Mohon tunggu...
Mahyu Annafi
Mahyu Annafi Mohon Tunggu... Lainnya - Guru Ngaji

Hamba yang sedang belajar menulis, suka membaca dan menelaah berbagai pemikiran. Saya condong menulis ke dunia pendidikan, metal dan isu sosial. Angkatan ke 38 di Kelas Menulis Rumah Dunia (KMRD) di Serang. Sehari-hari berdagang dan menulis di blog.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Jangan Bunuh Korban Pelecehan!

12 Juni 2024   14:38 Diperbarui: 12 Juni 2024   16:15 80
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Jangan Bunuh Korban Pelecehan. Sumber: Pixabay/pimonpim

Publik dibuat geger atas kasus yang terjadi di Tangsel dan Bekasi. Dua tempat yang berbeda tapi satu kasus yang sama, melecehkan buah hatinya.

Cerita ini bermula saat ibu korban melihat postingan di facebook, tergoda dengan rupiah dan ditawari untuk membuat video blue. Ia sebagai pemain, lantas lawannya siapa? Buah hatinya. Anak yang tak berdosa itu pun menjadi korban ibunya sendiri.

Alangkah emosinya ia, video itu sudah dikirim tapi janji uang yang dikirim pun hanya halu. Tak ada jejak sedikit pun. Siapa yang menjadi korban? Dirinya dan pasti buah hatinya. Ditipu karena tergoda untuk kepentingan semu. Ia pun menyesal.

Apa arti penyesalan kalau sudah terjadi?

Penyesalan itu pun semakin menjadi-jadi karena video asusilanya tersebar ke mana-mana. Sempat jadi trending. Kecaman datang silih bergnti. Tak lama pihak berwajib bergerak, dan ia pun tak berdaya ditangkap pihak berwajib.

Entah ke mana naluri keibuannya. Sosok yang seharusnya ada untuk menjaga juga melindungi buah hatinya, pada jadinya menjadi aktor berdarah dingin yang merampas kesucian buah hatinya. Anak yang lugu dan ceria itu pun murung dengan kenyataan pahit ini. Anak yang malang!

Salah siapa ini?

Bukan, bukan salahmu Nak. Ini murni salah ibu yang kekurangan akal melakukan laku amoral. Salah ibu yang tak mampu mengelola kejiawaan. Tak mampu mengedepankan nurani dibanding gejolak jiwanya.

Sementara ini pihak berwajib mengatakan motif pelaku karena ekonomi dan kejiwaaan pelaku normal. Artinya, saat pelaku melakukan aksinya sadar dan bisa jadi memahami konsekwensinya. Himpitan ekonomi lagi-lagi alasan utamanya.

Melihat kasus ini hal yang amat miris adalah masa depan buah hatinya. Anak sekecil itu harus menghadapi kenyataan pahit. Di masa yang masih butuh peluk kasih ibuya, di masa ia ingin dimanja ibunya, di saat yang sama ibunya menjadi monster bertopeng!

Hal yang miris terjadi, korban pelecehan seringkli adalah orang yang paling besar menanggung beban kejiawaan. Cemoohan dan kejiawaan orang tak beradab acapkali terjadi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun