Mohon tunggu...
Mahbubah mahmud
Mahbubah mahmud Mohon Tunggu... Penulis - Petualang literasi

Seseorang yang ingin terus belajar dan belajar.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cinta Luruh

30 September 2020   10:17 Diperbarui: 30 September 2020   10:25 128
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

"Terima kasih sudah mau menemani bunda. Hati-hati di jalan," jawabku seraya menarik tangan. Namun hatiku enggan melepasnya. 

Dia mundur selangkah. Lalu mengucap lagi sebelum pergi. "Nunu sayang Bunda." 

Aku menutup pintu. Menata hati dan pikiran. Haruskah aku jatuh cinta pada laki-laki yang lebih pantas menjadi anakku? 

*** 

Setelah hari itu hubunganku dan Anugrah semakin dekat. Aku membantunya mencari beasiswa di Universitas. Tiga tahun hubungan kami berjalan baik. 

Aku semakin menyayanginya demikian juga dia terhadapku. Cinta membuat segala keindahan berkelindan. Tanpa memandang usia yang terpaut delapan belas tahun. Kesibukannya mengajar dan menulis lepas di beberapa media online membuatku selalu menunda pertemuan dengan keluarganya. Padahal aku ingin sekali bertemu dan mengenal lebih dekat. Meski kutahu, hubungan kami akan banyak mendapat tentangan. 

Disamping sibuk, aku juga harus menyiapkan diri dan mental untuk menerima hal terburuk. Penolakan misalnya. Aku belum siap. 

Hari itu Anugrah telah menyelesaikan pendidikan diplomanya. Aku diminta hadir di acara wisuda. Aku hadir, tetapi tidak ikut masuk ke dalam gedung di mana prosesi dilakukan. Kukirim pesan lewat HP bahwa aku menunggu di belakang. Belum siap bertemu dengan keluarganya. 

Beberapa jam sudah berlalu. Satu-persatu para undangan keluar gedung aula. Aku masih menunggu hingga hampir semua orang pulang. Tempat acara mulai sepi. Kulihat seorang wisudawan keluar masih memakai ... lengkap dengan toga. Di sampingnya berjalan seorang wanita berusia sekitar lima puluh tahunan yang tidak asing bagiku. Dia menatapku sejenak lalu menyalamiku. Matanya berkaca-kaca. Aku mulai setengah sadar apa yang terjadi. Dia juga. Mendadak perempuan itu menubrukku. Memeluk erat sambil menangis. 

*** 

Cerita dua puluh tiga tahun lalu bergulir. Saat itu aku masih sekolah SMA. Di usia yang masih labil aku berpacaran dengan kakak kelas bernama Reno. Sebenarnya aku anak baik, ceria, dan rajin. Sayangnya Reno telah mengubah semuanya. Suatu hari ia mengajakku ke rumahnya. Katanya mau dikenalkan dengan kedua orang-tuanya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun