Mohon tunggu...
Maharani L.
Maharani L. Mohon Tunggu... Manusia Biasa

membaca ibarat menambang, semakin dalam, semakin banyak hal berharga yang didapati.

Selanjutnya

Tutup

Teknologi Pilihan

Optimalisasikan Teknologi dalam Pendidikan di Masa Pandemi Covid-19

30 Oktober 2020   16:52 Diperbarui: 30 Oktober 2020   17:01 120 2 0 Mohon Tunggu...

Evaluasi Reflektif PJJ pada Masa Pandemi Covid-19

Prokrastinasi akademik merupakan fenomena yang terjadi secara masif di antara partisipan Pembelajaran Jarak Jauh di Indonesia. Mahasiswa sebagai harapan bangsa dalam pembangunan menjadi salah satu elemen komunitas pendidikan yang terdampak secara signifikan dan diuji resiliensinya. Salah satu bentuk prokrastinasi yang menguji resiliensi mahasiswa adalah disparitas akses informasi baik karena perbedaan kekuatan sinyal maupun kurangnya penguasaan teknologi oleh sebagian partisipan kegiatan pembelajaran (Mulawarman, 2020).

Degradasi kualitas penyampaian materi di kelas secara resiprokal akan mempengaruhi kemampuan mahasiswa dalam menerima materi yang disampaikan di kelas, tetapi menegasikan fakta berkurangnya kemampuan mahasiswa menerima materi, tugas-tugas baru yang menjadi pengganti pembahasan materi yang belum terselesaikan ikut bertambah secara kuantitatif (Siahaan, 2020). Dalam hal ini prokrastinasi mahasiswa menjadi bukti kerentanan pendidikan dan mekanisme kopingnya untuk menemukan resolusi yang presisi, salah satu yang paling signifikan dilatarbelakangi disparitas akses informasi (Syafutra, 2020). 

Menganalisisnya lebih spesifik, tenaga pendidik yang lebih memilih untuk melakukan pembelajaran sinkronus, menghadapi tantangan besar berupa penambahan potensi kerentanan fisik dan mental mahasiswa diperparah dengan screen fatigue. Mengutip Didin et al. (2020), kesulitan, usaha mental, kegelisahan, kelelahan, dan beban mental meningkat secara signifikan pada metode pembelajaran synchronous dengan nilai RSME 93,27; 94,5; 94,27; dan 96,54 sedangkan lebih kecil pada metode asynchronous 79,61 dengan konsiderasi kualitas penyampaian materi.

Seperti yang dipaparkan sebelumnya, ketidakstabilan jaringan menjadi keluhan terbesar bagi 38,34% dari 120 responden, 31% lainnya mengatakan interaksi sepihak juga mengganggu penyampaian konten tenaga pendidik, dalam asynchronous sendiri, permasalahan terkait kurangnya konsentrasi mahasiswa sebesar 23,13% juga masih menjadi permasalahan yang belum terselesaikan (Handayani, 2020). Oleh karena itu, dalam rangka penyelesaian permasalahan prokrastinasi mahasiswa, diperlukan perhatian yang besar juga pada kesehatan fisik dan mental oleh seluruh partisipan PJJ. 

Merefleksikan kembali pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh di Indonesia yang mengalami intensifikasi akibat adaptasi sistem pendidikan pada masa Pandemi Covid-19, dapat dikonkluksikan beberapa titik yang hendaknya menjadi fokus utama evaluasi dan perbaikan sistem yang telah dijalankan.

Pada hakikatnya, pelaksanaan PJJ dilakukan dengan tujuan untuk tetap menyelenggarakan pendidikan yang efektif di era pandemi. Akan tetapi, beberapa kendala mampu menyebabkan proses PJJ menjadi tidak efektif dan justru menimbulkan eksternalitas negatif kepada berbagai elemen yang terdapat dalam sistem pendidikan di Indonesia.

Seperti telah disinggung sebelumnya, aspek Sumber Daya Manusia memainkan peran yang signifikan dalam menyusun, mengimplementasi, dan mengevaluasi pelaksanaan PJJ. Eksternalitas negatif tersebut dapat diatasi dengan beberapa alternatif yang bersifat mengubah pelaksanaan PJJ secara sistemik (perubahan major) dan perbaikan sederhana guna menyesuaikan dengan sarana dan prasarana peserta didik dan tenaga pendidik 

Dalam Andriani dan Pangaribuan (2007) disebutkan bahwa PJJ yang baik menuntut adanya penguasaan teknologi informasi yang mumpuni dari tenaga pendidik dan peserta didik guna menciptakan lingkungan pembelajaran yang efektif. Selain itu, juga disebutkan pentingnya adaptasi bahan ajar atau muatan berupa silabus atau rencana pembelajaran agar mampu disampaikan melalui media internet atau lainnya secara efektif, khususnya media internet atau daring yang memerlukan sumber daya kuota internet untuk mendapatkan akses terhadap bahan ajar tersebut.

Sutedja (2020) menyebutkan bahwa proses pembelajaran akan efektif jika mampu dibentuk atmosfer yang fun dan kondusif. Dapat kita analisis kembali bahwa atmosfer yang menyenangkan dalam proses pembelajaran ini dapat diciptakan dengan memperhatikan durasi pembelajaran (tidak terlalu lama atau terlalu sebentar agar penyampaian materi dapat dilakukan secara efektif), materi pembelajaran yang mudah dimengerti dan hemat sumber daya (dalam hal ini kuota) dan kesiapan sumber daya manusia khususnya tenaga kependidikan yang bertugas menjadi fasilitator dan pembimbing proses belajar. 

Sebagai penutup, keberhasilan sistem pendidikan yang harus melalui proses adaptasi akibat merebaknya pandemi Covid-19 di Indonesia harus menjadi tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat. Pemerintah sebagai penyelenggara eksekutif sistem pendidikan di Indonesia harus mampu memberikan kebijakan yang solutif bagi peningkatan efektivitas PJJ.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x