Mohon tunggu...
Maimai Bee
Maimai Bee Mohon Tunggu... Novelis - Penulis

Hai. Saya Maimai Bee, senang bisa bergabung di Kompasiana. Saya seorang ibu rumah tangga yang mempunyai tiga orang putra. Di sela waktu luang, saya senang membaca dan menulis. Salam kenal.

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Pembinaan Sepak Bola Usia Dini

27 November 2022   18:35 Diperbarui: 28 November 2022   07:54 772
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Setiap kali perhelatan akbar piala dunia sepak bola digelar, selalu timbul tanda tanya besar di benak. Kenapa negara tercinta kita Republik Indonesia hingga saat ini belum pernah ikut berkompetisi di ajang internasional itu? Dulu pernah, sewaktu zaman Hindia Belanda.

Padahal sepak bola adalah olahraga paling digemari di negeri ini. Semua kalangan, baik tua, muda, miskin hingga kaya. Hampir semua mencintai sepak bola, dari pelosok daerah hingga ibu kota. 

Negara kita juga memiliki kompetisi liga sepak bola yang tak kalah mentereng dibandingkan dengan negara lain. Setiap pertandingan selalu ramai penonton dan suporter yang fanatik. 

Meski begitu, jumlah penggemar sepak bola di tanah air berbanding terbalik dengan prestasi Tim Nasional Indonesia. Bisa dihitung berapa kali tim negara kita menjuarai kompetisi skala internasional, baik dalam piala AFF, AFC dan FIFA. 

Miris menurut kaca mata saya sebagai orang awam. Karena dengan 275 juta jiwa penduduk negara ini, seharusnya banyak sumber daya manusia berbakat yang bisa dilatih untuk menjadi pesepak bola handal. 

Berkaca dari itu, saya menyoroti pembinaan sepak bola yang ada di sekitar. 

Kebetulan saya mempunyai anak tiga orang anak laki-laki. Mereka semua berminat menjadi pemain sepak bola profesional. Sebagai orangtua yang mendukung cita-cita buah hati, kami mendaftarkan mereka ke Sekolah Sepak Bola (SSB). Masing-masing dimulai dari usia tujuh tahun. 

Namun, banyaknya SSB ternyata bukan jaminan terciptanya pemain-pemain mumpuni. Saya perhatikan ada beberapa faktor penyebabnya, antara lain: 

1. Tidak semua SSB yang aktif dan mempunyai agenda pembinaan usia dini. 

2. Masih banyak pelatih usia dini yang belum memiliki lisensi. Dalam hal ini, kurangnya dukungan dari PSSI untuk penyegaran ilmu kepelatihan. Pelatih yang berpendidikan tentunya lebih kompeten dalam membina dan mengasah bakat-bakat pemain muda. 

3. Minimnya sarana dan prasarana SSB. Dapat dilihat dari bola yang tidak layak pakai, tidak ada cones, gawang ukuran kecil, rompi dan lain-lain. Sehingga proses latihan tidak maksimal. Lapangan sepak bola juga banyak yang tidak terawat. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Bola Selengkapnya
Lihat Bola Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun