Gayahidup

Nabi Ibrahim dan Sapi Panggang

17 November 2017   09:10 Diperbarui: 17 November 2017   09:26 394 0 0

by Sayf Muhammad Isa

Nabi Ibrahim adalah bapak para Nabi. Ada banyak Nabi yang kita kenal sekarang ini adalah keturunan dari Nabi Ibrahim. Nabi akhir zaman sekaligus Nabi pamungkas yang diutus Allah swt. ke muka bumi ini adalah juga dari keturunan Nabi Ibrahim. Dialah Nabi Muhammad shalallahu'alaihi wasallam. Dalam salah satu ayat Alquran, Allah swt. berfirman: "Dan kami anugerahkan kepada Ibrahim, Ishaq dan Ya'qub, dan Kami jadikan kenabian dan kitab kepada keturunannya, dan Kami berikan kepadanya balasan di dunia; dan sesungguhnya dia di akhirat, termasuk orang saleh," (Al-Ankabut: 27).

Tentunya D'Riser udah pada tau dong tentang kisah Nabi Ibrahim? Beliau adalah salah satu dari Nabi yang paling sabar (Ulul'azmi), dan cukup banyak kisah hidup beliau yang dituturkan baik di dalam Alquran maupun Hadist.

Nabi Ibrahim adalah putra dari seorang lelaki bernama Tarikh, dalam sumber lain disebutkan ayahnya bernama Azar. Sayangnya, ayahnya ini ternyata seorang penyembah berhala dan bahkan menjual banyak berhala hasil pahatannya. Jadi kerjaannya ngejual "tuhan" (hehe). Di dalam surah Maryam dikisahkan bahwa Nabi Ibrahim juga berdakwah kepada ayahnya, agar ayahnya ini mau menyembah hanya kepada Allah. Sayangnya, ayahnya ini malah marah-marah dan mengancam bahwa Ibrahim akan dirajam kalau nggak mau berhenti dari dakwahnya. Dengan tetap mengucapkan kata-kata yang baik, Nabi Ibrahim pun pergi dari rumahnya karena ayahnya tetap dalam kekafiran.

Istri pertama Nabi Ibrahim adalah Sarah. Imam Ibnu Katsir dalam kitabnya Qashasul Anbiya mengisahkan, Sarah adalah wanita yang cantiknya nggak ketulungan. Selain itu, ia juga sangat taat kepada Allah swt. Nabi Ibrahim dan Sarah adalah pasangan serasi. Setelah puluhan tahun berlalu, Nabi Ibrahim dan Sarah belum juga dikaruniai anak. Karena itulah Sarah mengusulkan agar suaminya menikah saja dengan sahayanya yang bernama Hajar. 

Nabi Ibrahim pun menerimanya. Dari pernikahan inilah, lahirlah seorang anak laki-laki, yang kemudian diberi nama Ismail. Karena merasa cemburu, Allah kemudian memerintahkan Nabi Ibrahim untuk memindahkan Hajar dan Ismail ke sebuah tempat terpencil di Jazirah Arab. Allah swt. memiliki rencanaNya sendiri.

Suatu hari, datanglah tiga orang lelaki tampan dengan mengucapkan ke rumah Nabi Ibrahim. Ia sama sekali tidak pernah mengenal siapa ketiga lelaki tampan itu. Allah swt. berfirman: "Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tamu Ibrahim (malaikat) yang dimuliakan? (Ingatlan) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan 'salaman'. Ibrahim menjawab 'salamun', (mereka itu) orang-orang yang belum dikenalnya," (Adz-Dzariyat: 24-25).

Nggak tanggung-tanggung, untuk memuliakan tamu-tamunya itu, Nabi Ibrahim menghidangkan daging anak sapi panggang (barberque kali ye!). Nah di sini terjadi keanehan. Daging anak sapi panggang yang lezat dan aromanya nikmat itu nggak dicoleh sedikit pun oleh ketiga tamunya. Padahal mereka adalah orang-orang nggak dikenal yang kemungkinan adalah musafir, dan salah satu momen yang ditunggu bagi para musafir adalah ketika disuguhkan makanan oleh tuan rumah. Maka Nabi Ibrahim menjadi waswas dan bertanya-tanya tentang siapa gerangan para tamunya itu!? Allah swt. berfirman: "lalu dihidangkannya kepada mereka (tapi mereka tidak mau makan). Ibrahim berkata, 'Mengapa tidak kamu makan?' Maka dia (Ibrahim) merasa takut terhadap mereka. Mereka berkata: 'Janganlah kamu takut,' dan mereka memberi kabar gembira kepadanya dengak (kelahiran) seorang anak yang alim (Ishaq)," (Adz-Dzariyat: 27-28).

Sarah pun muncul dengan heboh, bahkan sampe memukul wajahnya sendiri, karena ia mendengar kabar gembira dari tamu-tamu yang asing itu. Tapi sarah bertanya-tanya, ia adalah seorang wanita tua yang mandul, mana mungkin punya anak. "Kemudian istrinya datang memekik, lalu menepuk wajahnya sendiri seraya berkata, '(Aku ini) seorang perempuan tua yang mandul.' Mereka berkata, 'Demikianlah Tuhanmu berfirman, sungguh Dialah yang Mahabijaksana, Maha mengetahui,'" (Adz-Dzariyat: 29-30).

Para tamu itu kemudian mengabarkan bahwa sebenarnya kedatangan mereka ke rumah Nabi Ibrahim sekadar mampir. Tujuan utama mereka adalah kepada kaum homo yang tinggal di negeri Sodom. Kepada orang Sodom itu diutus seorang Nabi yang juga masih memiliki hubungan keluarga dengan Nabi Ibrahim, Luth. Nabi Luth adalah keponakan dari Nabi Ibrahim. Dari sini bisa kita ambil pelajaran bahwa Allah berkehendak atas segala sesuatu. Tidak ada yang tak mungkin bagi Allah. Semoga kita menjadi generasi yang selalu bergantung dan memohon hanya kepada Allah.[]