Ricki Maldini
Ricki Maldini Mahasiswa Ilmu Sejarah

" Keyakinanmu itu tak perlu membeku dalam dadamu saudaraku, cair merupakan pilihan agar KEHORMATAN aku, kau dan mereka menjadikan nya ADA " { Betawi Meng-Indonesia }

Selanjutnya

Tutup

Sejarah

Ramadhan dan Indonesia Merdeka

24 Mei 2018   04:10 Diperbarui: 24 Mei 2018   04:38 322 0 0
Ramadhan dan Indonesia Merdeka
www.kabarsanur.com

" Ketika kamu mulai bisa menangkap apa makna dibalik sesuatu, kamu akan mulai bermain dengan sebuah kunci, tugas kamu untuk selebihnya adalah menangkap mengungkap apa yang ada didalamnya "

Bulan Ramadhan memiliki kekuatan nya sendiri, karena ia merupakan titah dari penguasa alam raya ( Allah SWT ) yang dititipkan kepada Nabi Muhammad SAW untuk mengajarkan umatnya untuk melakukan sesuatu yang wajib dalam ajaran agama Islam.

Kekuatan itu tentunya tidak akan pernah terlepas dari kekuasaan Allah SWT, dan oleh sebab itu kita yang meyakini nya akan mendapatkan kekuatan yang luar biasa tersebut ke dalam diri kita, kekuatan itu mula-mula masuk kedalam hati dan kemudian akal.

Hati dan akal yang dikombinasikan dengan keyakinan ( Kitab Suci ) akan mengakibatkan efek luar biasa jika disikapi dengan bijaksana dan tidak membeku.

Kita yang mengaku sebagai warga Negara Republik Indonesia, tentunya memiliki sebuah memori kolektif, yang mengingatkan kita pada kekuatan bulan Ramadhan itu sendiri yang memberikan spirit dalam diri bahwa penjajahan harus dienyahkan dari bumi ibu pertiwi.

Namun, perlu kita garis bawahi bahwasanya perjuangan melawan penjajah juga merupakan konstribusi dari lintas Agama, ras, dan golongan. Dalam artikel ini, saya berupaya untuk menuliskan bahwa kemerdekaan ketika itu bagi pemeluk muslim adalah suatu kekuatan karena bertepatan dengan bulan ramadhan, yang notabenenya diwajibkan untuk menahan hawa nafsu, menjalankan kebaikan, serta menahan lapar dan haus.

Bagaimana Jalan ceritanya ? Mari kita simak ulasan berikut ini : 

Dimulai dari persistiwa -- peristiwa penting menuju kemerdekaan Indonesia terjadi pada bulan Ramadhan 1334 H. Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) dibentuk satu hari menjelang malam pertama bulan Ramadhan. Pada tanggal satu Ramadhan tentara sekutu menjatuhkan bom ke kota Nagasaki yang berakibat lumpuhnya kekuatan Jepang dan berada di ambang kekalahan perang.

Keesokan harinya pada tanggal dua Ramadhan, Soekarno, Hatta dan Radjiman menemui Marsekal Terauchi di Vietnam untuk membicarakan kemerdekaan Indonesia. Pada tanggal 6 Ramadhan Jepang menyerah kepada sekutu. Ketika Soekarno, Hatta, dan Radjiman tiba di Indonesia, para Pemuda yang telah mendengar kabar menyerahnya Jepang kepada sekutu mendesak untuk segera memproklamirkan kemerdekaan namun ditolak. Hingga akhirnya para pemuda menyusun kerjasama dan siasat untuk merebut kekuasaan dari Jepang.

Pada malam harinya sekitar pukul 22.00 tanggal 7 Ramadhan para pemuda yang dipimpin oleh Wikana mendatangi kediaman Soekarno untuk mendesak Proklamasi kemerdekaan dilakukan malam ini juga. Dini hari pada 8 Ramadhan Soekarno dan Hatta diculik ke Rengasdengklok. Dalam masalah penculikan, Soekarno memberikan kritik keras kepada para pemuda yang tidak memahami masalah proklamasi dengan Indonesia yang terancam Jepang dan sekutu. Meski Bung Karno adalah penyambung lidah rakyat, Bung Karno tidak mau didikte pemuda agar menggemakan Proklamasi pada tengah malam.

Bung Karno menuturkan bahwa sejak dari Saigon, sudah merencanakan proklamasi pada tanggal 17 Agustus 1945 karena diyakini 17 merupakan angka keramat. Al- Qur'an diturunkan pada 17 Ramadhan. Shalat Seharinya terdiri dari 17 Rakaat, dan diplihnya hari yang mulia, Jumat (Api sejarah 2).

Baru keesokan harinya pada pukul 10.00 proklamasi dikumandangkan dan bertepatan dengan Jum'at  9  Ramadhan 1334/17 Agustus 1945.

Berkat rahmat Allah yang Maha Kuasa, akhirnya Indonesia mendapatkan kemerdekaan nya sekaligus melepas karangkeng dari penjajahan Jepang. Terlepas dari teropong sejarah yang terjadi ketika itu yang kemudian dituliskan dalan ruang-ruang sejarah Indonesia kita, sepatutnya kita sebagai generasi penerus memaknai nilai sejarah ini dengan nilai kebaikan yang terkandung dalam kejadian tersebut dengan memaknai nya terhadap kehidupan pribadi maupun sosial kita masing-masing, apalagi bertepan dengan ramadhan 2018 dimana kita bisa mengasah pribadi kemanusiaan kita agar lebih baik lagi di hari-hari yang akan datang dengan ridha dari Allah SWT. Aamiin ...