Mohon tunggu...
Mas Nuz
Mas Nuz Mohon Tunggu...

Suka maka, suka jalan, suka nulis, suka bercengkerama, suka keluarga. __::Twitter: @nuzululpunya __::IG: @nuzulularifin __::FB: nuzulul.arifin __::email: zulfahkomunika@gmail.com __::www.nuzulul.my.id::

Selanjutnya

Tutup

Wisata Pilihan

Desa Wisata Malangan Mematut Diri dengan Potensi Kearifan Lokal

13 Maret 2017   21:04 Diperbarui: 14 Maret 2017   23:42 832 8 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Desa Wisata Malangan Mematut Diri dengan Potensi Kearifan Lokal
Dokumen pribadi

Entahlah, tiba-tiba saja saya ingin membahas sebuah tema serius tentang pariwisata. Bukan apa-apa sih. Ini agar menjadi huruf tebal, huruf dengan garis bawah, dan huruf miring sekalian bila perlu. Lha kok?

Pekerjaan rumah bagi seorang penulis adalah menulis. Sebagaimana pekerjaan rumah yang kemarin diberikan oleh Pak Wiji saat berada di Desa Wisata Malangan (DWM). Salah satu desa wisata yang puluhan tahun mati suri sejak tahun mulai dicanangkan tahun 1998 yang lalu. Kunjungan saya bersama para Kompasianer, bloger, fotografer, serta penggiat pariwisata Jogja, Sabtu (11/3) seolah membuka mata kita (lagi) lebih lebar. Indonesia ini kaya bray! Asli kaya. Tapi mengapa justeru kini kita terpuruk secara ekonomi dengan hutang negara yang menumpuk?

Mbuhlah! Kita abaikan pertanyaan retoris terakhir. Sekarang tugas saya adalah menulis tentang sebuah desa dengan keragaman potensi wisata yang luar biasa. Waktu seharian yang kami tempuh kemarin rasanya masih amat kurang. Kayuhan sepeda onta yang saya naikipun sepertinya masih teramat dekat. Jiaahh...hahaha.

Baiklah, saya mulai saja ya. Eits, tadi belum mulai ya? Hehehe.

Bukan Bambu BiasaUntuk mencapai DWM ini sebenarnya cukup mudah (bagi yang sudah tahu). Tapi benar kok. Cuma berjarak 100 meter ke arah barat dari bangjo (perempatan) Gedongan Moyudan. Atau sekitar 5,5 km. barat Pasar Godean. Bila ditempuh dengan kendaraan pribadi, jarak 18 km bisa ditempuh dengan waktu cuma 50 menitan (cek lokasi di sini) via Jl. Bener/Jl. Godean. Gang/jalan masuk DWM tepat berada di depan sekolah Perguruan Muhammadiyah Sumberagung, Moyudan, Sleman.

Malangan sendiri merupakan salah satu dari 21 pedukuhan di wilayah Desa Sumberagung. Sejak tahun 1998, dusun ini telah dicanangkan oleh pemerintah sebagai salah satu desa wisata di Kabupaten Sleman. Selain bertani, kerajinan ayaman bambu yang telah menjadi tradisi pekerjaan yang turun-temurun dimiliki oleh masyarakat Dukuh Malangan dan sekitarnya. Hal itulah yang menjadi pertimbangan mengangkat salah satu potensi lokal desa menjadi ikon wisata DWM. Namun seiring runtuhnya Orde Baru, runtuh pula semangat untuk mengembangkan potensi wisata tersebut.

Kerajinan ayaman bambu menjadi mata pencaharian yang biasa saja. Sebagaimana petani yang mengerjakan sawah. Tak ada yang istimewa. Padahal seiring berjalannya waktu, kerajinan bambu yang dihasilkan oleh masyarakat Sumberagung telah merambah pasar ekspor Eropa, Amerika, Asia, serta Australia. Hal ini tak lepas dari tangan dingin mendiang Amad Saidi. Order pertama dalam jumlah besar datang dari seorang pengusaha Selandia Baru pada tahun 1974. Hal tersebut mendorong peningkatan keterampilan kepada 1500-an pengerajin bambu di wilayah Moyudan dan Minggir.

Seiring berjalannya waktu, tahun 1990-an produk anyaman bambu dari Malangan Sumberagung telah mendunia. Hal ini pulalah yang mendorong Pemda Kab. Sleman (saat itu) memilih KWM Sumberagung sebagai salah satu desa wisata unggulan di Sleman. Meski pada akhirnya orientasi promosi wisata ‘tertinggal’ oleh konsentrasi warganya kepada pekerjaan produksi anyaman bambu itu sendiri.

Tangan dingin Amad Saidi ternyata memang cukup ampuh. Di tangannya, Tunggak Semi menjelma menjadi inti (pabrik) dengan plasma (anak angkatnya) yang tersebar di daerah DIY, Jateng, hingga Jatim. Hingga tahun 2006 kepemimpinan beralih kepada Suryadi, putera ke-3 dari 4 bersaudara. Suryadi menggantikan Amad Saidi yang wafat pada tahun itu pula.

Di bawah kepemimpinan Suryadi, moderenisasi alat lebih ditingkatkan. Demikian juga untuk peningkatan kapasitas dan kualitas produksi. Hal ini tak lepas dari para pemesan yang berasal dari merek-merek alat rumah tangga internasional. Tak heran, untuk pekerja inti yang berada di dalam pabrik bisa mencapai hingga 300 orang saat permintaan sedang tinggi.

Uniknya lagi, meski saat ini sedang ngetren penjualan lewat media daring, Suryadi sama sekali tak tertarik dengan itu. Rata-rata konsumennya adalah agen perusahaan besar dari Amerika, Eropa, Asia, maupun Australia. Mereka datang langsung ke pabrik dengan membawa model khusus sesuai pesanan mereka. Hal ini pula yang menjadi alasan, mengapa Suryadi tidak mau membuat katalog produk. Penghargaan terhadap karya cipta pemesan sangat dijaga privasinya. Pun menghindari adanya tuntutan dari konsumen jika produk yang sama (telah dipatenkan) digunakan untuk perusahaan yang lain.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN