Mama Totik
Mama Totik Wirausaha

Coffee - Books - Food - Movie - Music - Interior - Art - Special Parenting and #SayNoToMiras www.coffeloverstory.wordpress

Selanjutnya

Tutup

Hiburan Artikel Utama

Comifuro X, Ajang Unjuk Sejuta Bakat Para Fans Anime Jepang

8 Maret 2018   11:45 Diperbarui: 8 Maret 2018   21:28 1136 0 0
Comifuro X, Ajang Unjuk Sejuta Bakat Para Fans Anime Jepang
Comifuro X official poster Sumber : Dokpri

Dosen-dosem anak saya lagi baik hati dengan memberi ekstra 2 hari libur Kamis Jumat, 1 dan 2 Maret 2019 untuk keperluan workshop mereka. Yes! Itu artinya libur akhir pekan yg panjaaang. Maka Jumat dini hari kami pun berangkat ke Jakarta. Salah satu agenda Reyhan aka Totik, anak saya, adalah mendatangi event Comifuro X di hari Sabtu dan Minggu (3 & 4 Maret 2018).

Apa itu Comifuro?

Dari keterangan Totik, Comifuro, yang merupakan akronim dari Comic Frontier, ternyata itu adalah event tempat bertemunya para penggemar anime Jepang yang dikemas berbentuk eksibisi atau pameran. Ada bazaar, lomba cosplay, dll.

Event serupa sering saya jumpai di kota saya, Semarang, dengan berbagai nama. Orenji misalnya, setiap tahun diselenggarakan FIB Jepang Undip. Ada juga J-Soul diselenggarakan SMA 3 Semarang. Sdh beberapa kali saya menemani Totik ke event serupa di Semarang, kota kami. Sejauh ini cukup menariklah. Jadi kali inipun saya iyakan saja usulnya.

Dan Sabtu jam 10 pagi itupun kami sudah sampai di Balai Kartini, Jalan Gatot Subroto, Jakarta. Diantar oleh abang Grabcar yang baik hati dan tidak sombong. Hehe.

Halaman Kartika Expo

Begitu tiba, di halaman Kartika Expo sudah ada stand-stand penjual makanan. Tak terlalu banyak. Kira-kira cuma 20-an stand. Di halaman juga tidak terlalu banyak pengunjung. Yang dijual jenis makanan anak-anak zaman sekarang seperti sosis, kentang, pizza, rice box curry, es krim, juice dll. (Hmmm....kok nggak ada yg jual bakso atau mie goreng atau nasgor ya seperti di Orenji?)

Dan mirip di Semarang, Comifuro ini kayaknya juga tidak terlalu banyak pengunjung, pikir saya. Halaman sepi.

Antre tiket juga sangat laaaancar. Cuma perlu beberapa menit saya sudah dapat tiket 2 lembar seharga Rp30.000/ lembar. Tiketnya berbentuk kertas panjang. Oleh panitia kertas itu kemudian dibuat jadi gelang di tangan. Panitia menjelaskan bahwa selama gelang itu nempel, kita boleh keluar masuk ruang pameran. Jadi kalau mau ke toilet, atau jajan di halaman, tidak berarti kita nggak bisa masuk lagi. Baiklah...cukup bijaksana.

Nah begini bentuk tiketnya Sumber : Dokpri
Nah begini bentuk tiketnya Sumber : Dokpri

Di depan hall expo, ada deretan meja panitia menjual goodie bag, roti, dan minuman.

Goodie Bag & Poster resmi Comifuro Sumber : Dokpri
Goodie Bag & Poster resmi Comifuro Sumber : Dokpri

Nah foto di atas adalah penampakan goodies bag-nya. Satu tas kertas Comifuro X Official dan satu lembar poster Comifuro Official seharga Rp35.000. Gambarnya apik.

