidup lebih elusive menciptakan pola pemukiman yang unik. Contoh, pemukiman di Liu Mutai dan Long Nyom merupakan bagian dari Desa Pelancau yang berada di pusat Kecamatan Malinau Selatan. Padahal, jarak antara Liu Mutai dan Long Nyom dengan pusat desa sangat jauh bahkan diantarai oleh beberapa desa.

Contoh lain, pemukiman di Long Penai, penduduk ini tercatat sebagai penduduk Desa Long Titi. Padahal, jarak tempuh dari Long Penai ke Long Titi satu hari perjalanan. Demikian juga pemukiman di Kuala Rian, tersebar di sepanjang Sungai Tubu, jauh dari pusat desa.

Perkembangan desa/pemukiman ini menunjukkan dua kecenderungan berbeda--peleburan dan pemekaran. Desa-desa Punan di Malinau, yakni di Respen Tubu mengalami peleburan. Sepuluh desa yang dulunya eksis (Long Nit, Long Kendai, Long Agis, Long Lihi, Long Pangin, Mabung, Menabur Kecil, Menabur Besar, Payang dan Taram) pada tahun 2004 telah dilebur menjadi satu desa baru yang disebut Respen Tubu.

Hal sebaliknya terjadi di Malinau hulu, dimana dua desa baru terbentuk yakni Halanga dan Long Ranau yang sebelumnya bagian dari Desa Laban Nyarit. Jumlah penduduk desa umumnya kecil, hanya 190-300 jiwa.

Jumlah itu hanya setara dengan satu dusun di Sumatera Utara atau satu RT (rukun tetangga) di Pulau Jawa. Desa dengan karakter khas seperti itu akan sulit mengembangakan diri terutama desa/pemukiman di Sungai Ran dan Tubu

Akses dan area studi

Akses di Sungai Tubu yang sangat sulit karea arus sungai deras dan penuh 'giram' (Dok. KKI Warsi)
Akses di Sungai Tubu yang sangat sulit karea arus sungai deras dan penuh 'giram' (Dok. KKI Warsi)
Sistem transportasi utama adalah kendaraan air "ketingting" dan "longbot" yang berbahan bakar bensin. Jenis kendaraan tersebut merupakan kendaraan yang sesuai dengan Das Tubu yang bercirikan arus deras, berbatu, sertabanyak "giram" yang membuat transportasi air sangat sulit.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x