Mohon tunggu...
Mahbub Setiawan
Mahbub Setiawan Mohon Tunggu... Dosen - Bukan siapa-siapa

1/2 kemanusiaan, 1/2 ketidaktahuan

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Lebaran dalam Makna Langit, Bumi, dan Diri Sendiri

16 Juni 2018   23:05 Diperbarui: 16 Juni 2018   23:18 1252
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber: altphotos.com

Setiap tahun umat Islam pasti merayakan hari raya setelah sebulan penuh berpuasa. Hari raya yang disebut dengan idul fitri atau bahasa lokalnya lebaran. Ia merupakan tradisi keagamaan yang tidak hanya bersifat sakral tetapi juga sosial bahkan kultural.

Disebut sakral karena lebaran merupakan tradisi keagamaan seperti halnya tradisi keagamaan lainnya yang dilakukan oleh kalangan umat beragama. Tradisi ini berakar dari keyakinan keagamaan yang bukan merupakan hasil dari imajinasi manusia belaka, tetapi merupakan ajaran yang memang didasarkan pada perintah Tuhan (Allah).

Disebut sosial karena lebaran menjadi fenomena masyarakat atau umat Islam yang tidak sekedar dilakukan oleh satu dua orang saja tetapi oleh semua yang memeluk keyakinan keagamaan Islam. Semua umat Islam di mana pun ia berada pastilah menjalani hari raya tersebut. Tidak peduli di mana ia berada.

Disebut kultural karena lebaran merupakan ekspresi budaya seperti kebiasaan mudik dan praktik tradisi lainnya sesuai dengan latar belakang budaya masing-masing. Di desa-desa ada yang memeriahkan lebaran ini dengan tradisi makan ketupat, tradisi menyalakan petasan atau tradisi balon udara dan tradisi-tradisi lainnya yang dilekatkan ke dalamnya.

***

Dalam sifatnya sebagai sesuatu yang sakral, lebaran bisa diartikan sebagai makna langit. Makna yang tidak harus diragukan kebenarannya dalam menyempurnakan rangkaian ibadah umat Islam di dunia. Agama sebagaimana kita tahu adalah ujaran-ujaran langit (Tuhan) yang diturunkan demi kepentingan manusia dalam menjalani kehidupannya.

Manusia bagaimanapun cerdas dan inteleknya, tetap saja memerlukan panduan dan bimbingan Tuhan dalam menelusuri dan menjalani kehidupannya di dunia ini. Jadi lebaran adalah salah satu cara bagaimana Tuhan berkomunikasi dengan manusia melalui rangkaian ajaran-ajaran-Nya. Sehingga tidak ada alasan untuk menyatakan bahwa manusia tidak memiliki kontak dengan Tuhannya dalam berbagai cara.

Sakralitas dari lebaran sebagai makna langit berarti bahwa lebaran memiliki nilai dan makna yang berada di luar batas-batas nalar dan intelek manusia. Nilainya bukan merupakan hasil dari kesepakatan umum manusia khususnya umat Islam. Ia merupakan fenomena dengan muatan nilai dan makna yang dipaketkan langsung dari Tuhan.

Mengapa Tuhan memberikan paket nilai dan makna dari sebuah hari raya kepada manusia? Tentu saja ini merupakan isyarat bahwa Tuhan pun "peduli" dengan tabiat manusia. Tabiat yang menjadikan manusia sebagai makhluk yang menyenangi kemeriahan, kesenangan dan riang gembira.

Setelah sebulan penuh umat Islam menjalankan ibadah yang menguras kekuatan mental dan fisiknya, menjadi naluriah jika manusia mengharapkan rasa suka cita dan keriangan massal. Meskipun fenomena tersebut bukan merupakan "pahala" bagi umat Islam, tetapi bisa dimaknai sebagai bentuk "imbalan" kesenangan Tuhan kepada umat Islam.

Ini berlaku juga bagi agama-agama lainnya di muka bumi ini. Tidak ada agama di muka bumi ini yang tidak memiliki hari raya yang membuat umat pemeluknya merasa riang dan gembira dalam menyambut dan menjalaninya. Tuhan Maha Tahu dengan semua kebutuhan manusia yang bersifat material dan imaterial (psikologis dan mental).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun