Mohon tunggu...
Edukasi

Pembelajaran Sastra Anak-anak

17 April 2015   18:57 Diperbarui: 17 Juni 2015   07:58 22861 0 1 Mohon Tunggu...

Disusun oleh:

Nur Yunitasari (115-13-021)

Fitri Utami (115-13-049)

M. Andrianto Adi K. (115-13-073)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pembelajaran sastra di SD pada dasarnya bertujuan membina apresiasi anak SD terhadap karya-karya sastra , sehingga anak dapat mengembangkan kearifan, kejelian, dan ketelitian untuk menangkap isysrat-isyarat dalam kehidupan yang tercermin dalam karya sastra. Jika apresiasi telah tumbuh pada diri anak, maka akan memberikan dampak positif terhadap anak.

Pembelajaran sastra di sekolah dasar dapat diklasifikasikan dalam tiga kelompok, yaitu; pembelajaran fiksi, pembelajaran puisi, dan pembelajaran drama. Ketiga bentuk sastra ini harus disajikan guru secara apresiasi. Oleh karena itu, guru harus mampu mencari materi yang tepat , menyusun, menyajikan kegiatan yang bersifat kreatif dan positif dengan materi sastra yang telah dipilih.

B. Rumusan Masalah

1. Apa  pengertian dari sastra ?

2. Bagaimanakah nilai sastra bagi anak ?

3. Bagaimana pentingnya pembelajaran sastra untuk anak ?

4. Apa saja tahapan-tahapan pembelajaran sastra anak ?

5. Apa saja macam-macam karya sastra ?

C. Tujuan Penulisan

1. Menjelaskan pengertian dari sastra.

2. Menjelaskan nilai sastra bagi anak.

3. Menjelaskan pentingnya pembelajaran sastra untuk anak.

4. Menyebutkan tahapan-tahapan pembelajaran sastra.

5. Menyebutkan macam-macam karya sastra.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Sastra

Sastra merupakan bagian dari kesenian yang dapat memberikan kesenangan , hiburan, kebahagiaan pada diri manusia. Manusia selalu ingin menikmati keindahan yang pernah dirasakannya dengan mewujudkan keindahan itu dalam bentuk, seperti; seni tari yang mewujudkan keindahan gerak tubuh manusia, seni rupa yang mewujudkan keindahan bentuk benda dan susunannya, dan seni sastra yang mewujudkan keindahan dalam bentuk bahasa. Dalam sastra unsur perasaan lebih tinggi. Sastra berhubungan dengan penciptaan, dan ungkapan pribadi ( ekspresi ). Jiwa sastra berupa pikiran, perasaan, dan pengalaman manusia. Sebuah karya sastra akan menjadikan pembacanya lebih kaya akan pengalaman dan pengetahuan, hati akan bergetar dan jiwa akan diliputi kesegaran.

Keindahan sastra terletak pada pengelolaan bahan pokoknya melalui bahasa. Bahasa sastra mempunyai ciri khas yang berbeda dengan bahasa sehari-hari, misalnya; dalam bahasa sehari-hari orang akan berkata “hari sudah senja”. Akan tetapi sastrawan mungkin akan mengatakan “matahari tenggelam di balik bukit-bukit”.

B. Nilai Sastra bagi Anak

Sastra dapat mengembangkan wawasan anak menjadi prilaku insani. Melalui karya sastra yang luas dapat membuat anak mengerti dunia. Anak dapat membayangkan dan merasakan keindahan serta anak dapat merasakan kesadaran mengenai kehidupan orang lain, bahkan bangsa lain sekalipun. Sastra mengembangkan imajinasi anak  untuk memikirkan alam, insan, pengalaman, atau gagasan dengan berbagai cara. Sastra dapat memberikan pengalaman seolah-olah si anak sendiri yang mengalaminya. Seperti, petualangan, perjuangan dalam menghadapi rintangan.

Bagi seorang calon pendidik dikelas rendah sangatlah penting mengetahiu nilai-nilai apa saja yang akan diberikan pada anak lewat karya sastra.

C. Pembelajaran  Sastra bagi Pendidikan Anak-anak SD

Karya sastra merupakan pembelajaran yang cocok untuk diberikan. Karena telah diketahiu oleh kita bahwa dengan membaca karya sastra hati bisa merasakan sesuatu yang menyenangkan dan membahagiakan. Selain itu, karya sastra juga memberikan nilai-nilai dan pengetahuan lainnya yang belum pernah diketahui oleh anak-anak seperti pengetahuan bagaimana sebaiknya mereka berinteraksi dengan sesama.

1. Membantu Perkembangan Bahasa Anak

Melalui menyimak atau membaca karya sastra , secara sadar ataupun tidak sadar pemerolehan bahasa anak akan meningkat. Bertambahnya kosa kata maka akan meningkatkan pula keterampilan berbahasa anak.

2. Membantu Perkembangan Kognitif Siswa

Sastra  mempunyai hubungan erat dengan penalaran dan pikiran anak-anak. Semakin anak terampil berbahasa, maka akan semakin terampil pula mereka berfikir. Penalaran yang dikembangkan melalui media sastra antara lain; membandingkan, mengklasifikasikan, menghipotesis, merangkum, mengeritik, dan menerapkan.

3. Perkembangan Kepribadian

Sastra mempunyai peranan penting dalam perkembangan kepribadian anak. Tokoh-tokoh dalam karya sastra secara tidak sadar akan mendorong atau mempengaruhi anak-anak mengendalikan berbagai emosi, misalnya: benci, cemas, takut, bangga, angkuh, sombong, dan lainnya. Disini guru harus pintar-pintar memilih bacaan untuk anak yang didalamnya terdapat pesan, kesan moral bagi anak.

4. Perkembangan Sosial

Istilah sosialisasi mengacu pada suatu proses yang digunakan untuk anak-anak dalam membentuk perilaku, norma-norma, dan mativasi, yang selalu dipantau serta dinilai oleh keluarga dan kelompok budaya mereka. Ada tiga proses yang sangat berpengaruh dalam sosialisasi dunia anak-anak.

Pertama, proses hadiah dan hukuman. Orang tua/orang dewasa kerap kali memberikan hadiah kepada anak atas prilaku yang baik. Sebaliknya, mereka memberi hukuman atas prilaku yang tidak baik. Hal ini bermakna, anak disuruh melakukan hal-hal yang baik dan melarang melakukan hal-hal yang tidak baik.

Kedua, proses imitasi/peniruan. Anak-anak meniru/menyontoh prilaku atau respon orang dewasa atau teman sebaya. Pada masa ini anak belajar tentang prilaku yang diterima dalam masyarakat.

Ketiga, proses identifikasi. Proses ini menuntut ikatan emosional dengan model-model yang ada. Anak-anak menginginkan agar pikiran, perasaan, dan sifat-sifat mereka sama dengan model yang disukai.

Karena itu dalam karya sastra yang dipilih untuk anak SD hendaknya menampilkan tokoh model yang dapat membawa anak-anak kea rah yang lebih baik.

D. Pentingnya Pembelajaran Sastra bagi Anak SD

1. Sastra Menunjukkan Kebenaran Hidup

Dari karya sastra, orang akan belajar banyak tentang pengalaman hidup, persoalan dengan aneka ragamnya dan bagaimana menghadapinnya. Misalnya, dalam sastra anak-anak, dapat dijumpai cerita gadis kecil yang begitu asyik bermain dengan bonekanya, dibelai, disayang, dininabobokkan dengan bibir mungilnya yang begitu polos, murni, dan tidak ada kebohongan disini. Begitu pula dengan anak laki-laki yang dengan asyiknya bermain mainan kesukaannya.

Kondisi seperti diatas, dapat dijadikan untuk menanamkan pendidikan kepada anak-anak tentang bagaimana hidup manusia itu sebenarnya. Ada masa tenang, ada masa damai. Ada masa anak-anak juga masa dewasa dan seterusnya, yang penuh dengan aneka peran,

tugas, dan tanggung jawab. Dengan diajarkan pendidikan sastra sejak dini anak akan mengenal atau mengerti manusia lain.

2. Sastra untuk Memperkaya Rohani

Dalam membaca sastra disamping hiburan dapat menikmati jalan cerita, pelukisan watak yang mengesankan, juga harus mempertimbangkan kebenaran. Disini pembaca sastra juga seharusnya ikut aktif mancari makna yang terkandung. Selain itu guru juga harus memilihkan bacaan sastra yang didalamnya terdapat pesan kesan yang bermakna bagi siswanya.

3. Sastra Melampaui Batas bangsa dan Zaman

Karya sastra Mahabarata dan Ramayana menceritakan kejadian beberapa ratus tahun yang lalu. Cerita tersebut masih tetap hidup dalam abad kedua puluh dan sampai saat ini, berarti melampaui batas zaman.cerita ini digemari manusia kaena berisi pengalaman hidup yang mendasar yang masih terjadi sampai saat ini, seperti; kesetiaan dan penghianatan, perang antar saudara, orang tua kehilangan anak, dan lain sebagainya.

Dari penjelasan diatas menjawab pertanyaan mengapa karya sastra perlu diajarkan pada anak-anak, karena karya sastra merupakan karya atau cerita turun temurun dan akan tetap ada sepanjang zaman

4. Sastra Memiliki Santun Berbahasa

Dalam karya sastra begitu kaya dengan kata-kata yang tersusun secara tepat dan mempesona. Anak dapat belajar tatakrama/santun berbahasa dari pengungkapan kata-kata para sastrawan.

Dengan demikian karya sastra memudahkan guru dalam menanamkan pendidikan karakter terhadap anak, guna menjadikan anak yang sopan, santun di dalam lingkungan sekitarnya maupun dimanapun mereka berada nantinya.

5. Sastra Menjadikan Manusia Berbudaya

Manusia yang berbudaya adalah manusia yang cepat tanggap terhadap segala hal yang luhur dan indah dalam hidup ini.

Apabila karya sastra diajarkan sejak anak duduk dibangku SD, maka sejak dari dini ia dapat mengerti kehidupan manusia yang sederhana, berbudi luhur, dan disiplin. Hal itu dikarenakan didalam sastra terdapat gambaran kebiasaan manusia bergaul dengan kebenaran, keindahan, dan kebaikan.

E. Tahapan Pembelajaran Sastra di Sekolah Dasar

Tahapan dalam pelaksanaan proses pembelajarannya antara lain:

1. Tahap Penikmatan

Tahap ini diawali sejak masa anak umur 3-7 tahun. Anak sekolah dasar diajak menikmati atau mendengarkan cerita, puisi syair lagu, drama anak-anak. Dengan menyimak, dan menonton maka akan timbul rasa senang, gembira, puas pada diri siswa perlahan-lahan.  Sehingga akan timbul rasa cinta dan rindu terhadap karya sastra.

2. Tahap Penghargaan

Pada tahap ini anak diajak setengah aktif . bagaimana menimbulkan rasa kekaguman, misalnya menayangkan tentang tokoh yang menjadi idola atau sebaliknya. Pemberian rasa pujian bila anak dapat menjawab pertanyaan yang berupa umpan balik dari karya sastra yang baru dinikmatinya maka akan muncul rasa ingin ikut memiliki atau menguasai hasil karya tersebut, sehingga muncul rasa penghargaan terhadap karya sastra.

3. Tahap Pemahaman

pemahaman ini ditekankan pada pemahaman unsur intrisik dan ekstrinsik karya sastra, misalnya diberikan pertanyaan siapa tokoh yang baik dan yang jahat, dimana peristiwa itu terjadi, dan lain sebagainya guna mengukur tingkat pemahaman anak tentang sastra yang dibacakan.

