Mahbub Setiawan
Mahbub Setiawan Opo wae dilakoni

Setengahnya kemanusiaan, setengahnya ketidaktahuan

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Belajar tentang Kesederhanaan dan Ketulusan dari Ubi Rebus

14 Februari 2018   21:58 Diperbarui: 15 Februari 2018   09:49 833 15 12
Belajar tentang Kesederhanaan dan Ketulusan dari Ubi Rebus
Ubi rebus (tribunnews.com)

Sekarang ini musim hujan. Udara terasa sangat dingin di desaku ini. Kadang-kadang berhari-hari aku malas mandi karena hawa dingin. Untung saja keringat tidak sering keluar, jadi upaya pembersihan diri tidak menjadi keharusan.

Hal yang paling nikmat di saat musim dingin seperti ini adalah menulis artikel untuk Kompasiana ditemani segelas teh atau kopi panas. Ditambah juga satu sajian kuliner desa yang bentuk dan rasanya 100% alami, ia adalah ubi rebus.

Itu dia, ubi rebus tanpa modifikasi dan tanpa pengolahan melibatkan teknologi canggih. Dimasaknya cukup dengan dicemplungkan ke dalam panci berisi air mendidih. Tidak ada bumbu apa pun, tidak ada resep apa pun. Benar-benar sajian natural penuh kejujuran.

Ubi yang direbus ini ubi jalar. Kata orang sunda namanya "hui", hanya beda penempatan huruf i saja sehingga ia tidak menjadi "hiu". Kalau salah sebut berabe jadinya; hiu rebus. Wow... segede apa wajan atau panci untuk merebusnya?

***

Ubi rebus adalah kesederhanaan. Sederhana dalam tampilan, sederhana dalam rasa dan sederhana dalam harga. Tetapi walau sederhana, ubi itu sarat dengan nilai gizi, minimal karbohidrat. Itu kara orang ahli gizi, sebab aku sendiri bukan ahli gizi, tetapi orang kekurangan gizi.

Ubi itu jelek tampilannya. Dia tidak seperti jeruk yang menawan dan warna-warni. Hidupnya pun di bawah permukaan tanah. Sudah jelek penampilannya, ia pun tidak terlihat oleh publik. Sungguh itu nasib yang tidak beruntung.

Tetapi walau ia jelek dan tidak jadi selebritas kuliner, ia tetap ada di bumi Indonesia. Ia menjadi peserta kuliner desa yang jadi santapan rakyat jelata. Ia amat dekat dengan masyarakat ekonomi lemah dan kaum duafa.

***

Dari sini ada pelajaran. Pelajaran tentang keakraban hidup. Bahwa hidup kadang harus akrab dengan sesuatu yang tidak terlalu berharga. Karena berharganya bukan dari tampilan dan bentuk fisiknya, tetapi dari intensitas dan kualitas keakraban dengannya.

Akrab tidak harus mewah. Akrab tidak harus dipoles kosmetik dan hasil dari riasan salon kecantikan. Akrab bisa lahir karena sama-sama mengalami nasib yang sama. Sama-sama terisolasi, sama-sama terpendam, sama-sama satu nasib.

Ubi dan orang desa adalah makhluk dengan nasib yang sama. Sama-sama tidak kedengaran di pentas nasional. Sama-sama tidak kedengaran suaranya karena tertimbun di bawah tanah dan kemiskinan.

***

Tidak penting jadi terkenal. Tidak penting jadi selebritas. Yang penting bisa bermanfaat bagi manusia lewat apa pun itu caranya. Lewat tenaga, pikiran atau harta benda.

Seperti halnya ubi, tidak penting dia harus ada di supermarket atau tidak. Tidak penting dia harus masuk sebagai komoditas ekspor atau tidak. Selama ia mengenyangkan orang desa dan penulis Kompasiana Junior seperti saya, ia tetap berharga.

Maka peran dan fungsi eksistensial dari makhluk itu tidak harus dibarengi dengan kemegahan dan gemerlapnya gelar dan jabatan. Selama ada orang yang merasa terbantu dan mengambil manfaat secara positif dari makhluk tersebut, maka ia adalah makhluk yang sama-sama berguna.

***

Ubi layak untuk dihormati sebagaimana manusia menghormati sesamanya. Menghormati sesama tidak harus melihat status sosial dan derajat ekonominya. Menghormati sesama tidak harus melihat popularitasnya.

Selama sesama itu masuk dalam klasifikasi manusia dan makhluk Tuhan, mereka berhak mendapatkan penghormatan yang selayaknya. Layak sebagaimana menghargai ubi sesuai dengan fungsi dan peranannya sebagai menu sambilan.

Penghormatan terhadap ubi tidak harus dibuatkan undang-undang. Apalagi memaksa manusia untuk menghormatinya. Ubi tidak menuntut demikian. Ia hanya "menuntut" dianggap sebagai makhluk Tuhan.

Ia juga tidak akan tersinggung jika dilempar atau diinjak oleh manusia. Ubi rela menerima segala perlakuan manusia tidak beradab dan tidak beretika. Ubi tidak protes terhadap semua itu. Toh biar Tuhan saja yang akan menghukum manusia yang melecehkan ubi dan menghinakannya.

***

Luputnya ubi dari penghormatan dan penghargaan manusia, mungkin dikarenakan ia tidak menjadi prioritas dalam kehidupan seseorang. Seseorang yang tanpa prioritas juga demikian. Ia akan sepi dari pengakuan dan penghormatan sesamanya.

Di dunia ini, memang antara harga dan penghormatan itu menjadi saudara kembar. Orang yang dihargai pasti dihormati dan sebaliknya. tetapi itu sesungguhnya hanya sebagian saja dari cara menghormati. Itu cara penghormatan kaum awam dan kaum permukaan.

Antara harga dan penghormatan tidak harus dijadikan berbarengan. Kita menghargai pengemis dan gelandangan meskipun mereka tidak berharga di mata orang lain. Tidak berharga karena atribut tempelan seperti tidak kaya, tidak berpendidikan atau tidak teratur.

Tetapi di dalam diri mereka ada harga yang sama-sama bernilai; harga kemanusiaan. Mereka manusia juga yang sama-sama dihargai oleh Tuhan melebihi hewan dan tumbuhan. Itu adalah harga yang tidak kelihatan di mata manusia kebanyakan.

***

Maka tidak populer bukan berarti tidak bernilai. Tidak kelihatan bukan berarti tidak berperan. Tidak bagus bukan berarti tidak tulus. Tidak berharga bukan berarti tidak terhormat.

Semua julukan dan sematan tersebut tidak harus kembali kepada apa yang tampak, tetapi pada substansi dan esensinya. Yang tampak hanya untuk memudahkan manusia biar cepat bereaksi dan merespons. Yang tampak bukan satu-satunya ukuran.

Demikian, coretan-coretan dari seonggok ubi jalar rebus yang menemani selama membuat tulisan ini. "Ah, untung ada ubi rebus, sehingga jari jemari ini bisa menari terus. Salam sejahtera ubi rebus, semoga kau hidup terus walau di ladang yang tandus."

Baca juga: Dialog Lumpur, Kita adalah Saudaranya

***