Ada juga tempat nitip tas, bayar Rp10.000/pengunjung. Yang nitip rata-rata adalah mereka yang dandan cosplay. Karena nggak mungkin bawa tas isi kosmetik dan baju-baju ke dalam...berat kan. Saya dan Totik nggak nitip, karena cuma bawa tas ringan.

Di sana sini beberapa panitia acara yg rata-rata remaja chubby berusia belasan tahun berpostur subur, dengan sigap mempersilakan pengunjung masuk ke hall pameran. Begitu mendekati pintu hall, udara dingin AC langsung menyergap. Lumayan...artinya kami kami nggak bakal kepanasan.

Daaaan..... pengunjungnyaaa.....

Astaganaga! Hall Kartika Expo berukuran besar yang di luar sepi itu, ternyata di dalam...woooow...ruameeee bangeeeet dengan pengunjung. Saya sempat shock melihatnya. Mungkin ada kali seribu pengunjung dan seratusan stand ada di dalam. Banyaaak sekali! Saya serasa ada di stadion sepak bola.

Hall yang luas penuh dengan stand dan pengunjung Sumber : dokpri
Hall yang luas penuh dengan stand dan pengunjung Sumber : dokpri
Jumlah stand dan pengunjung sama banyak Sumber : Dokpri
Jumlah stand dan pengunjung sama banyak Sumber : Dokpri
Pemilik stand dan pengunjung semuanya remaja Sumber : Dokpri
Pemilik stand dan pengunjung semuanya remaja Sumber : Dokpri
Kerumunan raksasa dilihat dari lantai 2 Sumber : Dokpri
Kerumunan raksasa dilihat dari lantai 2 Sumber : Dokpri
Panggung utama Sumber : Dokpri
Panggung utama Sumber : Dokpri
Yg capek gelosoran di sembarang tempat jua nggak masalah Sumber : Dokpri
Yg capek gelosoran di sembarang tempat jua nggak masalah Sumber : Dokpri
Lantai 2 untuk kumpul komunitas pun penuh Sumber : Dokpri
Lantai 2 untuk kumpul komunitas pun penuh Sumber : Dokpri

Anak saya langsung berpamitan untuk keliling pameran. Tentu saja setelah "merampok" sebagian isi dompet saya untuk belanja. Totik pun meninggalkan saya..... yang masih terkaget-kaget. Kiri kanan depan belakang berseliweran pengunjung yang rata-rata remaja. Hadeeh...cuma saya sepertinya pengunjung emak-emak. Bagaimana ini. Aneh rasanya jika saya juga ikut jalan-jalan keliling.

Panggung bebas unjuk bakat

Duet penyanyi Sumber : Dokpri
Duet penyanyi Sumber : Dokpri

Akhirnya karena saya nggak mungkin tsiiiing....menghilang di udara, maka dengan modal tebal muka saya menuju ke deretan kursi di depan panggung utama. Duduklah saya di situ, berbaur dengan para penonton yang seusia anak saya. Aman deh.

Di panggung sudah tampak 2 remaja laki-laki usia anak SMP sedang menyanyikan lagu J-Pop (Japan Pop). Lagunya menghentak dengan beat ala EDM dan berirama cepat. Qiqiqi...biar emak-emak, saya masih ngikutilah kalau soal tren lagu. Di rumah saya biasa masak diiringi Marshmello qiqiqi...bikin rasa masakan lebih enak lho. Coba saja deh kalau nggak percaya.

Balik ke penyanyi, mereka dg fasih menyanyikan lagu itu lengkap dengan gayanya yg kocak. Sesekali mereka mantengin layar HP untuk membaca lirik lagu. Tapi secara keseluruhan mereka hafal sekali. Dasar ya anak sekarang...kalau pelajaran saja sulit hafal, giliran lagu berbahasa Jepun yang njlimet bisa luar kepala.

Suara mereka pas-pasan. Penampilan juga aduh...cupu banget.

Nah tapi....saya terkesima dengan reaksi para penonton. Mereka seperti nggak peduli dengan penampilan atau kualitas suara penampil, bahkan ikut jingkrak-jingkrak nyanyi bersama mereka. Bukan cuma yang di depan panggung, yg sedang nonton pameranpun sesekali ikut berteriak nyanyi. Jadinya terdengar seperti ada koor di sana sini.

Peserta berikutnya remaja perempuan dengan suara dan penampilan yang tidak lebih baik dari sebelumnya. Tapi....lagi....penonton ikut joget joget, dan memberi applause yang super meriah.

Dari situ akhirnya saya sadar. Panggung ini bukan sekedar ajang kontes ala idol, yang kalau nyanyi fals dikit saja juri bisa kritik panjang kali lebar kali tinggi (padahal suara juri kadang lebih parah dari peserta). Tapi panggung ini adalah panggung komunitas. Tempat mereka yg punya kesamaan minat menyalurkan diri. Siapa saja boleh. Mau nyanyi sebagus apa sejelek apa tidak ada yang peduli. Applaus meriah tetap antusias diberikan. Singkatnya, di sini mereka bahagia bersama.

Review karya di panggung
Di panggung sesekali MC mengumumkan, "Kalian yang ingin hasil karyanya direview silakan daftar". Oh baru saya tahu, ternyata panggung itu bukan cuma untuk nyanyi. Tapi juga untuk pamer hasil karya. Apa saja?

Pembuat Game


Saya makin kagum waktu tahu bahwa anak-anak muda ini ada yg presentasi game karya mereka sendiri. Salah satunya game board, sejenis game kartu, dengan nama Character Cross. Game itu dikembangkan dan didistribusikan oleh DoujinDalamBotol. Qiqiqi....saya ketawa baca namanya. Nama yang lucu ini sepertinya menggambarkan pembuatnya, 2 remaja laki-laki, gendut berkacamata dan selalu tertawa gembira. Dari penampilan mereka, saya taksir usianya masih seputar 20-an tahun.

Uji coba game Character Cross langsung di panggung Sumber : Dokpri
Uji coba game Character Cross langsung di panggung Sumber : Dokpri

Nah ini dia Character Cross game set Sumber : Dokpri
Nah ini dia Character Cross game set Sumber : Dokpri

Nggak gampang lho bikin game ini. Karena harus memulai dari penciptaan karakter-karakter nya, kekurangan dan kelebihan karakter, alur cerita, aturan main hingga produksi ditangani langsung. Satu set dijual seharga Rp125.000 dan bisa pula dibeli di Tokopedia. Peminatnya? Yaelah....laris manis bak kacang goreng. Nggak kebayang deh betapa besar pemasukan "jin botol" ini. Bukan main.

Game rupanya memang punya pangsa pasar cukup besar di Indonesia ini.

Foto bersama usai uji coba game, pembuatnya di paling kiri dan berkaos hijau Sumber : Dokpri
Foto bersama usai uji coba game, pembuatnya di paling kiri dan berkaos hijau Sumber : Dokpri

Waktu ditanya kenapa bikin versi board bukan game digital? Jawabnya simpel. Bisa dimainkan kapan saja di mana saja tanpa gadget. Cerdas. Nggak perlu alat atau gadget apapun, cukup set mainan ini. Mirip kartu remi. Ortu mereka mestinya bangga punya anak-anak kreatif begini.

Game kedua yang saya lihat dipresentasikan adalah game online berbasis android dari Megaxus. Tapi bisa juga dimainkan di PC. IMO tidak terlalu menarik karena nyaris sama dengan game dancing di Timezone. Tp tetap salut lah. Hasil karya anak Indonesia sendiri gitu lho.

Stand Megaxus Sumber : Dokpri
Stand Megaxus Sumber : Dokpri

Penulis Novel

Di atas panggung kemudian tampil seorang remaja putri dengan kostum unik ala Sailormoon, serba putih, dengan sayap putih dan ekor putih. Saya pikir semula dia peserta cosplay. Ternyata cewek ini penulis novel manga. Dia mempresentasikan novel perdananya, judulnya lupa karena terlalu rumit diingat. Kostum yang dia pakai adalah kostum sesuai salah satu karakter dari novelnya. Kreatif dan sangat pede. Pengunjung tetap memberi applause meriah.

