Mohon tunggu...
Sucahya Tjoa
Sucahya Tjoa Mohon Tunggu... Konsultan - Lansia mantan pengusaha dan konsultan teknik aviasi, waktu senggang gemar tulis menulis. http://sucahyatjoa.blogspot.co.id/

Lansia mantan pengusaha dan konsultan teknik aviasi, waktu senggang gemar tulis menulis. http://sucahyatjoa.blogspot.co.id/

Selanjutnya

Tutup

Kebijakan Pilihan

Populisme akan Menyeret AS dan Barat dalam Jurang Kemerosotan

26 Januari 2021   17:36 Diperbarui: 26 Januari 2021   17:44 779
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Kemudian populisme Eropa terutama bermanifestasi sebagai anti-imigrasi, anti-pengungsi, anti-UE, dan politik anti-elit. Alasan yang mendasarinya adalah bahwa kesenjangan antara si kaya dan si miskin semakin melebar dalam konteks krisis ekonomi, dan banyak orang telah rasa sangat kekurangan sekali.

Sedangkan, partai politik tradisional Eropa tidak dapat menemukan solusi untuk masalah tersebut, para imigran dan pengungsi menjadi "kambing hitam" dan sasaran serangan.

Kemudian Brexit umumnya dianggap sebagai kemenangan bagi populisme Inggris dan Eropa.

Belakangan ini, partai-partai populis Eropa mulai muncul tren kerjasama transnasional, seperti Liga Nasional Prancis, Partai Liga Italia, Partai Pilihan Jerman, dan sebagainya.

Partai populis sayap kanan juga memperluas kerja sama di tingkat Eropa, di luar perbatasan mereka di Eropa. Mereka ingin mengubah ekologi politik yang mereka jalani.

Selain itu, pergerakan populis di suatu negara dapat dengan cepat menyebar ke negara dan kawasan lain di Eropa. Misalnya, gerakan rompi kuning di Prancis dengan cepat menyebar ke banyak kota di Eropa.

(Gerakan rompi kuning atau gerakan jaket kuning 'bahasa Prancis: Mouvement des gilets jaunes' adalah gerakan protes populis akar rumput untuk keadilan ekonomi yang dimulai di Prancis pada bulan Oktober 2018).

Jadi kurangnya solidaritas di antara negara-negara anggota UE selama wabah pandemi SARS-CoV2 (Covid-19) telah dengan jelas memperlihatkan kelemahan ini kepada dunia.

Kita ingat pandemi di Italia ketika menjadi tidak terkendali, Italia sangat membutuhkan bantuan anggota UE lainnya, tetapi tidak ada negara UE yang mengulurkan tangan membantu, dan bahkan Jerman menahan masker yang dibeli oleh Italia.

Oleh karena itu, rakyat Italia yang terkucilkan dan tidak berdaya marah. Meskipun Prancis dan Jerman kemudian mengambil beberapa tindakan perbaikan, orang-orang Eropa terus mempertanyakan tentang solidaritas UE dengan sengit dalam perang melawan "pandemi".

Kemudian, UE untuk mengatasi krisis ekonomi karena pandemi mencoba menerbitkan obligasi yang disebut obligasi anti-pandemi, tetapi beberapa negara seperti Jerman dan Belanda dengan tegas menolak. Oleh karena itu, sekarang memang ada beberapa bantuan perang melawan "pandemi" pada  tingkat Eropa untuk membantu rencana fiskal,  tetapi secara keseluruhan tidak menjanjikan (tidak optimis).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
  10. 10
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kebijakan Selengkapnya
Lihat Kebijakan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun