Man Suparman
Man Suparman w

Man Suparman . Email : mansuparman1959@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

Berhenti Merokok tak Buta Aksara Lagi

6 Desember 2017   15:01 Diperbarui: 7 Desember 2017   09:23 517 5 0
Berhenti Merokok tak Buta Aksara Lagi
20131103-kampanye-anti-rokok-5067-5a28a61059b13059de1d52a2.jpg

Berhenti merokok, boleh jadi, sangat sulit dilakukan, apalagi jika dalam keseharian bergaul dengan para perokok. Jika tidak merokok, terasa ada sesuatu yang hilang.

Kondisi seperti itu, dialami oleh saya yang sejak kelas tiga sekolah menengah pertama sudah merokok. Walaupun, sembuyi-sembunyi dari orang tua atau guru ketika berlangsung jam istirahat sekolah.

Dalam perjalanan waktu menenggelamkan saya menjadi perokok berat, setiap hari rata-rata menghabiskan tiga atau empat bungkus rokok. Berhenti merokok hanya saat tidur saja.

Kawan-kawan, sering menjuluki saya seperti kereta api. Batang demi batang rokok dihisap, sehingga dari mulut tak pernah berhenti mengepulkan asap seperti kereta api uap zaman doeloe yang menggunakan batu bara.

Merokok, memang mengasyikkan, sehingga lebih mementingkan rokok ketimbang membeli makanan yang bergizi untuk anak-anak.Tetapi tidak akan tahu bagaimana asyiknya merokok, jika tidak merokok, sebaiknya jangan coba-coba memulai merokok.

Boleh jadi, karena merokok mengasyikan, jumlah perokok di Indonesia setiap tahun terus meningkat, perokok di Indonesia diperkirakan lebih dari 90 juta orang. Indonesia meraih peringkat satu di dunia untuk jumlah pria perokok di atas usia 15 tahun.

Data terbaru dari The Tobacco Atlas 2015, menunjukkan, sebanyak 66 persen pria di Indonesia merokok, dua dari tiga laki-laki usia di atas 15 tahun di Indonesia adalah perokok.

Peringkat kedua terbanyak, yaitu Rusia dengan 60 persen pria perokok di atas 15 tahun. Peringkat tiga hingga sembilan, yaitu China (53 persen), Filipina (48 persen), Vietnam (47 persen), Thailand (46 persen), Malaysia (44 persen), India (24 persen)

Sebagai perokok berat ada cerita yang sangat memalukan, ya malu sendirilah, dalam perjalanan naik kereta api Parahyangan dari Statsiun Kereta Api (STA) Bandung menuju Solo, Jawa Tengah, sejak KA berangkat saya tak berhenti terus menerus merokok.

Ketika KA sedang melaju di sekitar daerah Kebumen, dan ketika sedang asyik menghisap rokok, tiba-tiba dari belakang ada orang yang mencolekku, sehingga membuat kaget. Rasa kaget belum hilang, lelaki berwajah ganteng dan bermabut cepak itu, memperkenalkan diri dari kesatuan TNI Angkatan Darat, mengaku bernama Bambang.

Setelah saling berkenalan, Pak Bambang, menceritakan, dirinya memiliki penyakit sesak nafas dan meminta dengan hormat dan berulangkali meminta maaf meminta saya untuk tidak merokok. Atas permintaannya saya mengiyakan, sepanjang perjalanan hingga sampai Stasiun Balapan Solo, tidak merokok.

Tetapi setibanya di stasiun balapan, aku beraksi lagi, aku merokok lagi. Untuk berhenti merokok sesaat pun rasanya sangat sulit, apalagi berhenti total, kecuali ada alasan yang sangat kuat sehingga berhasil berhenti merokok.

Nah, sejak tahun 2011 atau hingga saat ini sudah enam tahun berhenti merokok. Sebelumnya tahun 2003 s.d 2006 pernah pula berhenti merokok, namun gagal, dan kembali merokok, karena tak tahan godaan dalam keseharian bergaul dengan para perokok, atau yang pasti, karena niat atau keinginan untuk berhenti merokok hanya setengah hati.

Hingga saat ini,masih bertahan berhenti merokok, selain alasan ingin hidup sehat, juga memiliki niat yang kuat tidak ada alasan untuk merokok lagi. Kedua alasan itu, semakin memperkokoh menjalani kehidupan bebas dari rokok atau hidup tanpa rokok, sekalipun dalam keseharian bergaul dengan para perokok.

Banyak manfaat yang luar biasa sejak berhenti merokok, nafas terasa lega, ketika bangun pagi tenggorokan merasa nyaman, sangat jarang menderita penyakit batuk atau flu, badan sehat terasa fit. Padahal sewaktu menjadi perokok sangat rentan terkena kedua penyakit tersebut, jika sudah terkena, penyembuhannya bisa memakan waktu tujuh atau delapan hari.

Tidak hanya itu, sekarang ini, anak dan istri bergembira, karena saya tidak buta aksara lagi, sudah bisa membaca arti kesehatan pada sebungkus rokok yang berbunyi "Merokok sangat membahayakan bisa menimbullkan hipertensi dan kanker". Hahaha....!

Merokok, memang membahayakan, rokok mengandung lebih dari 4000 zat kimia, sebanyak 60 di antaranya bersifat karsinogenik atau menyebabkan kanker. Pasien kanker paru, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), stroke, dan jantung koroner, kebanyakan adalah perokok.

Kampanye anti merokok terus digencarkan, pelbagai saran disampaikan kepada pemerintah mulai dari larangan iklan, naikkan cukai hasil tembakau, naikkan PPN rokok. Walaupun sudah ada upaya-upaya seperti peringatan rokok membahayakan dalam setiap bungksu rokok, namun angka perokok masih belum bisa ditekan.

Tetapi nampaknya pemerintah juga setengah hati dalam menekan jumlah perkok, apalagi untuk sampai menghentikan rakyat Indonesia agar tidak merokok. Larangan merokok terkesan seperti dagelan, atau setengah hati, jika serius, pemerintah bisa saja menutup semua pabrik industri rokok.

 Untuk menutup semua pabrik rokok, memang memiliki risiko yang sangat besar, karena kita tahu di luar sana ada ribuan petani tembakau, ratusan ribu buruh pabrik rokok. Belum lagi dalam urusan rokok ini, banyak uang yang mengalir kepada para politisi, banyak kegiatan seperti sepak bola, bahkan kegiatan politik yang disponsori industri rokok.

Industri rokok juga telah melahirkan banyak milyuner yang sesungguhnya mereka menjadi kaya raya, karena orang miskin yang sebagian besar perokok, mereka dibuat kaya oleh orang-orang miskin perokok. Padahal dampak negatif rokok dapat merusak masa depan bangsa. Begitu, barangkali.

000