Mohon tunggu...
Mahbub Alwathoni
Mahbub Alwathoni Mohon Tunggu... Praktisi Pendidikan Tinggal di Grobogan

Pembelajar sepanjang hayat merindukan Indonesia yang sejahtera dan bermartabat

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Belajar kepada Syaithon

3 April 2015   23:31 Diperbarui: 17 Juni 2015   08:34 0 0 0 Mohon Tunggu...

Menjadi pemain super antagonis dalam sebuah sinetron sangatlah berat, ketika jalan-jalan di mall bisa jadi akan dikrubuti banyak orang, bukan minta tanda tangan tapi dikasih tanda tangan atau tanda kaki di kening, dipipi, dibibir, disekujur tubuh.  Apalagi menjadi pemain super antagonis dalam jagad semesta, seperti yang harus diterima oleh iblis dan turunannya (syaithon).  Atas kemenjadiannya sebagai pemain super antagonis dijagad semesta, kita sebagai manusia justru tidak menaruh kasihan kepada mereka, Iblis dan syaithon selalu dihujat, dicaci maki, dikambing hitamkan, padahal mereka secara anatomi benar-benar bukan kambing.  Disetiap khutbah banyak khatib menyebut segala sifat negatifnya, tapi mereka sepertinya "sabar", belum pernah mendengar ustadz yang habis menghujat mereka dipengajian, lalu ditengah jalan sang ustadz dihadang syaithon, lalu digebuki. Padahal jika kita merenung, banyak sekali perilaku mereka yang perlu diteladani, meskipun banyak juga yang wajib dijauhi dan tidak ditiru.  Ada beberapa perilaku mereka khususnya krucil-krucil yang bernama syaithon yang dipandang baik

  1. Syaithon selalu mencari teman sebanyak-banyaknya, ini beda dengan ormas berbalut agama yang tidak takut masuk syurga sendirian, justru mencari musuh sebanyak-banyaknya.
  2. Tempo hari, si Paijo yang gemar sekali mabuk dan mencuri ayam, suatu ketika berjalan ditengah malam. Ia akhirnya bertemu salah satu spesies syaithon, ia lari tunggang langgang sambil menyebut Astaghfirullah, MasyaAllah, Allahu Akbar.  Seumur-umur Paijo belum pernah menyebut kalimat yang agung tersebut, gara-gara syaithon akhirnya menyebut juga.
  3. Ada banyak diantara kita yang terlihat taat beragama, punya stempel "iman" didahinya, atau jenggot panjang yang tak rapi terjuntai seperti menjadi indikator ilmu agamanya, tapi lucunya mereka sangat takut kehilangan "kursi", atau berusaha berebut "kursi" dengan segala cara.  Atau bisa dilihat para pemimpin kita yang terlihat agamis, tapi mempertahankan "kursi"-nya dengan segala cara.  Lihat bagaimana syaithon, mereka justru sangat takut dikasih hadiah ayat "kursi".

Baca selengkapnya di http://mahboeb.net