Asisten 101

Selain menampilkan berbagai bakat, ada juga hal menarik yang ditampilkan. Yakni sharing tentang profesi menjadi asisten seorang komikus. Dipaparkan berbagai hal yang harus diketahui seorang calon asisten. Mulai dari keahlian yang diperlukan, cara dapat order hingga besaran penghasilan yang didapatkan. 

Presentasi tentang profesi Asisten Komikus Sumber : Dokpri
Presentasi tentang profesi Asisten Komikus Sumber : Dokpri

Secara garis besar, menjadi asisten komikus di Indonesia masih belum bisa menjadi sumber penghasilan untuk hidup layak. Menjadi asisten komikus lebih pas dijalankan sebagai sambilan untuk menyalurkan hobby dan bakat.

Sayang memang, karena profesi serupa di negara lain bisa membuat seseorang jadi kaya raya. Tapi seiring dengan waktu, sama seperti profesi animator digital, saya yakin ke depan prospeknya akan makin baik.

Pengunjung Comifuro

Bosan duduk, saya pun berjalan keliling. Cuek sajalah, anggap ini kunjungan generasi tua hehehe

Oke, saya pingin cermati soal pengunjungnya sekarang.

Seperti apa mereka?
Dari yang saya amati, kalian tidak akan melihat remaja ala Milea dan Dilan di sini. Atau remaja-remaja ala sinetron dengan dandanan necis dan tampang cantik ganteng berdarah Indo.

Yang dominan di sini adalah para remaja berkacamata, berbaju kasual dengan berat badan mungkin 100 s/d 200 kilo...wow. Tahu para remaja cupu berbagai rupa yang kalau di sinetron sering jadi bahan bully karena penampilan aneh atau kuper? Di sini semua model ada. Yang super cungkring, yang super lebar, yg gigi tonggos, yg kribo jadul dll. Semua ada. Nggak bermaksud menilai secara fisik tetapi itulah faktanya. Bukan berarti semua begitu ya...tapi itulah adanya.

Tentu ini terkait erat dengan kesukaan mereka, anime, baik berupa film, game maupun komik, yg tidak menyita aktivitas fisik, melainkan duduk gelosoran di sofa sambil ngegame atau baca komik ditemani berbagai cemilan. 

Latar belakang ekonomi?
Latar ekonomi mereka juga beragam. Dari yang bicara bisik-bisik ke temannya dan sempat saya kuping "Eh kemarin waktu di Jerman gue lihat komik judulnya ini...." pakai sepatu Adidas NMD R1 yg konon harganya 20 juta lebih sepasang (dari penampakannya sih yakin asli) sampai yg duduk di lantai dan merapikan lembar-lembar uang dua ribuan di dompet (isi dompetnya saya lirik semua receh begitu), semua ada. Artinya semua lapis ekonomi ada di sini.

Tapi hati saya tersentuh melihat mereka. Semua nampak berbaur dan saling menyapa, nggak ada yg merasa sok kaya, sok populer, dll. Ramah-ramah dan sopan lagi. Waktu tas saya kesenggol, mereka spontan bilang, "Maaf...maaf". Aduh, saya sampai kaget. Jarang-jarang yg begini kan. Dan ini bukan satu dua kali saja lho terjadi. Tahu saya motret-motret, mereka nggak pernah langsung lewat lho...tapi nunggu selesai, atau lewat di belakang saya. Kalau ada yg nggak lihat dan nyaris nyelonong, selalu ada temannya yg nahan, eeeit...tunggu. Keren nggak sih. Kok beda banget dengan yang suka nongkrong di mal....merasa udah kayak paling hebring euy.

