Mohon tunggu...
Mohamad AB
Mohamad AB Mohon Tunggu... Penulis - Karyawan

Menulis untuk bertutur kata...

Selanjutnya

Tutup

Cerita Pemilih

Kalau Invisible Hand Telah Berbuat..

16 Februari 2017   20:38 Diperbarui: 17 Februari 2017   18:30 151
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Diakui atau tidak,bangsa ini disayang Tuhan,alasannya tidak lain adalah ,keperjuangan dan kereligiusan penduduknya. Banyak yang sudah memprediksi kehancurannya dari berbagai  ujian yang kita lalui.Krisis moneter,suksesi kepemimpinan Orde baru ,dll. Namun,justru makin terus berjaya hingga kini.Jika dirunut ke belakang,secara historis,bangsa ini dihuni oleh para penduduknya yang masih beriman. Nilai kejuangan bangsa ini,terbukti pada pembukaan UUD 45,yang menyatakan Atas berkat Rahmat  Alloh ,Tuhan YME ,bangsa ini merdeka. 

Bukankah ini bukti otentik ,yang sekarang hampir terlupakan.Ini sebuah,cerminan kulminasi kondisi kejuangan bangsa ini yang tidak pernah lepas dari aktivitas berbangsa dan bernegara. Dan bangsa ini selalu ditolong oleh TanganNya . Pencermatan ini apakah ini masih relevan? Termasuk dinamika politik kehidupan bangsa apakah tidak lepas dari BerkahNYa ? Kenyataan inilah yang perlu kita simak dan buktikan.

Mensikapi realita hasil polling Pilkada DKI ini,tak salah jika kita menundukkan kepala ataupun kalau mungkin pantasnya bersujud pada NYa,lihatlah Invisible Hand telah berbuat,sebuah karya Tuhan dengan adilnya telah berbicara,telah campur tangan,dari TanganNya ,kita saksikan keadlianNYa,yang mengasihi  bukan melukai,yang menyadarkan dengan bahasa hati. Dengan nasehatnya  berupa Realita bukan lagi kata – kata. Tapi ,sudikah kita ambil pelajaran dari sebuah fakta statistik ini?

Karena pengalaman adalah mahal,buktinya ditunjukkan oleh kontestan pilkada ini,dan pengalaman adalah guru yang terbaik,maksudnya  belajar dari trial by error sendiri akan lebih memuaskan hati,sehingga faktor egosentris sering mengalahkan instuisi suara batin,kaki masih menapaki bumi,angan-angan  menjangkau langit,jika itu dilakukan terkadang semakin menjauhkan keinginan dari realita.     

Barangkali yang sedang kita nafikan,kehadiran religuisitas pada aktivitas keduniawian,dianggap tidak relevan lagi,asumsinya apa yang kita perbuat  itulah yang akan diperoleh ,celakanya  menafikan ada campur tangan Tuhan bahkan telah menafikan jalan kedekatan padaNYa.

Hari hari ini kita sedang dipertontonkan,keadilanNYa,lewat fenomena pilkada DKI ini  dimana kita bisa menganalisa ,dimana unsur kemisteriusan ini berlaku,yang  sangat jauh dari perkiraan kita  selama ini selaku manusia biasa. Sepandai pandainya kita manusia merekayasa ,hanya seperti ini yang bisa kita dapatkan,mungkin inilah saatnya Tuhan menjawab apa yang kita klaim  selama ini ,ternyata  sangat tidak layak menurut ukuranNYa. Tidak ada ilmu yang bisa menjangkaunya,andaikan  gunung  sebagai penanya dan lautan sebagai tintanya ,masih jauh dari cukup untuk mengkritisi ke Maha KuasaanNYa.pantaskah kita nafikkan?

Kita tertunduk,kesombongan adalah MilikNYa dan kemurkaanNYa adalah fakta yang tidak bisa kita hindari,semoga menjadi instropeksi bersama,kita bisa pelajari,inilah pengalaman  pilkada DKI yang fenomenal.Yang bisa kita baca ,kenapa  suara Ahok kemenangannya  hanya separuh  targetnya ? kenapa pula perolehan  AHY ini jauh dari yang diprediksi semula ? apakah ini adil ?

Sekilas kita akan menolak realita  ini,namun barangkali Yang Kuasa justru sedang menunjukkan kasih sayangNYa pada AHY supaya makin bersabar dan lebih mendekat padaNYa ,hikmah yang tersiratnya,apa yang dipersangkakan kepada SBY  seperti yang diperlihatkan oleh tim pengacara Ahok  adalah tidak benar, dan bukti realita perolehan  AHY ini adalah jawabannya. Sehingga ,fakta  ini sudah cukup  menjawab  dengan sejelas-jelasnya  melalui  realita  statistik ini. Bukankah ini,suatu jawaban telak ?

Dan  justru akan lebih ironis,jika  AHY yang menjadi sasaran tembak ini betul betul menang angka diatas pesaingnya ,mungkin akan ada gonjang ganjig tak berkesudahan. Barang tentu kemenangan AHY hanya akan menjadi beban berat  untuk dipikul ,karena, awal- awal langkahnya sudah menyangka  ada yang ikut bermain dan mensetting ,skenario  bahkan transkripnya  seperti  sudah ditangan pihak lain walaupun berupa sadapan pembicaraan telepon yang masih menjadi misteri. Begitu ditelanjanginya  SBY sampai orang awampun dibikin mafhum,pantas  jika  AHY menang karena ada dalangnya,siapa lagi kalau bukan SBY sampai orang berkesimpulan  pilkada DKI sebenarnya hanya pertarungan dua poros Cikeas dan Istana, sampai melupakan Anis sebagai sang kuda hitam.

Simpulnya,lewat fakta realita data statistik ini,telah mematahkan hipotesa sangkaan jika SBY  adalah biangnya. Dari hasil polling ini  kita sedang diperlihatkan,lewat realita ini,bahwa AHY adalah manusia biasa seperti kita semua,tidak seperti yang orang lain kira  yang tidak dibackup oleh kekuatan massa apapun,relevankah persangkaan yang ditujukkan kepada SBY ini benar?

Disisi lain,gegapgempita sangkaan  kebablasan yang sampai menuding ketidak netralan ketua MU Kyai Ma’ruf Amin ini  condong ke AHY masihkah relevan?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerita Pemilih Selengkapnya
Lihat Cerita Pemilih Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun