Humaniora

Hukum Berkuda dan Relevansi

11 Oktober 2017   18:00 Diperbarui: 11 Oktober 2017   18:07 1111 0 0
Hukum Berkuda dan Relevansi
Terdapat hubungan dan saling berkaitan antara satu dengan yang lain (ilustrasi: Theindonesianinstitute.com)


Nabi saw. memerintahkan umat islam untuk mengajarkan berenang, memanah, dan berkuda kepada anak-anaknya. Ya, memang permainan itulah yang diperintahkan beliau. Sebagaimana hadist berikut.

Setiap sesuatu tidak termasuk mengingat Allah, ia merupakan permainan yang sia-sia, kecuali empat hal: seorang lelaki yang berjalan diantara dua tujuan (untuk memanah), melatih kuda, bermesraan dengan keluarga, dan mengajarinya berenang. (H.R. At Thabrani)

Pada kesempatan kali ini saya tidak akan membahas mengenai memanah, tidak juga dengan berenang, bermesraan dengan keluarga apalagi. Hehe. Namun, saya akan lebih fokus pada hal berkuda.

Dari hadist di atas, Nabi memerintahkan untuk berkuda karena dengan berlatih berkuda seseorang akan belajar dan mengerti apa artinya memimpin, memimpin diri sendiri juga memimpin orang lain. Karena dengan berlatih berkuda seseorang akan mengerti betapa pentingnya keseimbangan. Dan karena dengan berlatih berkuda juga, seseorang akan belajar mengenai relevansi. Berlatih berkuda dalam hal ini bukan hanya berolahraga dengan kuda melainkan semua kegiatan yang berkaitan dengan kuda.

selangkah lebih maju untuk menjadi panutan (ilustrasi: 1000kata.com)
selangkah lebih maju untuk menjadi panutan (ilustrasi: 1000kata.com)

Misalkan gini, apabila seseorang akan memandikan hewan peliharaan, katakanlah seekor kuda, di sungai, maka apa yang dilakukan orang itu pertama kali? Ya, pasti seseorang itu akan menuntun kudanya terlebih dahulu ke sungai. Dalam keadaan yang seperti itu, secara tidak langsung kita telah menjadi pemimpin, menjadi leader atas kuda kita.

Seorang pemimpin, seorang guru, seorang yang mempunyai bawahan, harus terlebih dahulu 'ke sungai'.  Artinya dia harus menyontohkan dahulu apa yang harus dilakukan oleh bawahnnya. Seorang guru harus menyontohkan dahulu kepada anak didiknya. Itulah yang disebut hukum relevansi.