Dari mana?
Event ini sudah 10 kali diselenggarakan dan dapat animo cukup besar. Pengunjung datang dari seantero Nusantara khususnya Jawa. Saya melihat remaja putri dengan kostum Jepang hilir mudik membawa papan bertuliskan "Malang United"...dia mengajak yang dari Malang ngumpul. Ada yang dari Yogya, Bandung, Bogor dll.

Di panggung tadi saya sempat melihat penampilan 2 remaja, menyanyikan lagu berjudul Tahu Sumedang. Qiqiqi. Pas selesai nyanyi dia berteriak "Mana yang dari Kuningan???"

Penyanyi
Penyanyi

Disiplin
Sesekali pasti saya harus ke kamar mandi dong. Lokasinya di basement. Dan lagi-lagi terharu nih...pengunjung remaja ini antre dengan sangat tertib. Nggak ada yang nyuruh atau mengawasi lho. Bukan cuma ke kamar mandi, antre pemeriksaan barang saat keluar pun meskipun panjangnya mengular, bisa berjalan tertib. Nggak ada tuh panitia harus teriak-teriak mengingatkan.

Sampah?
Di Indonesia ini kan lagi tren semua dibalik-balik ya. Yg pakai narkoba, jadi duta narkoba. Yang nggak hafal Pancasila, jadi duta Pancasila. Nah kalau ada pemilihan Duta Sampah, saya rasa nggak ada pengunjung Comifuro X ini yang terpilih. Mau bagaimana lagi? Everything is clean here! Meskipun jumlah tempat sampah terbatas, nggak ada tuh anak buang sampah sembarangan di sini. Stand makanan di luar juga bersih dari sampah. Waduh...penampilan boleh cupu tapi attitude keren.

Eksibisi di Comifuro X

Nah sekarang bicara soal pamerannya sendiri. Apa isinya ? Sebelum berangkat, Totik sempat kasih penjelasan singkat sama saya tentang ini. Menurut dia, semua yang dipamerkan harus karya sendiri. Wuih...keren ya. Tidak boleh download dari internet apalagi njiplak. Apapun boleh dipamerkan, asal karya sendiri dan masih berkaitan dengan anime Jepang.

Denger-denger, sewa stand di sini berkisar 4 s/d 5 juta untuk 2 hari. Untuk ukuran event sebesar ini termasuk murah. Apa yang dipamerkan dan dijual? Macam-macam. Mulai dari gantungan kunci, bros, poster, buku novel, komik, poster, bantal tidur, kaos, kalender, buku tulis, alat dan kertas gambar, CD game, CD Music, stand game, stand kursus lukis manga, kursus bahasa Jepang, stiker, dll. Semua karya sendiri. Dan semuanya bagus-bagus, sudah seperti buatan disainer luar negeri. Yuk simak foto-fotonya.

Pernak pernik ganci, kartu, sticker dll Sumber : Dokpri
Pernak pernik ganci, kartu, sticker dll Sumber : Dokpri

Deretan kartu gambar itu cetak printer tapi hasil karya sendiri Sumber : Dokpri
Deretan kartu gambar itu cetak printer tapi hasil karya sendiri Sumber : Dokpri

Semua lucu dan cantik Sumber : Dokpri
Semua lucu dan cantik Sumber : Dokpri

Harga sesuai kantong remaja Sumber : Dokpri
Harga sesuai kantong remaja Sumber : Dokpri

Gambar kreasinya nggak kalah dengan anime creator luar negeri Sumber : Dokpri
Gambar kreasinya nggak kalah dengan anime creator luar negeri Sumber : Dokpri

Ada juga yg jual topi Sumber : Dokpri
Ada juga yg jual topi Sumber : Dokpri

Stand XP Pen

Ada satu jenis stand yang menarik perhatian saya, yakni stand menjual board dan stylus untuk membuat animasi. Board ini dihubungkan dengan laptop dan pemakai bisa dengan mudah menggambar dengan pena stylus yang digerakkan di board. Untuk versi mahal, board berfungsi juga sebagai monitor. Mirip Galaxy dan stylus tapi dengan ukuran besar. Jadi enak di mata.

Nampak seorang pengunjung sedang mencoba XP-Pen Sumber : Dokpri
Nampak seorang pengunjung sedang mencoba XP-Pen Sumber : Dokpri

Stand Lukisan Tangan

Stand yang paling bikin saya berdecak kagum adalah stand yang menjual lukisan buatan tangan langsung! Heran banget melihat mereka dengan piawai membuat sketsa, lalu mewarnai dengan cat air, tinta atau spidol. Ada yang menggambar berdasarkan contoh di hape, ada yang berdasarkan pesanan pengunjung, ada yang sketsa langsung. Semua karya mereka bagus bagus....bikin hati terharu.

Salah satu kreator lukisan tangan Sumber : Dokpri
Salah satu kreator lukisan tangan Sumber : Dokpri

Asyik melukis dengan cat air Sumber : Dokpri
Asyik melukis dengan cat air Sumber : Dokpri

Tekun meniru anime dari gambar di hp ke kertas Sumber : Dokpri
Tekun meniru anime dari gambar di hp ke kertas Sumber : Dokpri

Pada hari kedua event, saya dapat info ada pelukis tangan yang luar biasa. Maka saya telusuri stand-stand dan....ketemu! Ini dia

Berdua mereka tekun menggambar dengan drawing pen dan pensil Sumber : Dokrpi
Berdua mereka tekun menggambar dengan drawing pen dan pensil Sumber : Dokrpi

Saya nggak berani ajak ngobrol karena dia dan temannya sedang nampak sibuk banget gambar. Gambarnya semua hitam putih. Dia bilang sudah nggak terima order untuk hari itu, kalau mau pesen lewat instagram saja. Dari kartu namanya tertera nama dia, Tom Jordan.

Di depannya ada beberapa gambar yang sudah jadi. Cakeeep banget. Begitu detail.
"Ini pesanan orang?"
"Nggak bu...silakan kalau mau."
"Berapa satunya?"
"Dua puluh ribu"

Haaaah ? Saya sampai ternganga. Ya ampun nak....segitu sulitnya bikin kok kamu jual murah amat. Tapi kemudian saya ingat...oh iya, ini event komunitas. Pengunjung kan kelas remaja jadi hargapun harus bersahabat. Maka saya beli beberapa karyanya dan meminta izn motret dia. Dia menyambut dengan senyum ramah. Good luck ya Tom , semoga kelak jadi ilustrator atau pembuat anime kelas dunia. 

Ini dia karya Tom Jordan Sumber : Dokpri
Ini dia karya Tom Jordan Sumber : Dokpri

Dan ini dia Tom Jordan, sang kreator Sumber : Dokpri
Dan ini dia Tom Jordan, sang kreator Sumber : Dokpri

DJ Booth

Saat di dalam hall Kartika Expo ini riuh ramai dengan pengunjung stand dan penonton acara panggung, di teras hall ada sebuah stand yang menyedot perhatian pengunjung. Yakni stand DJ. Di sini ada beberapa remaja bertindak selaku DJ. Dia akan memutarkan lagu sesuai pesanan penonton tentu dengan remix ala DJ. Meriah sekali, penonton berjingkrak-jingkrak menari. Di hari kedua, saya sempat melihat seorang ibu seusia saya, merekam dengan video handphone (hhari ke-2 pengunjung zaman old lumayanlah). Rupanya anaknya sedang jadi DJ.

Para DJ remaja ini trampil bikin meriah suasana Sumber : Dokpri
Para DJ remaja ini trampil bikin meriah suasana Sumber : Dokpri

Cosplayer

Event yang kental dengan Japan culture begini tentu tak bisa lepas dari para cosplayer dan berbagai kostum uniknya. Saya tidak membatasi pada mereka yang serius meniru karakter anime tapi juga semua yang berkostum unik.

Inilah beberapa yang berhasil saya dokumentasikan. Itu juga setelah menyingkirkan rasa malu minta izin motret, emak-emak gitu loh. Hahaha.

Marshmello KW hehe Sumber : Dokpri
Marshmello KW hehe Sumber : Dokpri

Ini pengunjung dg kostum unik pertama yang saya foto. Tau kenapa? Karena meniru gaya Marshmello hahaha..kreatif. Hanya bermodal kardus bekas. Sebenarnya ada yang lebih mirip Marsmello dengan tutup kepala bentuk tabung bukan kubus, tapi anaknya lari sana-sini, sulit nangkepnya.

Hoodie, wig, sepatu boot, topeng bahkan helm jd piranti cosplayer Sumber : Dokpri
Hoodie, wig, sepatu boot, topeng bahkan helm jd piranti cosplayer Sumber : Dokpri

Cosplayer Sumber : Dokpri
Cosplayer Sumber : Dokpri

Cosplayer Sumber : Dokpri
Cosplayer Sumber : Dokpri

Cosplayer Sumber : Dokpri
Cosplayer Sumber : Dokpri

Cosplayer Sumber : Dokpri
Cosplayer Sumber : Dokpri

Cosplayer Sumber : Dokpri
Cosplayer Sumber : Dokpri

Cosplayer Sumber : Dokpri
Cosplayer Sumber : Dokpri

Namanya juga remaja, adaaaa saja kreativitasnya. Ada grup sekitar 5 orang remaja putra, dengan bodi "raksasa", memakai kostum sniper lengkap dengan senapan mainan laras panjang, jalan beriringan, mengelilingi area stand-stand, seolah-olah sedang mencari penjahat. Sayang nggak sempat saya potret karena makin siang pengunjung makin ruaaame.

Ada juga 2 remaja, lagi-lagi cowok dan lagi-lagi berbodi subur, memanggul music player dan speaker portable, keliling hall, lucu sekali. Karena lagu yang diputar bukan lagu J-pop atau anime tapi lagu-lagu yang biasa dinyanyikan orang ngamen.

Saya melihat event ini betul-betul membuat member bebas mengeskpresikan diri.

Di mana Cosplayer itu berdandan ? Mereka dandan sendiri atau dibantu teman di ruang basement dekat tangga. Untuk berganti pakaian disediakan ruangan oleh panitia.

Tempat berias para cosplayer, seadanya Sumber : Dokpri
Tempat berias para cosplayer, seadanya Sumber : Dokpri

Photobooth

Untuk foto kenang-kenangan, panitia menyediakan photobooth official di mana pengunjung bisa berfoto dengan latar belakang gambar resmi Comifuro X.

Sekelompok remaja berfoto di photobooth resmi Sumber : Dokpri
Sekelompok remaja berfoto di photobooth resmi Sumber : Dokpri

Kelompok girlband Juice di photobooth Sumber Dokpri
Kelompok girlband Juice di photobooth Sumber Dokpri

Ada juga photobooth dari Comico, sebuah penyedia aplikasi komik yang dijual di Playstore. Aplikasi ini memberi kemudahan pengguna meng-upload komik hasil karyanya. Mereka malahan menyelenggarakan lomba berhadiah ke Jepang.

Reyhan aka Totik lagi berfoto di Comico Sumber : Dokpri
Reyhan aka Totik lagi berfoto di Comico Sumber : Dokpri

Hasil Hunting Comifuro X

Apa saja yang dicari Totik di hari pertama? Ini dia

Majalah ilustrasi keren dan novel anime Sumber : Dokpri
Majalah ilustrasi keren dan novel anime Sumber : Dokpri

Poster, ganci, bros, buku gambar Sumber : Dokpri
Poster, ganci, bros, buku gambar Sumber : Dokpri

Lukisan tangan karya Shouyou Sumber : Dokpri
Lukisan tangan karya Shouyou Sumber : Dokpri

Sketsa tangan dengan pensil Sumber : Dokpri
Sketsa tangan dengan pensil Sumber : Dokpri

Masih banyak lagi sebenarnya yang dia dapat, terutama di hari ke 2. Tapi cukuplah ini mewakili.

Free Stuff alias Gratisan

Bagaimana dengan pengunjung yang tak punya banyak uang? Boleh percaya boleh tidak...tapi di event ini banyaaaak banget free stuff alias barang gratisan, terutama hari kedua. Mulai dari yang diedarkan di atas baki sambil teriak-teriak "Mari silakan ambil...silakan ambil, gratis" sampai yang dipajang di stand dengan tulisan "Ayo ringankan barang bawaan gue pas pulang". Stiker, ganci, karrtu, poster, semua ada. Tinggal keliling saja nyari. Saya duga, modal mereka sudah kembali dan tinggal ngabisin stok.

Secara keseluruhan, saya menilai Comifuro X ini berjalan dengan sangat baik dan memberi banyak manfaat positif antara lain:

  1. Bisa memberi kegembiraan pada para pengunjung.
  2. Memperluas pertemanan
  3. Mewadahi bakat dan kreativitas di berbagai bidang 
  4. Menjadi tempat belajar berwirausaha sejak dini. 

Mereka ini meskipun terbilang sangat muda, tapi jiwa wirausahanya luar biasa lho.

Bayangkan, bikin disain sendiri, cetak merchandise sendiri, sewa stand dan melayani pembeli sendiri. Mereka yang tidak kebagian stand di lokasi strategis, nggak segan segan lho membawa beberapa barang dagangannya keliling hall, menawar-nawarkan pada pengunjung. Keren kan ? Sayang saya nggak bisa foto karena sulit juga motret di tengah orang banyak.

Inilah ekonomi kreatif yang sesungguhnya. 

Dan sayang sekali, saya nggak melihat kehadiran satupun unsur dari pemerintah di dalamnya, kehadiran Berkraf misalnya. Padahal jika di-support dengan baik, potensi event ini dashyat lho terutama ke kaum muda. 

Hanya BTN sebagai BUMN yang saya lihat hadir sebagai pemberi sponsor. Daaaan.....BTN menuai panen customer baru selama 2 hari itu. Pinter dia. BTN memberikan tiket masuk gratis untuk mereka yang mau membuka tabungan baru. Cukup serahkan KTP. Semua gratis dan masih dapat saldo minimal. Laris manis BTN. Bayangkan jika separuh saja peminat tiket gratis ini melanjutkan menabung di BTN....gurih.

Antrean nasabah baru BTN nih Sumber : Dokpri
Antrean nasabah baru BTN nih Sumber : Dokpri

Komunitas adalah dasar yang kuat

Ketika suami saya mengkritik kenapa anak-anak ini lebih memilih budaya Jepang ketimbang budaya sendiri, saya melihat dari sudut pandang beda. Saya melihat bahwa segala yang berangkat dari sistem komunitas, akan bisa berkembang baik karena kesamaan minat. Sistem ini bisa juga diterapkan untuk penguatan unsur budaya asli Indonesia. Komunitas penggemar wayang, komunitas penggemar masakan padang, misalnya. Dan banyak komunitas lain lagi. 

Comifuro sebagai event komunitas

Comifuro bukan sekedar menempatkan pengunjung sebagai konsumen yang hanya bisa menonton secara pasif, atau selfie bareng tokoh-tokoh komik. Tidak seperti itu. 

Ini adalah event komunitas, dari komunitas, oleh komunitas dan untuk komunitas. Tokoh komik ya ciptaan mereka, dijual dan dipopulerkan di antara mereka, direview mereka. Begitulah. Saya rasa event ini sangat positif. Berharap ke depan bisa lebih baik lagi. Salut buat panitia dan seluruh peserta, kalian hebat.

Dokumentasi lebih lengkap ada di blog saya Coffee Lover Story: Comifuro X