Mohon tunggu...
Sucahya Tjoa
Sucahya Tjoa Mohon Tunggu... Konsultan - Lansia mantan pengusaha dan konsultan teknik aviasi, waktu senggang gemar tulis menulis. http://sucahyatjoa.blogspot.co.id/

Lansia mantan pengusaha dan konsultan teknik aviasi, waktu senggang gemar tulis menulis. http://sucahyatjoa.blogspot.co.id/

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Jalur Sutra Maritim Zaman Kuno 2

12 November 2016   11:43 Diperbarui: 12 November 2016   14:57 599
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sekitar tahun 1610, Dinasti Ming mendekati akhir, sering terjadi penggantian rezim dan sering tejadi peperangan di Tiongkok, akibatnya produksi dan ekspor porselen bitu-putih Tiongkok ke Eropa sempat terjadi terhenti. Sedangkan perminataan bangsawan kerajaan Eropa dan dan bangsawan Eropa meningkat. Dalam keadaan demikian dibagunlah khusus pabrik Royal Dutch Delftware (Royal Delft).

Pedagang dari Dutch East India Company, atas perintah dari kerajaan, mengimpor glasir dan pigment biru-putih dari Jingdezhen dan tempat-tempat lain di Tiongkok, dan ahli-ahli tembikar terkenal seluruh kerajaan di Belanda dikumpulkan, untuk mulai mencoba membuat porselen biru-putih dari Jingdezhen di Delft.

Untuk membuat porselen biru-putih bahan dari porselen merupakan prasyarat. Tapi di Belanda tidak ada kaolin, sehingga pengrahjin tembikar Belanda hanya bisa memanfaatkan tanah liat lokal untuk membuat porselen untuk membuat porselen biru-putih. Tapi tubuh porselen yang terbuat dari tanah liat ini setelah dibakar terlihat berwarna kecoklatan, berbeda sama sekali dengan porselen biru-putih buatan Tiongkok.

Setelah pengrajin Delft berpikir keras, akhirnya mereka menemukan jalan keluarnya. Pertama mereka menyemprotkan kapur pada permukaan tubuh yang berwarna kehijauan, kemudian mereka mengecat pola menurut yang dikehendaki, terakhir disprot dengan glasir dand dibakar dalam kiln. Dengan sangat menakjupkan hasilnya hampir menyerupai porselen biru-putih buatan Tiongkok.

Namun, selanjutnya pengrajin Delft menghadapi masalah lain. Porselen biru-putih yang dihendaki dan diorder bangsawan kerajaan dan para bangsawan menghendaki pola yang detail dan indah, dan harus ditangani dengan akurat. Untuk mengkopi gambar adalah hal yang mudah, tapi untuk menulis karakter huruf kanji sungguh sulit bagi mereka.

Dalam rangka untuk memenuhi pesan dengan jumlah besar tiruan porselen biru-putih Tiongkok dalam waktu pendek, para pengarajin akhirnya dalam meniru krakter-karakter huruf kanji mereka menciptakan tanda-tanda khusus, dimana tidak sesulit jika meniru huruf kanji sebenarnya, sehingga tercipta fitur yang berbeda dari karakter huruf kanji yang sebenarnya.

Dari tahun 1647-1665, Delft berhasil memproduksi tiruan porselen berkualitas tinggi biru-putih Tiongkok, dan memperkembangkan suatu porselen khusus khas mereka yang disebut Blue Delftware. Kini Delft dijuluki Jindezhen Eropa.

China Paviliun Brussel Belgia

Leopol II raja Belgia, penggemar besar porselen Tiongkok. Setelah dia naik tahta pada tahun 1865 dan memerintah selama 44 tahun. Dia tidak saja terobsesi dengan porselen Tiongkok, tapi juga sangat merindukan tentang Tiongkok, dia berharap suatu ketika bisa pergi berkunjung ke tanah yang dianggap misterius ini beberapa hari di sisa hidupnya.

Leopol II membangun sebuah bangunan bergaya Tiongkok di dekat istananya di Brussel dan menamakannya “China Pavaliun”. Seperti namanya “China Paviliun” adalah ruang pamer untuk semua jenis Porselen Tiongkok, seperti porselen biru-putih, porselen panca warna, porselen familie-rose, porselen berwarna Guangzhou, yang merupakan jenis utama untuk diekspor pada periode saat raja Kangxi, Qianlong hingga Yongzheng sebagai raja dari Qing Dinasti.

Selain dari itu, ada jenis porselen lain yang dicat khusus dengan simbol/emblem keluarga bangsawan, lambang korp, potret yang disebut emblem. Pada pokoknya paviliun ini pada dasarnya sebuah museum indah porselen.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
  10. 10
  11. 11
  12. 12
  13. 13
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun