Mohon tunggu...
Sucahya Tjoa
Sucahya Tjoa Mohon Tunggu... Konsultan - Lansia mantan pengusaha dan konsultan teknik aviasi, waktu senggang gemar tulis menulis. http://sucahyatjoa.blogspot.co.id/

Lansia mantan pengusaha dan konsultan teknik aviasi, waktu senggang gemar tulis menulis. http://sucahyatjoa.blogspot.co.id/

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Dilema Hubungan NATO-Uni Eropa dan Rusia

26 Juni 2017   19:24 Diperbarui: 26 Juni 2017   19:31 4264
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilusrasi dari :World Flag Database+ Theodora.com+ Getty Images+ Forbes+ The Telegraph-enchandlearning.com

Kondisi kerja-sama telah menjadi permusuhan, dan itu semua karena krisis Ukraina tiga tahun lalu.

Pada 21 Nopember 2013, mantan Presiden Ukraina Viktor Yanukovych tiba-tiba menolak untuk menandatangani Perjanjian Bergabung dengan Uni Eropa yang telah melakukan negosiasi sejak 2007, dan malah berpihak pada Rusia.

Tindakan ini menyebabkan protes di seluruh Ukraina, dan turbulensi mulai terjadi di negara ini. Pada bulan Pebruari 2014, dengan intervensi dari AS dan kekuatan eksternal lainnya, pemerintah Ukraina digulingkan, namun situasinya tetap tidak tenang.

Pada saat itu, Putin dengan cepat mengirim pasukan ke Krimea dan menganeksasinya, melepaskan Krimea dari Ukraina dan mencaploknya ke dalam Rusia. Kemudian AS dan Uni Eropa bergabung bersama untuk menerapkan beberapa kali sanksi terhadap Rusia. AS dan Uni Eropa mengeluarkan Rusia dari G8 dan benar-benar mengisolasi Rusia. Namun Rusia tidak mau tampil lemah, juga membalas dengan meng-sanksi ekonomi Eropa.

Tiga tahun telah berlalu, "simpul" krisis Ukraina tetap tak mencair antara Rusia dan Uni Eropa.

Masalah Uni Eropa cukup menjadi rumit sekarang. Bagi Uni Eropa, tidak dapat melupakan dan tidak dapat sepenuhnya berkompromi dengan masalah Krimea, karena bagaimana mungkin organisasi abad ke-21 seperti Uni Eropa mengizinkan logika politik abad ke-19 untuk tetap bekerja? Dan membiarkan hal ini terjadi, jika dibiarkan terjadi maka keseluruhan moral seluruh Uni Eropa akan benar-benar hilang. Jika hal itu diakui, maka akan mengarah ke sepuluh negara Eropa Timur lainnya. Jadi sebenarnya Uni Eropa dalam situasi yang sulit.

Dengan "simpul" masalah Ukraina belum terselesaikan, selama tiga tahun ini, Uni Eropa telah menyadari bahwa dikarenakan hubungannya dengan Rusia memburuk, Uni Eropa telah membayar harga yang lebih tinggi daripada AS.

Menurut penelitian dari Austrian Institute of Economic Research menunjukkan bahwa sanksi terhadap Rusia dan konter sanksi dari Rusia terhadap Uni Eropa, telah menyebabkan kerugian ekonomi bagi Uni Eropa dengan kehilhangan 17,6 milyar euro dan kehilangan 400.000 pekerjaan pada tahun 2015. Hal ini menyebabkan kerusakan baru pada ekonomi Uni Eropa yang telah mengalami stagnasi. Tapi bagi AS justru perdangangannya dengan Rusia meningkat dalam jumlah besar.

AS mempertimbangkan isu-isu ini berdasarkan kepentingannya. Jadi ketika AS mendapati Uni Eropa menjatuhkan sanksi kepada Rusia, hal itu terutama karena di satu sisi, AS tidak dapat benar-benar memberikan sanksi apapun. Karena total perdagangan AS dan Rusia kurang dari 30 miliar USD per tahun, tapi lebih dari 20 miliar USD per tahun. Itu harus mengkondidikan Uni Eropa dan Jepang untuk ikut memberi sanksi kepada Rusia.

Jadi dalam hal sanksi dan balas sanksi antara Uni Eropa dan Rusia, yang menjadi korban utama adalah Uni Eropa. Hal dlam hal ini negara-negara Uni Eropa yang menjatuhkan sanksi keras terhadap Rusia, sedang AS hanya menumpang saja. Meski AS menjatuhkan sanksi terhadap Rusia tahun lalu dan tahun sebelumnya, tapi total perdagangan AS dengan Rusia justru menaik. Jadi membuat perusahaan Uni Eropa kesal melihat hal ini. Saat Uni Eropa memberlakukan sanksi keras terhadap Rusia, namun perusahaan-perusahaan AS telah menaikan perdagangannya dan menggunakan kesempatan untuk mengambil alih pasar di Rusia yang mereka tinggalkan.

Selain itu, banyak negara Eropa saat ini menghadapi pemilihan dan membutuhkan lingkungan keamanan yang stabil. Secara geopolitik Uni Eropa yang bertetangga dengan Rusia, jika sekarang ini  terjadi peningkatan kebuntuan antara NATO dan Rusia, yang pertama terkena dampak adalah negara-negara Uni Eropa.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun