Mohon tunggu...
Mamat Irawan
Mamat Irawan Mohon Tunggu... Penikmat bacaan

Lahir di Kuningan, 20-04-1972 kini tinggal di Bogor

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Ramadan, Sebuah Renungan bagi Pendidik

22 April 2020   14:15 Diperbarui: 23 April 2020   02:03 3 1 0 Mohon Tunggu...

Bulan  ramadan adalah bulan yang ditunggu- tunggu oleh kaum muslimin. Rasa haru dan gembira menyelimuti jiwa yang lemah dan tak berdaya ini. Kedatangan ramadan disambut rasa haru  karena kita masih diberikan umur oleh sang pencipta  untuk  dipertemukan kembali dengan bulan yang penuh dengan barokah  dan maghfirah.

Rasa gembira karena kita bisa menikmati indahnya berpuasa di bulan ramadan yang berbeda dengan puasa sunah lainnya, dimana kita melaksanakan puasa sebulan penuh, melaksanakan shalat tarawih, tadarus Al-Quran dll. yang pahalanya  dilipatgandakan. Oleh karenanya maka pantaslah  kaum muslimin di seluruh penjuru dunia begitu  antusias menyambutnya dengan  perasaan bahagia karena pintu- pintu langit dibuka sesuai hadist Nabi Muhammad SAW “Jika telah masuk bulan ramadan, maka dibuka pintu- pintu langit, ditutup pintu- pintu jahanam dan setan- setan dibelenggu.”(H.R Abu Hurairah)

     Dibalik itu semua, mari kita jadikan  bulan ramadan ini adalah bulan yang bisa dijadikan momentum kita untuk instropeksi diri di tengah- tengan pandemi Covid-19. Kita untuk menengok ke belakang sejarah perjalanan hidup kita. Apakah perjalanan hidup kita ada peningkatan kualitas atau tidak. Apakah  hubungan kita dengan Allah  ada dalam ridhanya atau tidak. Apakah pula amaliyah kita dengan manusia penuh dengan warna kebaikan atau sebaliknya. Demikian pula kita sebagai guru kita terbersit pikiran tentang perjalanan dalam mendidik siswa, apakah sudah benar kita melaksanakan tugas mendidik anak- anak kita sehingga mengantarkan mereka menuju kedewasaan dengan prestasi yang mereka raih sehingga kita merasa puas dalam memberikan ilmu. Sungguh kita merasa tidak puas karena banyak hal yang belum kita capai untuk meraih kesuksesan dalam mendidik siswa. Kekurangpuasan atau kekagagalan itu dikarenakan banyak faktor, tapi faktor yang paling berpengaruh adalah faktor malas kita motivasi kita khususnya dalam  mempersiapkan skenario kita dalam mengajar, sebab mengajar dengan benar dan baik manakala kita mempersiapakan sungguh-sungguh  apa yang akan kita ajarkan.

Apalagi sekarang dengan pembelajaran jarak jauh karena wabah virus corona, serasa ada yang  hilang dalam hati kita. Bercanda ria dengan peserta didik, gambaran muka- muka peserta didik yang suka iseng di kelas, yang cool, yang sering menyapa kita dan siswa yang  pintar pasti berbekas di hati guru. Mentransper ilmu di dalam kelas  sungguh merupakan nilai yang tak bisa ditukar dengah materi, karena nilai keberkahannya itulah yang dicari. Maka pantaslah guru sering disebut kepanjangan dari nabi dalam menuntun ilmu atau waratsatul anbiya. Rosulullah SAW bersabda” Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah segala amalnya kecuali tiga hal yaitu sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang selalu berdoa untuknya.” ( H.R. Muslim)

Sebagai guru  yang selalu berhadapan dengan anak didiknya serasa hampa, nilai- nilai kebaikan dalam menyampaikan ilmu tiap hari musnah. Pembelajaran jarak jauh dengan media daring ( dalam jaringan) dilaksanakan itu pun sifatnya tidak teratur dan melihat dari perkembangan psikologis siswanya, karena banyak pula orang tua yang komplain karena yang ditugaskan begitu berat.

Mungkin itu secuil dari realita dari tugas guru sebagai orang yang dipandang pintar dan berilmu. Sungguh pula kita merasa berat dengan predikat guru profesional yang telah telah disandang oleh diri kita, mudah diucapkannya tetapi berat dalam melaksanakannya, dan pertanyaan yang mengganjal pada diri kita sudah profesionalkan kita mendidik siswa kita? Sudahkah kita mendidik siswa dengan hati?

Mendidik dengan hati  maka target pencapaian pendidikan insya allah akan berhasil, tolok ukurnya siswa merasa senang dengan kehadiran di tengah- tengah mereka, mereka akan kehilangan jika kita tidak bersamanya atau yang diistilahkan guru wajib.  Sebagai contoh guru itu dinantikan dengan kehadirannya tentang video viralnya seorang bocah kelas rendah yang menangis karena kangen dengan sosok guru di tengah pandemi corona. Kebanyakan  WAG memutar dan men- share sosok siswa kriting yang menangis itu dan kita pun terbawa hanyut atas kepolosan anak yang tak berdosa itu.

Mudah- mudahan musibah wabah virus corona ini secepatnya berakhir di muka bumi, sehingga kita bisa berjumpa lagi dengan anak didik di sekolah. Di pundak para guru  lahir tunas- tunas bangsa penerus pembangunan negara dan melestarikan berdirinya  Negara Kesatuan Republik Indonesia. Marilah kita jadikan hidup kita ini menjadi hidup yang lebih berkualitas, hidup yang lebih berwarna dengan kebajikan dalam mendidik anak- anak kita, sehingga hari ini harus lebih baik dari hari kemarin. Tiada yang paling didambakan oleh kita sebagai pendidik selain dari anak didik kita menjadi menjadi generasi - generasi yang unggul dalam prestasi dan  selalu menanamkan nilai –nilai rabbani dalam kehidupannya. Tiada yang paling didambakan oleh kita sebagai pendidik selain mereka ( anak didik) ini menjadi anak yang sukses mencapai masa depannya. Kita sebagai guru tidak akan iri bahkan  merasa puas ketika anak didik kita  lebih berhasil  atau sukses mencapai  kedudukannya dari pada gurunya,  Ada istilah guru bukan orang hebat, tetapi jasa guru melahirkan orang hebat. Mudah- mudahan kita semua diberi kekuatan, kesehatan dan keikhlasan dalam mendidik sehingga amal kebajikan akan dibalas oleh Allah SWT dengan berlipat- lipat. Wallahu’alam bissawab.*

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x