Mohon tunggu...
Mahir Martin
Mahir Martin Mohon Tunggu... Guru, Aktivis dan Pemerhati Pendidikan

Penulis: Satu Tahun Pembelajaran Daring, Dirayakan atau Disesali? (Penerbit Deepublish, 2021); Hikmah Pandemi Covid-19 Relevan Sepanjang Masa (Guepedia, 2021); Motto: Reflection Notes: Ambil hikmahnya...

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Mengambil Poin Era Post-truth, Pandemi, PPKM, dan Kisah Nasruddin Hoja

10 Januari 2021   10:50 Diperbarui: 11 Januari 2021   06:01 686 10 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Mengambil Poin Era Post-truth, Pandemi, PPKM, dan Kisah Nasruddin Hoja
Ilustrasi post truth.(SHUTTERSTOCK/ FRANKHH via kompas.com)

"Get the points," itu judul buku pelajaran Bahasa Inggris untuk melatih kemampuan membaca kami ketika di SMA dulu. Buku ini mengingatkan saya kepada sosok Nasruddin Hoja, seorang sufi satirikal asal Turki yang dikenal dengan kisah-kisah dan anekdotnya yang lucu. Kisah-kisah Nasruddin Hoja banyak digunakan di buku tersebut.

Nasruddin Hoja banyak dianggap orang sebagai filsuf dan orang bijak. Pada setiap kisah-kisahnya, selain lucu, banyak makna-makna filosofis yang disampaikan di dalamnya. Karena maknanya filosofis, terkadang banyak pembaca yang perlu berpikir keras untuk mengambil poin atau maksud dari kisah-kisahnya. 

Oleh karenanya, kisah-kisahnya banyak dijadikan pembelajaran untuk melatih kemampuan memahami bacaan ketika belajar bahasa, terutama ketika mempelajari bahasa asing.

Era Post-truth

Dalam komunikasi, baik dengan media lisan atau tulisan, mengambil poin atau maksud dari sebuah pesan sangatlah penting. Seperti kita tahu, pesan yang disampaikan adalah salah satu bagian dari komunikasi, selain adanya pemberi pesan dan penerima pesan.

Seperti halnya sebuah cerita, artikel juga bisa digunakan sebagai alat komunikasi menyampaikan pesan. Penulis adalah pemberi pesan, pembaca adalah penerima pesan, dan isi artikel adalah pesan yang ingin disampaikan. Bagi seorang penulis, pastinya akan merasa bahagia jika pesan dalam artikel yang ditulisnya dipahami secara benar oleh pembaca. Artinya pembaca mampu mengambil poin dari apa yang dituliskan.

Namun sayangnya, terkadang pesan yang terkandung dalam informasi banyak yang disalah artikan. Karena derasnya informasi, berita hoax dan fakta pun sulit dibedakan. Jika tidak berpikir kritis, masyarakat akan mudah untuk memahami persepsi yang salah, tidak mampu mengambil poinnya. Salah satu penyebabnya adalah munculnya era informasi yang disebut dengan era post-truth atau era pasca kebenaran.

Kata post-truth sendiri mulai dikenal masyarakat sejak kata tersebut dipilih sebagai "Word of the year" oleh kamus Oxford pada tahun 2016. Kata post-truth sendiri berarti bahwa bukti ilmiah memiliki pengaruh yang kecil dalam melawan isyarat terhadap "kebenaran yang dirasakan." 

Artinya, "ketertarikan kepada emosi" lebih berpengaruh daripada "fakta objektif", sebagaimana kamus Oxford mendefinisikan istilah tersebut, dan kebenaran itu sendiri telah "menjadi tidak relevan".

Ketika kita memperhatikan post-truth, penting untuk mempertimbangkan cara tertentu di mana kebenaran direlatifkan. Secara implisit atau eksplisit, penyangkalan kebenaran biasanya akan menyebabkan pemikiran teoritis konspirasi (conspiracy-theoretical thinking).

Banyak teori konspirasi yang timbul di dunia. Yang sangat menyita perhatian publik adalah teori konspirasi politik terkait peristiwa Brexit dan terpilihnya Trump sebagai presiden Amerika Serikat (AS) pada pemilihan presiden (pilpres) AS tahun 2016.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN