Mohon tunggu...
Flora Hendra
Flora Hendra Mohon Tunggu... -

Doyan kue cubit ...

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana

Perempuan Berbisa

13 Oktober 2015   23:57 Diperbarui: 13 Oktober 2015   23:57 285
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Fiksiana. Sumber ilustrasi: PEXELS/Dzenina Lukac

Cuaca begitu panas, sudah beberapa bulan hujan tak kunjung turun, jalanan penuh debu, tapi hari ini aku senang, karena gerimis kecil mulai turun dan aku berharap hujan besar bakal datang dan...betul saja, hujanpun turun...Ohhh senangnya ! Hebat, hujan bisa membuat hatiku senang.

Karena hujan akhirnya aku berlari kecil menuju warung rokok yang ada diseberang jalan, lampunya tak begitu terang, ada bangku berukuran panjang disebelah warung itu, dan segera aku menumpang berteduh pada sipemilik warung, sipemilik warung tersenyum sambil menganggukkan kepalanya menandakan aku boleh duduk disitu. Hujan turun cukup deras.

Aku merapatkan jaket dan memeluk tasku, mencoba menampik dingin yang mulai menelusup kedalam jaketku dan merambati kulitku. 

"Kopi mbak ?". Seorang bapak paruh baya menawariku segelas kopi sembari menyunggingkan senyum ramahnya. Aku sedikit terkejut karena tidak menyadari kalau dia duduk disitu. 

" Makasih pak, silahkan ". Jawabku menolak. 

Kami terlibat pembicaraan ringan, tentang dirinya yang seorang tukang parkir dikawasan itu, kawasan yang hampir tidak pernah tidur, kawasan yang dijejeri oleh kelab-kelab malam, yang selalu ditongkrongi wanita-wanita berpakaian super sexy dengan rok pendek dan berbelahan dada rendah, yang selalu disinggahi laki-laki iseng pencari kenikmatan atau sekadar nongkrong berbicara mengenai bualan murahan, yang kesemuanya itu adalah pemandangan biasa dikawasan itu.

Pembicaraan semakin berat ketika sibapak mulai bercerita kalau dia pernah tidur dengan wanita-wanita berpakaian super sexy yang berseliweran dikawasan itu, dari yang super langsing sampai yang agak berbobot, dari yang tinggi semampai sampai yang kurang tinggi tapi berpantat bahenol macam pacar Ali Oncom, dari yang berparfum wangi vanilla sampai yang beraroma deodorant murahan bercampur keringat.

Aku terkekeh mendengar pengakuan sibapak meski kuakui agak risih mendengarnya bercerita begitu gamblang. 

" Ada yang bilang perempuan itu seperti ular, saya pernah nemu yang begitu, wajahnya tidak begitu cantik, wajah khas desa, tapi kulitnya putih seperti susu, dipolesi sama bedak dan gincu merah jadi menarik. Awalnya lembut tapi kemudian wajahnya berubah jadi galak dan haus, dia mulai meliuk-liuk seperti ular, menghentak-hentak, dari mulutnya keluar bisikan manis, keringatnya harum berkumpul didada, punggung dan lehernya, dia menari-nari diatas saya dengan garang seolah kekuatan muncul entah darimana dan energi saya mulai diserapnya, saya nggak berdaya, saya kalah ". 

" Itu perempuan berbisa ". Sibapak bergumam kemudian menghembuskan asap rokok dari mulutnya perlahan, seolah memori itu merasuk kembali diingatannya.

Ping ! Aku didepan ! 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Fiksiana Selengkapnya
Lihat Fiksiana Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun