Mohon tunggu...
Karnoto
Karnoto Mohon Tunggu... Me Its Me

Wiraswasta | Pernah Studi Ilmu Marketing Communication Advertising di Universitas Mercu Buana, Jakarta | Penulis Buku Speak Brand | Suka Menulis Tema Komunikasi Pemasaran | Branding | Advertising | Media | Traveling | Public Relation. Profil Visit Us : www.masnoto.com

Selanjutnya

Tutup

Fesyen Pilihan

Personal Branding Sang Hijabers

5 November 2019   13:10 Diperbarui: 5 November 2019   13:32 0 2 1 Mohon Tunggu...

Geliat hijrah di Indonesia semakin tidak terbendung, apalagi dengan hijrahnya sejumlah public figure tanah air terutama para seleberitis. Dalam konteks perubahan, hal ini sudah pernah diprediksi oleh Yuswohady dalam bukunya Marketing The Middle Class Muslim beberapa tahun lalu.

Pada tulisan kali ini saya tidak ingin membahas fenomena hijrah dalam konteks spiritual, melainkan ingin mengulas personal branding para hijabers. Dalam pengamatan saya, disadari atau tidak mereka telah melakukan personal branding sebagai seorang muslimah.

Indikasi ini bisa dilihat dari aktivasi branding yang mereka lakukan dengan mengenakan simbol muslimah, seperti hijab dan niqab (cadar). Aktivasi ini semakin diperkuat dengan aktivasi lain seperti konten sosial media para hijabers yang selaras dengan personal branding mereka sebagai seroang muslimah.

Konten upload sosial media mereka sangat kental sekali dengan identitas personality yang melekat dalam diri mereka. Tak hanya konten, komunikasi visual seperti foto dan video merekapun sarat dengan aktivasi branding sebagai seorang muslimah.

Dalam teorinya, branding personal seseorang akan stag jika aktivasi yang dilakukan tidak selaras dengan brand personalitynya. Misalkan, hijabers stylish yang justru menampilkan kekakuan dalam sisi penampilan. Ini yang saya maksudkan antara brand personal dengan aktivasi brandingnya tidak selaras.

Sering saya tuliskan bahwa branding itu sebuah proses di mana di dalamnya ada public relation, komunikasi visual, advertising, event dan tools-tools lainnya yang harus selaras dengan brand itu sendiri. Jika tidak selaras maka yang terjadi brand terserbut akan kabur karena tidak jelas visualnya seperti apa.

Dalam konteks para hijabers, sejauh yang saya amati dengan melihat foto dan video yang mereka upload masih on the track. Contohnya ada seorang hijabers stylish maka akan diikuti sejumlah konten, video dan foto yang menunjukan atau memantapkan mereka sebagai sosol hijabers stylish.

Ada pula seorang hijabers energik, hijabers serius dan hijabers cerdas. Para hijabers yang saya ceritakan dia tas tinggal menyisakan satu pekerjaan rumah yaitu konsisten dengan personal brand mereka. 

Personal branding yang dilakukan sejumlah hijabers juga sekaligus menghapus stigma buru yang selama ini disematkan pada mereka, seperti fesyen monoton karena dulu hanya warna hitam, tidak bisa bergaya tapi ternyata mereka bisa bergaya mulai dari fotography, videio visual, bisnis, berkuda, menyetir, bela diri dan lain sebagainya.

Bahkan saya melihat aktivasi personal branding mereka keren-keren dan dilakukan seperti sistematis padahal boleh jadi mereka tidak tahu teori branding. Cara mereka memperkuat personal branding pun tergolong cakep sehingga kita akan melihat dilapangan hijabers dengan personal brand masing-masing.

Ada hijabers yang menjadi pengusaha, hijabers fotography, hijabers youtuber, semua komunitas yang sebelumnya dianggap sebagian masyarakat tidak mungkin dilakukan oleh mereka yang mengenakan hijab apalagi cadar. Seperti yang sampaikan beberapa kali bahwa personal branding bukanlah merekayasa kepribadian

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2