Mohon tunggu...
MomAbel
MomAbel Mohon Tunggu... Apoteker - Mom of 2

Belajar menulis untuk berbagi... #wisatakeluarga ✉ ririn.lantang21@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen Jodoh

24 Mei 2021   06:00 Diperbarui: 24 Mei 2021   07:22 735
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Emosiku ikut naik-turun. Masa sih harus menikah tanpa cinta? Dengan orang yang sudah tua lagi? Ohhh.... sangat tidak adil. Aku yang masih remaja saja bisa ikut merasakan.

Mungkin dari situ, aku sangat tidak menyukai perjodohan. Aku ingin bebas menentukan pilihan tentang pasangan hidupku. Untungnya, orangtuaku juga bukan yang suka memaksa.

Lalu apa hubungannya denganku? Begini, aku tidak fokus melihat pemaksaan perjodohan dan perkawinan Siti Nurbaya itu. Tak relevan, wong aku tak dipaksa. Tapi aku cuma berpikir seperti ini, bahwa setiap perempuan berhak menentukan pilihannya sendiri, mencari cintanya, dan bukan sengaja dijodohkan.

Entahlah, mungkin aku memang sinting. Aku percaya jodoh akan datang dengan sendirinya. Semesta pasti mempertemukan dengan caranya.

Namun, dalam kehidupan nyata, perjodohan ini masih sering dilakukan oleh orangtua di kampung. Pernah suatu kali ada teman jauh yang seusiaku dijodohkan. Waktu itu masih di bangku SMA, dia sudah dilamar dengan laki-laki berumur matang dan mapan.

Setelah dilamar, dia banyak memakai perhiasan emas. Mungkin karena pada dasarnya aku menyukai kebebasan, aku biasa saja. Tak ada rasa iri ataupun ingin bernasib sepertinya. Tapi aku tetap menghormati pilihannya.

Bayanganku waktu itu, apa enaknya dijodohin? Meskipun lakinya kaya, tapi setelah itu harus punya anak, masak, dan cuci baju. Darah mudaku masih menginginkan petualangan. Aku ingin sekolah setinggi mungkin dan melihat dunia luar.

Waktu adalah anugerah Tuhan untukku. Aku ingin memiliki dan menikmatinya dengan caraku. Tak mau waktuku dirampas oleh perjodohan di usia muda. 

Ah, lagi-lagi aku memang berbeda. Tetanggaku mengatakan aku sebagai perempuan keblinger. Kututup kedua telingaku.

Ohya, perjodohan selalu tak jauh-jauh antara orang daerah situ. Artinya mereka sekampung dan akan hidup disitu juga. Ah, aku tidak mau hidup "nguplek" di kampung terus. Bukan berarti aku ingin ke kota, tapi aku tak ingin menjadi katak dalam tempurung. Dunia ini luas, yang Mulia!

Bagaimana setelah itu? Hidup telah mengajarkanku banyak hal, termasuk urusan jodoh. Aku tak mau dijodohkan. Waktu itu masih idealis : ingin dijodohkan saja sama Tuhan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun