Mohon tunggu...
Mamang M Haerudin
Mamang M Haerudin Mohon Tunggu...

Guru Ngaji

Selanjutnya

Tutup

Catatan Pilihan

Dari Desa untuk Bangsa: Sinergi Kepemimpinan dan Pembangunan

27 November 2014   08:18 Diperbarui: 17 Juni 2015   16:43 0 1 2 Mohon Tunggu...
Dari Desa untuk Bangsa: Sinergi Kepemimpinan dan Pembangunan
14170272041652519715

Dari Desa untuk Bangsa:

Sinergi Kepemimpinan dan Pembangunan

Mamang M. Haerudin

Judul: Revolusi dari Desa: Saatnya dalam Pembangunan Percaya Sepenuhnya kepada Rakyat

Penulis: Dr. Yansen, TP., M. Si

Editor: Dodi Mawardi

Penerbit: PT. Elex Media Komputindo, Kompas-Gramedia, Jakarta, 2014

Tebal: xxviii + 224 halaman

Sebagian besar di antara kita mungkin akan beranggapan bahwa desa merupakan sebuah lingkungan kehidupan masyarakat yang asri, sejuk, bebas polusi, dan nuansa indah lain sejenisnya. Tetapi di saat bersamaan, kita juga akan sepakat menyatakan bahwa desa identik dengan nuansa kumuh, terbelakang, dan tak terberdaya. Terlebih desa-desa yang terletak jauh di pelosok Nusantara.

Seruan reformasi tinggal-lah seruan. Reformasi yang telah bergulir tak kurang dari 16 tahun ini tak begitu—untuk enggan menyatakan tak sama sekali—membawa angin perubahan yang berarti, terutama bagi masyarakat di desa-desa. Fatalnya, bahkan, masyarakat desa yang tadinya asri, sejuk, dan bebas polusi, lambat laun semakin kumuh, terbelakang, dan tak terberdaya, terlebih karena eksploitasi sumber daya (alam dan manusia) oleh pihak-pihak yang tak bertanggungjawab.

Para pemimpin terus berebut dan berganti, sama sekali tak membawa perubahan berarti. Janji perubahan tetaplah janji yang masih jauh dari realisasi. Entah, hampir putus asa, apakah tekad dalam melakukan—meminjam istilah Dr. Yansen, TP., M. Si—revolusi desa itu bisa dilakukan, atau hanya dalam angan. Program-program dari pemerintah pusat dan daerah terus digulirkan, tapi, lagi-lagi jalan di tempat, bahkan cenderung amburadul. Sistem birokasi yang belum mapan, mental para pemimpin dan pejabat yang masih lekat dengan praktik KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme).

Sebuah desa hanya akan bisa maju dan terberdaya hanya jika kepemimpinan dan konsep pembangunannya berjalan sinergis. Buku Revolusi dari Desa karya Dr. Yansen, TP., M. Si ini benar-benar akan membuktikan dua aspek tersebut; kreativitas dan produktivitas kepemimpinan dan konsep pembangunan desa yang kontekstual, sesuai kebutuhan, dan terukur. Sebuah terobosan yang kemudian diabadikan melalui jargon ‘GERDEMA’ (Gerakan Desa Membangun).

Prinsip dari GERDEMA ini sesungguhnya memberikan apresiasi dan kepercayaan kepada masyarakat untuk bersama membangun kesadaran, tanggungjawab, dan kepedulian dalam membangun desa. Karena, pada hakikatnya, membangun desa adalah membangun diri, membangun diri adalah membangun keluarga, membangun desa inilah kumpulan dari bangunan keluarga yang prima. Revolusi dari desa inilah yang kemudian ditafsirkan sebagai gerakan mental, agar para pemimpin dan pejabat tidak memaksakan kehendaknya melakukan kebijakan dalam membangun desa.

Kalau kemudian coba kita runut, GERDEMA sendiri merupakan intisari dari apa yang telah digagas dan dilaksanakan oleh Dr. Yansen, TP, M. Si sebagai Bupati Malinau, dengan apa yang ia sebut sebagai 4 pilar utama pembangunan; Pertama, program insfrastruktur daerah. Kedua, Membangun Sumber Daya Manusia. Ketiga, membangun ekonomi daerah melalui ekonomi kerakyatan. Dan keempat, membangun sektor kepemerintahan. (Hlm, 23-34).

Berikut penegasan dari Dr. Yansen mengenai GERDEMA, bahwa perbedaan paling nyata dari konsep GERDEMA dengan konsep pembangunan yang berjalan selama initerletak pada keterlibatan masyarakat secara langsung dalam pembangunan. Pada dasarnya masyarakatlah yang paling tahu apa yang dilakukan untuk menyejahterakan diri mereka. (Hlm, 78). Adapun tiga motor penggerak yang mesti berjalan kompak adalah pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta. Pemerintah memfasilitasi kemudahan dalam masalah birokrasi dan pelayanan yang prima. Masyarakat menjadi subjek pembangunan dan sektor swasta menjadi ‘bapak asuh’, penampung, dan penjual hasil dari produksi yang diciptakan masyarakat.

Oleh karena demikian, sumber daya alam dan sumber daya manusia pada masyarakat desa, khususnya di Malinau dapat berjalan efektif dan efisien. Terlebih karena didukung oleh kreativitas kepemimpinan Dr. Yansen yang menerapkan kerja turun ke bawah. Dapat memantau, mengawasi, dan mengevaluasi proses pembangunan yang tengah digulirkan. Pimpinan yang juga mau menerima aspirasi, berdialog, dan hidup seerhana sebagaimana masyarakat. Demikianlah pantas jika kemudian Malinau melalui kepemimpinan Dr. Yansen telah berhasil mencapai sebuah pembangunan desa maju dan banyak meraih penghargaan. Tidaklah berlebihan jika keberhasilan pembangunan dan raihan penghargaan tersebut merupakan hasil kerja keras dan sinergi antara kepemimpinan yang berkualitas, konsep pembangunan yang jelas, dan partisipasi masyarakat. Inilah tonggak keberhasilan dari desa untuk bangsa. Sungguh, selain bernilai akademik tinggi, buku ini patut dijadikan teladan konsep bagi masyarakat desa di mana pun berada. Wallahua’lam bis-Shawab.

KONTEN MENARIK LAINNYA
x