Mama Totik
Mama Totik Wirausaha

Coffee - Books - Food - Movie - Music - Interior - Art - Special Parenting and #SayNoToMiras www.coffeloverstory.wordpress

Selanjutnya

Tutup

Gayahidup

Humor Kunci Kehangatan Keluargaku

11 Maret 2018   19:51 Diperbarui: 11 Maret 2018   19:52 681 1 0
Humor Kunci Kehangatan Keluargaku
Ilustrasi Cooking Mom Sumber : stockfresh.com

Saya dan suami sudah 20 tahun membina rumah tangga. Dan kami memulainya tanpa banyak belajar dari teori. Semua dijalani dengan natural saja. Satu hal yang saya tahu pasti adalah, kami punya sifat sama, humoris. Bagi kami tiada hari tanpa tertawa. Humorlah yang menumbuhkan kehangatan keluarga kami. Bayangkan, saya dan suami sama-sama type sensitif lho. Kalau saja kami tidak humoris, isinya bakal bertengkar dan berdebat terus.

Bagaimana humor bisa menimbulkan kehangatan keluarga ? Berikut kisah-kisah nyata kami yang mungkin bisa menginspirasi anda pentingnya humor bagi kehangatan keluarga

H-1 Lebaran 2015

Sehari menjelang Lebaran, saya , suami & Totik masih disibukkan dengan berbagai urusan. Yang pertama tentu saja urusan memasak hidangan lebaran. Bagi saya yang tidak pintar masak, menyiapkan opor ayam, ketupat, sambal goreng hati, bistik jawa tentu bukan hal mudah. Semua harus saya kerjakan sendiri, karena kami memang tidak memakai jasa PRT. Itu baru urusan masak.

Belum lagi menyiapkan perlengkapan untuk sholat Ied besok. Mulai dari baju yang akan dipakai, perlengkapan sholat, tikar hingga amplop berisi uang untuk infaq. Untung Totik sudah biasa membantu. Sambil mengaduk sambal goreng saya teriak dari dapur

"Totik jangan lupa, siapkan dua tas, masukkan 2 tikar lipat ke dalamnya. Amplop infaq jangan lupa." 

Dan sederet lagi perintah saya teriakkan. Totik mondar mandir melakukan yang saya perintah. Belum selesai, suami saya teriak "Ayo survey tempat sholat dulu...keburu kemaleman". Maka saya dan Totik meninggalkan apa yang kami kerjakan. Biarlah, sepulang survey toh saya bisa lanjutkan masak.

Muter-muterlah kami meninjau semua tempat sholat Ied yang memungkinkan. Kami memang punya kebiasaan berpindah-pindah tempat, sekedar untuk merasakan pengalaman baru.

"Jangan di Simpang Lima, jalan ke parkir mobil jauh bangeeet"

"Nggaklah kalau di halaman museum itu...terlalu crowded karena tempatnya kecil"

Begitulah. Yang itu kayaknya terlalu rame jemaah, yang itu terlalu masuk perumahan jadi sepi, yang ini kurang itu dst. Terlalu banyak usul dan kritik sehingga akhirnya jam 10 malam baru kami menemui kata sepakat.

Sesampai di rumah, masing-masing kami melanjutkan pekerjaan. Saya masak, suami bersih-bersih, Totik lanjut menyiapkan perlengkapan.

Tengah malam suami saya menegur,"Sudahlah nggak perlu memaksakan diri. Masak kan bisa dilanjut besok." Saya ngeyel, keukeuh tetap masak. Ah setahun sekali ini, pikir saya. Nggak papalah lembur, yang penting semua beres. Meski tulang punggung rasanya kayak mau patah. Jam satu dini hari barulah semua selesai....sayapun mandi dan segera terlelap.

Esok harinya.....

"Aaaaaaahhhhh !!!"

Ilustrasi Panic Mom Sumber : laoblogger.com
Ilustrasi Panic Mom Sumber : laoblogger.com
Jeritan menggema di rumah saya. Itu jeritan saya, sangat tidak merdu, bikin jantungan. Bagaimana tidak ? Kami bertiga bangun kesiangan ! Jam sudah menunjukkan pukul 08.00 ! Matahari sudah sangat tinggi. Hulala ! Totik pun lari-lari memasukkan tas-tas  ke mobil, dan saya mandi dengan kecepatan super kilat. Panik atack ! Kepanikan baru berakhir ketika suami dengan tegas bilang,"Sudah telat...nggak mungkin lagi nyusul"

Dan....kami bertiga-pun terduduk lemas di sofa dengan lesu. Sia-sia sudah semua persiapan sehari sebelumnya.  Akhirnya hari itu kami harus gelagapan setiap kali ditanya mertua, saudara atau teman, "Sholat Ied di mana tadi ?" Anuuuuu....anuuu...

Dan setiap jelang lebaran, kami  kembali ngakak jika mengingat kekonyolan kami itu. Pantes kalau ada yang menjuluki kami keluarga ndolop. Ndolop bahasa Semarangan, artinya oon. Tapi humor seperti inilah yang membuat kehangatan keluarga selalu ada. Peristiwa ini baru berani saya ceritakan ke keluarga dan teman setelah bertahun-tahun berlalu. Qiqiqi..biar ndolop, kami perlu pencitraan juga dong.

Lewat tangga atau ramp ?

Ilustrasi ramp dan tangga Sumber : https://ask.metafilter.com
Ilustrasi ramp dan tangga Sumber : https://ask.metafilter.com
Setiap tahun kami sekeluarga selalu menyempatkan diri berkunjung ke Gembira Loka. Ini sudah seperti agenda wajib, karena Totik, anak saya semata wayang, sangat menyukai binatang. Jadilah saya dan suami mengikuti Totik menjelajahi setiap inci kebun binatang, mengabsen para penghuninya.

Yang paling membuat capek adalah ketika sampai di jalan setapak jalur keluar, tepatnya setelah patung raksasa (semacam dinosaurus). Jalanannya menanjak cukup tinggi. Ngos-ngosan nafas dibuatnya. Tapi apa boleh buat. Masak iya sih minta ditandu kayak ratu ? 

Jalan setapak itu dibuat menjadi dua bagian, satu bagian berupa anak-anak tangga. Dan satu bagian berupa ramp ( jalanan miring ). Saya selalu memilih anak tangga. Sambil mengatur nafas, saya menegur suami saya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4