Mohon tunggu...
Mahliana De Uci
Mahliana De Uci Mohon Tunggu... dan bagaimana saya harus mengisi kolom ini?

Gemar menonton bola dan main PES. Asli Majalengka.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Langit-Langit Putih di Pandangan

7 Mei 2019   03:11 Diperbarui: 7 Mei 2019   03:40 0 3 0 Mohon Tunggu...

Perlahan kau buka mata dan seketika menyipitkannya karena neon yang menempel di langit-langit terasa menyilaukan. Itu bukan langit-langit kamarmu. Putih, bersih dan luas dibanding milikmu yang sejengkal dua jengkalnya dihiasi hunian keluarga laba-laba atau tawon. Ini lebih mirip langit-langit kantor pemerintahan atau sekolah. Dua bangunan yang tak terlalu akrab denganmu.

Meski bersekolah sembilan tahun, kau tak pernah menyukainya. Yang jelas tidak untuk bangunannya. Soal kawan-kawan dan gadisnya itu hal lain. Kau sering membualkan kisah-kisah penyimpangan aturan di tongkrongan. Bahkan hingga kini ketika memori-memori mudamu mulai menguning dan perlahan pudar terbawa aliran peristiwa lain yang sebenarnya tidak semenyenangkan masa sekolah dulu. Apa boleh buat, toh semua orang mengalami itu. Lagipula kau jago mengarang dan lubang-lubang cerita itu mudah saja ditambal dengan bualan lain yang, menurutmu tentu saja, lebih hebat.

Yang paling berkesan tentu ketika merokok di atap masjid. Kala itu masjid tengah dicat ulang. Menyambut penilaian provinsi, kau mereka ucapan Mang Uhen, penjaga sekolah tua yang juga paling dekat denganmu. Kemudian kau lihat tangga bambu tersandar di belakangnya. Entah dapat bisikan dari mana, esoknya kau ajak Yos dan Agi buat manjat ke atas. Tak peduli akan terik matahari pukul 10 di langit bulan Juni atau tatapan bingung para kuli bangunan, kau sulut rokokmu di situ.

Sebatang rokok itu tak jauh berbeda dengan batang-batang lain. Namun, kau dapat merasakannya. Keasyikan yang tak kau dapatkan di batang-batang yang kau hisap di tempat lain. Suatu perasaan bangga akan capaianmu mengelabui sistem keamanan yang ketat atau sebutlah ilusi bayangan. Setelah tertempa oleh peristiwa-peristiwa dan kembali menoleh, kadang kau tak habis pikir juga akan pengalaman itu dan bertanya sendiri mengapa kau melakukannya dulu.

Namun kali ini, bukan itu yang mengganggu pikiranmu. Melainkan langit-langit di atasmu. Putih, bersih, tak bernoda. Selintas tebakan berkelebat di kepala tapi tenggorokanmu tercekat. Inikah...ruang setelah..mati? Kemudian ngeri memaharaja.

Memang sudah sedari kecil, kau mendengar kabar tentang alam ini. Dari pepatah ibu, dari pengeras suara mushola, dari omelan nenek, dari pelajaran agama, dari celoteh kawanmu yang sedang mabuk, dari sinetron di televisi, dari artikel-artikel internet. Tetap saja mengalaminya secara langsung membuatmu bergidik. Bayanganmu, ini bakal menjadi ruang tunggu penggambaran laku semasa hidup. Dan kau tidak percaya diri.

Bukan berarti menyesal karena, sejak beranjak remaja, kau berusaha mengubur rasa sesal yang datang dalam-dalam. Lebih pada rasa tidak nyaman menghadapi penilaian. Dalam pandanganmu, semua telah terlalui dengan baik. Meski ada beberapa hal yang dapat diperbaiki tapi kau sudah berjuang semampumu. Tentu saja berdasar pada hematmu sendiri. Tapi, bagaimana dengan hemat Si Bos Besar? Tanda tanya besar memenuhi dadamu, membuatmu terbatuk-batuk keras. Lalu, air mengalir dari mulutmu. Air, air, lebih banyak air dan seketika terlonjak dari rebahanmu.

"Kang, kang. Alhamdulillah! Bu, si akang bangun!" kau dengar suara cempreng adik sepupumu, Ocid.

Kau dapati ibu dan nenek memelukmu, sekujur tubuh basah, serta selingkaran orang yang menampakkan wajah lega. Telaga di sampingmu memantulkan warna jingga dari langit. Ya, langit bersemu jingga di atas sana. Kau menghembuskan nafas sedalam-dalamnya.

KONTEN MENARIK LAINNYA
x