Mohon tunggu...
Mahaji Noesa
Mahaji Noesa Mohon Tunggu... Pernah tergabung dalam news room sejumlah penerbitan media di kota Makassar

DEMOs. Rakyat yang bebas dan merdeka

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Ternyata Ada Gajah Kerdil Endemik Sulawesi di Soppeng

21 Juli 2017   21:08 Diperbarui: 22 Juli 2017   09:29 2590 4 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Ternyata Ada Gajah Kerdil Endemik Sulawesi di Soppeng
Inilah gambar gajah kerdil endemik Sulawesi dan babi purba yang bertaring besar berdasar temuan fosil vertebrata di Lembah Walanae, Sulsel/Ft Repro: Mahaji Noesa

Gajah juga merupakan fauna endemik Sulawesi Selatan (Sulsel). Tidak sama dengan gajah Sumatera atau Jawa. Lantaran bentuk badannya kecil hanya sampai seukuran kerbau, sejumlah ilmuwan peneliti menyebutnya sebagai Gajah Kerdil atau Gajah Kate (pygny/dwarf stegodon). Hewan mamalia yang suka hidup berkawanan tersebut pernah berkembangbiak di habitat kawasan Lembah Walanae dalam luasan ratusan ribu hektar di wilayah yang kini masuk daerah administratif kabupaten Soppeng hingga perbatasan kabupaten Bone, Sulsel.

Itulah, antara lain, informasi purba dari kondisi alam dan lingkungan Sulawesi Selatan sekitar 2 juta tahun silam yang dapat diperoleh dari Rumah Informasi Kawasan Prasejarah Caleo di kelurahan  Ujung, kecamatan Lilirilau, sekitar 20 km dari kota Watan Soppeng, ibukota kabupaten Soppeng.

Rumah permanen ukuran 6x7 meter yang berada di atas bukit kecil bersebelahan dengan Puskemas Baringeng, berdiri sejak tahun 1986 dalam bentuk rumah kayu sederhana mulanya diberi label sebagai Pondok Fosil Caleo. Kala itu, pembangunannya dilakukan oleh Kantor Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala (SPSP) Sulselra, dimaksudkan untuk menjadi ruang pamer terhadap temuan sejumlah fosil vertebrata atau fosil binatang purba dari kalangan ilmuwan peneliti di sepanjang Lembah Walanae, wilayah kabupaten Soppeng.

Rumah Informasi Kawasan Perasejarah Caleo (atas) dengan ruang pamer yang sangat sederhana/Ft: Mahaji Noesa
Rumah Informasi Kawasan Perasejarah Caleo (atas) dengan ruang pamer yang sangat sederhana/Ft: Mahaji Noesa
Sejak arkeolog Belanda Hendrik Robert van Heekeren tahun 1947 menemukan sejumlah fosil binatang purba (vertebrata) di sekitar poros Jalan Negara Cabbenge (Soppeng) -- Pompanua (Bone), sejumlah ilmuwan peneliti dalam dan luar negeri tertarik, silih berganti datang untuk menyimak kehidupan purba yang pernah berlangsung di sepanjang Lembah Walanae kabupaten Soppeng. Berbagai misteri kehidupan jutaan tahun lalu dapat disimak atau direkonstruksi melalui temuan-temuan fosil binatang purba maupun temuan peralatan-peralatan yang digunakan dalam kehidupan manusia purba.

Dari ratusan temuan fosil gajah di sepanjang Lembah Walanae, memberi informasi jika hewan berbelalai ini pernah hidup dan berkembang biak di Pulau Sulawesi. Masih dapat diperdebatkan jika disebut turunan gajah Sumatera atau Gajah Jawa yang migrasi  ke Sulawesi saat laut masih mengering, saat pulau Sumatera, Jawa dan Sulawesi masih menyatu sebagai daratan kontinen di zaman Eosen sampai sekitar 50 juta tahun lalu. 

Terbukti dari temuan fosil-fosil gajah di Lembah Walanae setelah direkonstruksi, menunjukkan gajah di wilayah Soppeng dahulu bentuk tubuhnya kecil-kecil seperti kerbau, tidak seperti ukuran gajah Sumatera atau Jawa yang super besar. Artinya, Gajah Kerdil atau Gajah Kate yang pernah hidup di wilayah Soppeng tersebut juga merupakan salah satu fauna endemik Sulawesi. Hanya ada dan hidup di Sulawesi, seperti binatang Anoa atau Babi Rusa yang populasinya kini juga mulai terancam punah.

Sejumlah serpihan temuan fosil gajah di Lembah Walanae yang ada di Rumah Informasi Kawasan Prasejarah Caleo setelah puluhan tahun hanya dipahami para ilmuwan peneliti, kini sudah dapat dikenali oleh para pengunjung. Bulan April 2017 ada tim konservasi dari Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran, Sragen, Jawa Tengah, membuatkan labelisasi penamaan terhadap sejumlah serpihan fosil gajah purba yang terkumpul selama puluhan tahun temuan ilmuwan peneliti dari dalam dan luar negeri di Lembah Walanae.

Melalui labelisasi tersebut, pengunjung sudah dapat mengenali temuan fosil-fosil gajah purba endemik Sulawesi, seperti fragmen tulang belakang, tulang kering, tulang pelvis, tulang paha, tulang panggul, dan fragmen gading. 

Ada catatan Gert van Den Berg, peneliti dari Universitas Wolongong Australia tahun 1997, menyebut sudah ada kehidupan fauna di Lembah Walanae mulai dari masa Pleistosen. Awal dugaan adanya perpindahan atau migrasi hewan purba sekitar 2,5 juta tahun lalu, hingga masa Holosen saat dimana es di kutub lenyap dan air laut mulai naik menggenangi dataran kering, hingga membentuk adanya pulau termasuk pulau-pulau di Nusantara, sekitar 10.000 tahun lalu.

Pusat Studi Geologi Indonesia pun telah menguji dengan uranium series terhadap sejumlah temuan fosil perkakas batu, diperkirakan telah ada dan digunakan sekitar 118 ribu tahun lalu dalam kehidupan manusia purba di Lembah Walanae.

Sejumlah fragmen fosil vertebrata di ruang pamer Rumah Informasi Kawasan Prasejarah Caleo, kabupaten Soppeng/Ft: Mahaji Noesa
Sejumlah fragmen fosil vertebrata di ruang pamer Rumah Informasi Kawasan Prasejarah Caleo, kabupaten Soppeng/Ft: Mahaji Noesa
Ada temuan fosil gading gajah kerdil yang panjangnya lebih dari 115 cm tahun 1994 oleh ilmuwan peneliti DR G.J.Bastra di Tonjonge, desa Baringeng kecamatan Lilirilau kabupaten Soppeng. Namun,  fosil gading gajah purba Lembah Walanae tersebut kini dijadikan sebagai salah satu koleksi dipajang di ruang pamer Museum Latemmamala di Villa Yuliana kota Watan Soppeng. Panjang gading pun sudah susut kurang dari 1 meter. Di Rumah Informasi Kawasan Prasejarah Caleo kini hanya terpajang beberapa patahan fosil gading gajah dalam ukuran kurang dari sejengkalan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN