Mohon tunggu...
MomAbel
MomAbel Mohon Tunggu... Apoteker - Mom of 2

Belajar menulis untuk berbagi... #wisatakeluarga ✉ ririn.lantang21@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Trip Pilihan

Rupa-rupa Cerita dan Etika Berfoto Saat Liburan

2 Februari 2021   06:00 Diperbarui: 2 Februari 2021   06:14 376
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik


Liburan bukan saja tentang keceriaan. Seringkali ada cerita sedih, kesal, dan konyol. Tatkala kita bisa menerima dan menikmati semuanya, tentu akan menjadi pengalaman berharga.

Travelling is about experience. Ya, perjalanan dan liburan membuat kita kaya akan pengalaman rasa. Setiap tempat akan memberi rasa yang berbeda. Tempat bisa kita tinggalkan, namun jejak rasa akan selalu mengikuti kita.

Berikut adalah rupa-rupa cerita ketika saya berfoto di tempat umum yang saya kunjungi :

Diteriaki dan dimarahi orang

Di awal pernikahan, saya mengikuti suami yang bekerja di salah satu negara di Afrika Barat. Kira-kira seminggu setelah tiba disana, kami berjalan-jalan melihat keadaan sekitar bersama sopir dari kantor.

Namanya juga tempat baru, saya ingin berfoto untuk dikirim ke keluarga. Minimal mengabarkan bahwa disana saya baik-baik saja. Kami berhenti di sebuah bangunan yang menurut saya menarik. Saya meminta suami untuk mengambil foto.

Waktu itu tak ada orang di trotoar tempat saya berfoto. Aman deh, pikir saya. Namun, tiba-tiba kami dikagetkan suara dari seberang. Suara teriakan kencang seorang perempuan.

"Hey, you! Stop taking picture! I want to pass!" teriaknya marah dan mengomel. Galak banget!

Kami spontan menoleh. Saya bengong. "Beginikah? Oh my God..." batin saya. Suami menurunkan kamera. Perempuan itu kemudian melangkah dan menyeberang jalan menuju ke arah kami. Mukanya jutek sekali. Kami diam saja.

Sampai di mobil, kami bertanya kepada sopir mengapa seperti itu. Menurut sopir kami, mereka tidak mau menjadi objek foto. Duh, padahal kami tidak memotretnya.

Dalam hati, saya kesal kok segitunya? Kalau ada orang sedang berfoto, mengapa tak menunggu barang sebentar untuk lewat? Mengapa dia seenaknya menyuruh orang berhenti berfoto hanya supaya dia lewat. Sikap yang melebihi presiden. Pokoknya saya gondok sekali.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Trip Selengkapnya
Lihat Trip Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun