Edukasi

Menanggapi Tulisan “Bahaya Buku Andrea Hirata”

19 November 2013   12:19 Diperbarui: 24 Juni 2015   04:57 327 1 0

Menanggapi Tulisan “Bahaya Buku Andrea Hirata”

Mamang M. Haerudin

Pagi jelang siang ini (Selasa, 19 November 2013) saya dikejutkan dengan tulisan bertitel “Bahaya Buku Andrea Hirata.” Saya menemukannya di beranda facebook. Bukan karena apa, setidaknya karena, pertama, ada banyak teman-teman di facebook yang men-share tulisan ini. Kedua, kita tahu bahwa buku Andrea Hirata (AH) ini dapat dikatakan buku fenomenal yang dapat menembus ruang baca internasional.

Di awal, jujur harus saya katakan, saya sendiri belum pernah membaca buku itu dan apalagi menonton filmnya. Saya hanya tahu info tentang buku dan film itu melalui obrolan teman, media cetak dan elektronik, dll yang di antara mereka banyak yang merasa terinspirasi. Novel itu tak hanya menggugah tetapi juga membangkitkan geliat menulis masyarakat Indonesia. Kira-kira begitu kesimpulan yang dapat saya ambil. Siapalah yang tak ingin buku hasil karyanya membludak laku diburu pembaca, lalu difilmkan. Prestasi yang harus diacungi jempol. Bagaimanapun juga.

Saya sendiri punya anggapan bahwa AH pantas mendapat sambutan luar biasa dari khalayak. Sebab saya yakin perjuangannya menuju gemilang, itu tak semudah membalikkan telapak tangan. Apalagi masyarakat Indonesia sebegitu lama ternina-bobokan, sebagai masyarakat yang ‘malas’ membaca dan menulis. Kualitas untuk membaca dan menulisnya rendah dan jauh tertinggal oleh Negara-negara lain. Minat baca masyarakat  Indonesia  dinilai  sangat minim dan presentasenya hanya mencapai 0,01 persen. (Baca selengkapnya di http://www.haluankepri.com/karimun/54698-minat-baca-masyarakat-indonesia-rendah.html).

Di sini, saya ingin menanggapi beberapa kekurangsetujuan saya atas pandangan Yusran Darmawan (YD) dalam tulisannya “Bahaya Buku Andrea Hirata”. Meskipun saya tetap mengapresiasi YD karena sudah kritis dalam menyikapi sesuatu, terutama hasil karya AH. Spirit tulisannya itu saya anggap sebagai ‘rem’ agar kita (masyarakat Indonesia) jangan terlalu berlebihan dalam menyikapi sesuatu. Tetapi entah, apakah fenomena karya AH itu termasuk dalam kategori berlebihan atau tidak.

Pertama, sebagai salah satu masyarakat Indonesia, saya merasa bangga jika ada seseorang yang telah berhasil menembus ruang internasional. Dalam hal apapun dan dalam bentuk karya apapun, apalagi buku. Kita bangga, bahwa seorang anak bangsa bukunya bisa dibaca oleh masyarakat internasional. Saya sendiri kesulitan untuk menemukan penulis bangsa yang karya monumental bisa menembus ruang baca internasional. Yang pasti adayang lain, tetapi yakin tidak banyak.

Kedua, saya kurang setuju dengan simplifikasi YD yang menyatakan bahwa AH bermaksud mengunggul-unggulkan pendidikan Barat—Universitas Sorbonne, Perancis—ketimbang pendidikan di Indonesia. Saya justru ber-husnuzhan bahwa AH justru ingin membuktikan bahwa anak kampung juga berkualitas dan mampu bersaing dengan anak Barat. Dan itu bukan berarti merendahkan anak bangsa yang berpendidikan di negeri sendiri.

Ketiga, menanggapi animo masyarakat yang merasa ingin melakukan studi di Barat adalah satu hal positif. Dalam kaca mata positif, hal itu menunjukkan bahwa minat masyarakat bangsa untuk mengenyam pendidikan yang mumpuni menunjukan signifikansi yang tinggi. Kalau ada distorsi atau kendala lainnya, kita tak perlu membesar-besarkan apalagi sampai menyumpah serapah. Saran saya, tugas kita meminimalisir sebisa mungkin dan terus gigih berusaha memberikan cara pandang yang segar bahwa tidak selamanya berpendidikan di Barat dapat menaikkan harkat dan martabat yang bersifat materialistik. Karena memang itu tujuan yang keliru. Berpendidikan tetap harus diniatkan untuk menghilangkan kebodohan dan bentuk rasa syukur telah dianugerahi akal pikiran.

Keempat, tentang blow up media yang terkesan berlebihan, tetap memang kita harus mengawasinya dan kritis. Tetapi rasa-rasanya, saya menikmatinya sebagai penetralisir dari banyak pemberitaan yang setiap hari menunjukkan keburukan; mulai dari kriminalitas, pembunuhan, dan lain sejenisnya. Karya AH hadir semacam angin segar yang menyejukkan sajian media yang selalu menampakkan wajah suram.

Kelima, sampai hari ini saya meyakini bahwa pendidikan adalah dimensi terpenting bagi anak bangsa. Persoalan seorang tokoh Pramoedia Ananta Toer sama sekali tidak bisa dijadikan ukuran untuk memperkarakan karya AH dan apalagi menganjurkan anak bangsa untuk tidak bersekolah (berpendidikan) di dalam maupun di luar negeri. Karena melalui pendidikanlah, akhlakul karimah—ikhlas, santun, jujur,dll—akan di pelajari untuk diamalkan.

Keenam, dan saya yakin para anak bangsa yang sedang berstudi di luar negeri adalah mereka yang suatu saat pulang ke tanah air, akan mengabdikan seluruh jiwa-raganya untuk kemajuan kampung dan bangsanya. Meraka yang spirit nasionalisme bangsa dan spirit dinamisasinya tinggi. Anak bangsa yang tetap bangsa dengan warisan budayanya sekaligus mampu menciptakan inovasi yang sesuai dengan tantangan zaman.

Untuk mengakhiri tulisan ini, saya teringat dengan dawuh Goenawan Mohammad; “Beda antara "kritis" dengan "benci": yang pertama menelaah, menganalisa, lalu mengecam; yang kedua hanya cari kesalahan.”

Sekian dahulu. Wallhua’lam bi al-Shawab.