Sucahya Tjoa
Sucahya Tjoa

Saya seorang pengusaha dan konsultan teknik aviasi, waktu senggang gemar tulis menulis. http://sucahyatjoa.blogspot.co.id/

Selanjutnya

Tutup

Pemerintahan Artikel Utama

Siapakah yang Akan Lebih Bertahan dalam Perang Dagang AS-Tiongkok?

9 Oktober 2018   16:23 Diperbarui: 10 Oktober 2018   06:17 3277 2 2
Siapakah yang Akan Lebih Bertahan dalam Perang Dagang AS-Tiongkok?
Sumber ilustrasi: Financial Times

Perang dagang AS-Tiongkok telah meningkat, dan telah merembet ke bidang militer, diplomatik dan bidang lainnya. Kapal militer AS baru-baru ini memasuki Laut Tiongkok Selatan dan berada dalam bahaya diserang oleh kapal perusak Tiongkok.

Baru-baru ini (akhir pekan lalu) kapal Perusak USS Decatur melayar ke perairan pulau Laut Tiongkok Selatan, akibatnya hampir terjadi insiden dengan kapal perusak AL-PLA Luyang. AL-AS juga mengkonfirmasi insiden itu, menuduh kapal perang Tiongkok bermanuver dengan "gerakan tidak aman dan tidak profesional" di dekat Karang Gaven (Gaven Reef) atau Nanxun Jiao di Kepulauan Nansha pada 30 September.

Seorang juru bicara AL-AS mengatakan bahwa kapal perang Tiongkok Luyang "mendekati dalam 41 meter dari kapal USS Decatur, dan USS Decatur mengambil tindakan untuk mencegah tabrakan." 

Selanjutnya, Tiongkok juga mengeluarkan pernyataan yang menuduh AS melanggar kedaulatan Tiongkok yang tak terbantahkan di Laut Tiongkok Selatan dan perairannya yang berdekatan.

Sumber: Commander, US Pacific Fleet - Navy.mil + China Defence Today - WordPress.com
Sumber: Commander, US Pacific Fleet - Navy.mil + China Defence Today - WordPress.com
Dialog keamanan AS-Tiongkok yang dijadwalkan akan diadakan di Beijing bulan depan mungkin ditangguhkan. Pidato Presiden Trump akhir pekan lalu mengancam: "Kita minta Tiongkok membuka pasarnya, menerapkan perdagangan yang adil, atau kita tidak akan melakukan bisnis dengan mereka." 

Presiden Tiongkok Xi Jinping menanggapi perang dagang ini dengan cara yang "populis," mengatakan bahwa perang dagang "memaksa kita untuk mandiri." Lanjutnya mengatakan: "Memaksa kita untuk mandiri bukan suatu yang buruk, bagaimnanapun Tiongkok harus mengandalkan dirinya sendiri."  Tampaknya perang dagang ini akan berlangsung dalam waktu yang lama.


Pada 8 Oktober, Menlu AS Mike Pompeo bertemu dengan Menlu Tiongkok Wang Yi menyiarkan keluhan mereka di muka umum selama kunjungan singkat bersama dengan diplomat top Washington ke Beijing, di tengah hubungan yang memburuk.

Sementara pertukaran termasuk basa-basi diplomatik yang khas, dan kedua pejabat menekankan perlunya kerja sama, pernyataan mereka di hadapan para wartawan di awal pertemuan mereka di Wisma Negara Diaoyutai di Beijing sangat tidak biasa.

Tindakan AS

Selama beberapa bulan ini dengan perang dagang ini, kedua belah pihak tampaknya sama-sama mengalami pukulan, kedua belah pihak Tiongkok dan AS masing-masing telah menaikkan tarif terhadap barang impor. AS ingin mencapai tujuannya untuk menurunkan defisit perdagangan.

Defisit perdagangan AS dengan Tiongkok telah mencapai rekor tertinggi. Meskipun demikian, situasi dapat berubah secara fundamental. Pemerintahan Trump meningkatkan tarif impor dari 10% untuk 200 miliar RMB dengan menaikan tarif 25% untuk 267 miliar (RMB = 0,14 USD).

Pada 4 Oktober, Wakil Presiden AS Michael Pence kembali merilis "pidato keras" terhadap Tiongkok. Baru-baru ini, perang dagang Sino-AS telah meningkat, dan Washington dan Beijing telah menetapkan kenaikan tarif, dan ketegangan antara perdagangan bilateral telah muncul.

Sumber: www.cnbc.com
Sumber: www.cnbc.com
Pandangan Presiden Presiden AS Donald Trump terhadap Presiden Tiongkok Xi Jinping telah bergeser dari "teman" menjadi "tidak mungkin menjadi teman". Akankah ketegangan antara Sino-AS menjadi normal? Apakah cara Tiongkok dalam menangani perang dagang sudah tepat? Apa reaksi orang Amerika terhadap perang dagang?

Liu Yawei, seorang direktur Program Tiongkok di Carter Center, anggota Institut Luar Negeri Amerika, dan wakil direktur Pusat Penelitian Tiongkok Atlanta, menggambarkan perasaannya dari perspektif orang Amerika Tionghoa dalam kegiatan publiknya. Dia percaya bahwa hubungan Sino-AS sulit untuk pulih dalam jangka pendek. Tiongkok telah salah menilai cara menangani perang dagang ini. Orang-orang Amerika belum bereaksi negatif terhadap perang dagang.

Liu Yawei mengatakan bahwa meskipun Tiongok selalu menekankan bahwa "ada seribu alasan untuk memiliki hubungan baik dengan AS, tidak ada alasan untuk tidak memiliki hubungan yang baik dengan AS," tetapi AS tampaknya adalah musuh khayalan Tiongkok. Pada tahun 2013, film dari akademi militer Tiongkok "Silence Competing" membuat terkejut AS.

Ternyata bahwa apa yang disebut "hubungan baik" Tiongkok hanyalah sebuah artikel yang dangkal, dan selalu menganggap AS sebagai musuh. Ketika AS tiba-tiba mengumumkan Tiongkok sebagai musuhnya tahun ini (2018) dan mengeluarkan serangkaian sanksi terhadap Tiongkok dan sanksi perdagangan, Tiongkok tidak dapat beradaptasi. Setelah 40 tahun pembangunan, hubungan Tiongkok-AS telah mengalami banyak krisis, tetapi tidak selebar sekarang.

Seorang cendikiawan dari Brookings Institution pernah berkata dalam artikelnya yang diterbitkan, "Sekarang tidak ada seorang pun di AS yang berbicara untuk Tiongkok."

Liu Yawei mengatakan bahwa ini adalah kasusnya, dan satu-satunya hal yang saat ini yang membicarkan tentang Tiongkok untuk Washington adalah Michael Swaine, peneliti senior di Carnegie Endowment for International Peace, yang pernah men-tweet bahwa dia "lonely and alone/petarung tunggal" di berbagai forum dan konferensi di AS, tapi tidak laku. Shi Wen percaya bahwa perang dagang Trump melawan Tiongkok adalah sesuatu yang ingin dilakukan oleh presiden AS sebelumnya tetapi tidak memiliki keberanian untuk melakukannya.

Liu Yawei menekankan bahwa ketegangan antara Tiongkok dan AS tidak disebabkan hanya satu kali ini saja, tetapi oleh masalah yang terakumulasi selama bertahun-tahun. Dari masa Richard Nixon hingga 2010, orang Amerika selalu percaya bahwa melalui "kebijakan kontak/conrtact policy" dan pertukaran tingkat ekonomi, tiongkok dapat bergerak ke arah AS dan sistem menjadi lebih terbuka.

Namun, bertentangan dengan harapan, pemahaman tentang AS ini mulai berubah dari 2012. Khususnya selama Kongres Nasional ke-19, AS mencoba untuk mengubah impian Tiongkok agar sepenuhnya terbangun. Penggunaan globalisasi Tiongkok telah semakin kuat, dan visi Tiongkok untuk masa depan adalah bertentangan dengan AS, AS percaya bahwa penerapan "kebijakan kontak" harus direm dan hubungan Sino-AS harus ditinjau kembali.

Namun pendapat Liu Yawei diatas tidaklah bisa dianggap benar, dan tidak bisa mewakili pendapat dan sikap sebagian besar warga AS terhadap Tiongkok. Sedang tindakan Trump mengadakan perang dagang tujuan untuk mengambil keuntungan pada pemilu pertengahan waktu AS yang akan diadakan tahun ini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4