4. Tahap Penghayatan

Pada tahap ini siswa diajak menganalisis tema dan berdiskusi tentang nilai-nilai yang terkandung dalam karya sastra tersebut, mengkritik, membandingkan antara satu karya dengan karya yang lain.

5. Tahap Implikasi

Tahap implikasi yaitu tahap dimana anak diberikan kesempatan mengimplikasikan kreatifitas dalam bidang sastra, sesuai dengan minatnya masing-masing seperti; yang suka puisi dibentuk kelompok puisi, yang suka drama dibuatkan sanggar, dan yang suka fiksi maupun cerpen diberkan pembinaan dalam bentuk ekstrakulikuler.

F. Bentuk-bentuk Sastra Anak

1. Sastra Anak SD Kelas Rendah

Sastra anak SD kelas rendah terdiri atas berbagai genre atau tipe dan dapat berbentuk lisan dan tulisan. Tipenya berbeda mulai dari lagu-lagu nina bobo, syair lagu anak, tembang dolanan, permainan huruf, buku bergambar, sampai cerita petualangan.

Di bawah ini akan dibicarakan berbagai sastra anak di kelas rendah, antara lain;

a. Syair Lagu, Nyanyian Anak

Syair lagu atau tembang tidak lain adalah puisi. Puisi yang dilagukan ini mengandung karya seni/berbagai unsur keindahanyang menggunakan bahasa sebagai media. Keindahan bahasa puisi lagu, juga lagu-lagu anak dan tembang dolanan dirasakan melalui permainan bahasa, seperti paralisme dan perulangan, baik berupa pengulangan bunyi maupun kata. Contoh puisi lagu di bawah ini;

Puk ame-ame

Belalang kupu-kupu

Siang makan nasi, kalau malam minm susu

Kedua lirik lagu di atas terbelah menjadi dua kesatuan bunyi, mirip dengan pantun. Kedua satuan bunyi pada tiap lirik memiliki polayang sama. Itulah yang disebut paralisme.

b. Puisi Tembang Dolanan

Puisi tembang dolanan mengandung makna yang berkaitan dengan adat-istiadat,  budi pekerti, sopan-santun, moral, serta unsur kejenakaan yang terkait dengan kondisi masyarakat setempat. Contoh puisi tembang dolanan gundul-gundul pacul;

Gundul-gundul pacul-cul, gemblelengan

Nyunggi-nyunggi wakul-kul, gemblelengan

Wakul glimpang segane dadi saratan

Wakul glimpang segane dadi seratan

c. Cerita Lisan

Budaya bercerita kepada anak merupakan budaya yang universal, yaitu  budaya yang turun temurun. Cerita-cerita yang disampaikan usahakan jangan cerita yang  itu-itu saja. Misalnya; cerita melalui tokoh binatang, jangan lagi kancil tetapi coba dimulai dari binatang sekitar seperti semut, perhatikan sifatnya. Apa pernah semut itu diam bermalas-malasan? Tulis contoh yang baik yang dapat ditiru anak.

Dari cerita yang diberikan , si anak dapat memperoleh berbagai pendidikan, seperti sikap, moral, perbuatan baik dan buruk. Maka dari itu guru harus mampu memilih cerita yang mengandung pesan moral, disiplin, yang dikemas dalam cerita anak dan seisa mungkin menarik.

2. Sastra Anak SD Kelas Tinggi

sastra anak SD kelas tinggi maksudnya adalah jenis-jenis karya sastra yang baik untuk siswa SD kelas IV, V, dan IV. Adapun jenis-jenisnya sebagai berikut.

a. Cerita Fiksi

Cerita fiksi merupakan cerita yang berisi misteri kehidupan yang berhubungan dengan kehidupan anak yaitu,, sesuatu yang menjadi isi ungkapan dan yang ingin disampaikan penulis kepada pembaca. Isinya terjalin dalam sebuah rangkaian alur yang menampilkan berbagai peristiwa dan tokoh yang dikemas dalam bahasa narasi dan dialog. Tokoh fiksi boleh siapa saja,namun mesti berkisar tentang kehidupan anak.

Fiksi anak mencakup beberapa aspek antara lain; emosi, moral, perasaan, dan pikiran yang dapat dipahami oleh anak-anak usia SD. Jenis-jenis fiksi anak antara lain;

a) Novel dan Cerpen

Novel dan cerpen ada persamaan dan perbedannya. Persamaanya adalah sama-sama dibangun oleh unsure intrinsik yang sama ( penokohan, alur, latar, tema, moral, sudut pandang, dll ). Perbedaan novel dan cerita terletak pada pengembangan cerita.

Cerpen bisa dibaca beberapa menit selesai. Novel tidak mungkin demikian. Novel berbicara mendetail dan panjang lebar, kaarena dapat menampilkan banyak tokoh. Cerpen tokohnya terbatas yang difokuskan pada kesan tunggal. Cerpen biasanya terbit pada satu buku sedangkan cerpen pada umumnya dimuat dalam berbagai majalah dan surat kabar.

b) Fiksi Realistik

Fiksi realistik adalah cerita yang berkisah tentang isu-isu pengalaman kehidupan anak secara nyata. Cerita fiksi realistik menampilkan model kehidupan sehari-hari seorang anak. Misalnya, bagaimana kisah kehidupan seorang anak pemulung yang berjuang untuk dapat bersekolah. Dalam cerita realistik ini berusaha menampilkan pemahaman kehidupan kepada anak-anak secara penuh dan kehidupan yang penuh problematika yang dapat dijadikan pembelajaran bagi anak.

c.)   Fiksi Fantasi

cerita fantasi adalah cerita yang dikembangkan dengan menghadirkan sebuah dunia lain di samping dunia realitas. Cerita fantasi adalah cerita yang menampilkan tokoh, alur, karakter, dan lainnya yang kebenarannya diragukan, baik seluruh cerita maupun hanya sebagian cerita. Kebenaran disini yang dikaitkan dengan logika realitas sebagaimana halnya yang terjadi dalam kehidupan nyata. Misalnya adalah tokoh manusia yang bias terbang, bicara dengan binatang, dan tumbuhan, atau melakukan hal-hal tertentu yang luar biasa di luar jangkauan nalar manusia. Misalnya; andi dan prajurit semut

d.) Fiksi Historis

Fiksi historis merupakan sebuah cerita yang mengungkapkan tentang peristiwa-peristiwa yang luar biasa atau gambaran yang bersifat historis atau gambaran tentang kehidupan masa lalu. Dalam cerita ini disajikan fakta sejarah yang diramu dengan imajinasi. Cerita fiksi historis haruslah didukung oleh penggambaran latar yang secara tepat dan meyakinkan sesuai dengan perkembangan kebudayaan yang ada. Misalnya; cerita Pangeran Diponegoro ( Raden Mas Antawirya ), maka pakaian dan perlengkapannya harus disesuaikan dengan Pangeran Diponegoro yang sebenarnya.

e.) Komik Sastra Anak

komik adalah cerita yang bertekanan pada gerak dan tindakan yang ditampilkan lewat urutan gambar yang dibuat secara khas dengan paduan kata-kata. Seluruh teks dalam komik disusun sesuai hubungan gambar. Kata-kata berfungsi untuk menjelaskan, melengkapi, memperdalam penyampaian gambar, dan teks secara keseluruhan. Tulisan yang berupa kata-kata biasanya ditulis dalam bentuk balon-balon yang dikreasi sedemikian rupa sehingga serasi dengan gambar-gambar. Balon-balon tersebut dapat berupa ujaran, pikiran/perasaan tokoh, namun dapat pula berisi tentang deskripsi singkat tentang sesuatu.

(PGMI/IV/UTS/IAIN SALATIGA)

VIDEO PILIHAN