Mohon tunggu...
Mala Anggi
Mala Anggi Mohon Tunggu... Menulis sebagai pengingat, menulis untuk berbagi semangat

Can't stop writing

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

"KOPASMAN," Kisah Super Hero di Dunia Per-copy-paste-an

9 Februari 2020   10:37 Diperbarui: 9 Februari 2020   10:41 25 2 0 Mohon Tunggu...

Hari gini masih suka copas-copas pekerjaan orang lain? Haduuh... ayo ngaku! Siapa yang masih suka copas tulisan di Google kalo ada tugas sekolah? Yang kuliah apalagi nih, katanya calon Sarjana, tapi ko hobinya salin sana tempel sini.

Perlu diketahui, copas alias copy paste alias menjiplak itu adalah pekerjaan orang malas dan miskin kreatifitas, kalo ada tugas nggak mau mikir keras, copas-copas-copas  yang penting tuntas.  

Nah, kali ini saya punya kisah tentang super hero di dunia per-kopi paste-an.  Selamat membaca...
Jeng jeng jeng!

Malam itu hujan begitu deras. Orang-orang mungkin telah berselimut ketika gelap dan dingin merajai waktu. Caca, beserta wajah kusutnya masih bertahan di hadapan laptop. Terlihat balon-balon membumbung di layar monitor, memantul ketika mengenai tepian layar. Brrr... angin begitu liar mengibas rambutnya. Petir-petir menggelegar seakan meneriakan kegetiran hidup yang tak disangka kini menimpanya.

"Ow.Em.Ji... Asli gue pusing banget," keluhnya sambil menjambaki rambut panjang indah tergerai. "Dia harus bertanggung jawab atas semua ini," gerutu Caca, tangannya gemeretak. "Ah, Kopasman sialan. Kemana dia? Awas saja kalo sampai kulihat batang hidungnya."

Caca kini tertunduk lesu. Ia lirik jam dinding yang tak mau rehat barang sejenak. Pipinya memerah lagi. Ia mulai membentur-benturkan keningnya pada meja belajar, semakin lama semakin keras hingga tiba-tiba saja cairan panas meleleh dari sepasang matanya. Caca begitu ngeri mengingat peristiwa yang baru terjadi 8 jam lalu.

"Ini sungguh memalukan," kata pak Salimi, dosen pembimbing Caca. "Kau tahu, plagiat, copy paste, menjiplak karya orang itu pelanggaran yang sangat berat," katanya. Saat itu Caca sedang menjalani bimbingan skripsinya. Caca yang terlanjur berlinang air mata tak bisa berkata-kata lagi selain memohon maaf, maaf dan maaf. "Maka dengan berat hari, saya mau kamu merevisi seluruh isi skripsinya," lanjut Pak Salimi. Suaranya bagaikan petir di telinga Caca.

Air mata Caca mulai diiringi sedu sedan. Di layar laptopnya, ia seakan melihat sebuah jurang keputusasaan. Tak ada harapan lagi untuk lulus sidang tahun ini. Ia harus mengulangnya selama 1 semester lagi. Dulu, disaat-saat sulit seperti ini, Kopasman selalu datang. Kopasman bagi Caca adalah seorang pahlawan, ia senantiasa membantu Caca mengerjakan tugas-tugas kuliahnya yang berbau karya tulis. Begitulah Caca menjalankan rutinitas perkuliahan dengan bantuan Kopasman hingga di akhir studinya ini, musibah itu datang.

Hujan belum juga reda, malah semakin deras dan petir lebih sering lagi melantangkan suara gagahnya. Lalu angin menjadi begitu dahsyat. Brukk! jendela terbuka. Seketika gorden, kertas-kertas, alat make up beterbangan disapu angin, namun Caca tidak begitu terkejut. Ia tahu ini pertanda bahwa Kopasman akan datang.

"Wahai Kopasman. Malam ini bantulah aku mengerjakan skripsi. Aku sangat butuh bantuanmu," pinta Caca dengan lembut. Tak ada sahutan dan rupanya Caca telah menggenggam sebuah gagang pisau. Ia bangkit dari kursi, ia pasang kuda-kuda dengan mantap. Dalam kepalanya telah berseliweran strategi untuk menumpas Kopasman, malam ini juga.

"Kau tahu, aku tak ingin terlambat lulus. Aku telah berjanji pada orangtuaku untuk lulus tepat waktu," pinta Caca sekali lagi. Kopasman tak juga muncul. Caca mulai geram. Perlahan ia bergerak ke arah jendela sambil menyembunyikan tangan kanannya yang memegang pisau ke belakang punggung.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x