Mohon tunggu...
Abdul Susila
Abdul Susila Mohon Tunggu... Fanatik timnas Indonesia, pengagum Persija, pecinta sepak bola nasional

anak kampung sungai buaya yang tak punya apa-apa di jakarta selain teman dan keinginan untuk .....

Selanjutnya

Tutup

Hobi

Resensi: "Pardedetex Medan", Skripsi Sejarah Tanpa Tanggal

14 Oktober 2020   14:46 Diperbarui: 14 Oktober 2020   14:52 5 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Resensi: "Pardedetex Medan", Skripsi Sejarah Tanpa Tanggal
Sampul buku Pardedetex Medan, difoto pada 14 Oktober 2020.

Judul buku: Pardedetex Medan Klub Legendaris di Medan 1968-1984
Pengarang: Rizal Andi
Penerbit: Pagan Press
Tahun Terbit: Oktober 2020
Tebal halaman: 136 halaman

"Gultom, kau harus tahu. Kalau aku ikut campur dalam setiap usaha haruslah menjadi yang nomor satu. Semua nomor satu, tidak mau nomor dua. Kau lihat pabrik tekstil ini, penangkapan udang, semua nomor satu. Sekarang aku mau ikut sama parbola (pemain bola), jadi harus nomor satu," kata T.D Pardede, pendiri Pandedetex Medan, klub sepak bola era Galatama

Itulah kutipan yang membuatku tertarik untuk membeli buku dengan sampul "amatir" ini. Menceritakan klub sepak bola Medan tetapi menggunakan latar gambar Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, kiranya kemiringan logika. Sudah begitu, foto skuad Pardedetex yang dipajang dikemas dengan teknik potongan yang tidak klinis. Daniel Jethro kiranya bertanggung jawab. 

Ternyata, buku ini adalah skripsi. Karya ilmiah mahasiswa strata satu yang dibukukan. Ini tulisan akhir mahasiswa sebagai salah satu syarat dinyatakan mendapat gelar sarjana Ilmu Sejarah dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga, Surabaya, Jawa Timur. Format penyajian dalam buku ini pun nyaris tak jauh berbeda dengan format teknik penulisan skripsi. 

Seperti umumnya skripsi, kisah yang dibagikan menggunakan pola dari umum ke khusus. Jika menggunakan istilah sepak bola, buku ini menggunakan strategi penguasaan bola untuk memenangkan pertandingan. Masalahnya, kisah umum mendominasi. Sejarah Pardedetex tak dikupas dengan tuntas. Setidaknya tidak memenuhi ekspektasi saya sebagai pembaca. 

Dalam mengisahkan Pardedetex misalnya, pada bab kedua dan ketiga, hanya ada satu tanggal, yang itu pun tanggal berdirinya perusahaan tekstil T.D Pardede. Tanggal-tanggal penting klub, sebagai bukti bahwa ini adalah sejarah klub, nyaris nihil. Tanggal-tanggal penting malah muncul terkait dengan timnas Indonesia, yang itu sudah agak tercerabut dari akar masalah. 

Terlepas dari itu, karya pemuda asal Lamongan berusia 22 tahun ini layak diapresiasi. Upaya Rizal menghadirkan literasi sepak bola nasional, patit diacungi jempol. Sungguh tak mudah menggali sejarah sepak bola klub-klub Indonesia yang jumlahnya ratusan, bahkan ribuan. Upaya penggalian Rizal dalam buku ini, cukup memuaskan sebagai sebuah skripsi. 

Tetapi, sebagai sebuah buku, dengan sebelumnya menghatur maaf, saya akan mengatakan karya Rizal masih jauh. Jauh dari ekspektasi saya tentu saja.  Entah buat orang lain. Terakhir, terima kasih untuk karyanya. Semoga lahir lagi karya sejarah sepak bola lainnya, yang semoga itu memuaskan buat saya pribadi.  

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x