Hijau Pilihan

Gunung Bukan Tempat Sampah

17 April 2018   13:04 Diperbarui: 17 April 2018   13:19 657 1 2
Gunung Bukan Tempat Sampah
dokumentasi pribadi

Pernah dengar tidak Bulusaraung? Jika pernah dengar salah satu taman nasional di Sulawesi Selatan, yakni Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. 

Ya.. Bulusaraung adalah bagian dari taman nasional tersebut.

Jika tidak saya kenalkan sedikit ya.... Bulusaraung adalah nama gunung di Kabupaten Pangkep, yang terletak di Kecamatan Balocci.  

Dahulu sebelum adanya taman nasional bersatus sebagai hutan lindung. Gunung dengan ketinggian lebih dari 1.300 meter dpl merupakan gunung favorit para pendaki. Selain medan yang relatif mudah, terjangkaunya akses menuju desa terakhir menjadi magnet bagi pendaki, termasuk bagi pemula.

Desa terakhir menuju gunung ini adalah Desa Tompobulu. Desa ini telah ditetapkan oleh pemerintah setempat sebagai desa wisata. Desa religius ini mendukung aktivitas wisata di desanya.

Ada hal yang cukup menarik dari desa ini. Salah satunya adalah etnis yang menghuninya. Adalah Suku Dentong, suku tersendiri yang merupakan pencampuran dari Bugis dan Makassar. Bahasa sedikit berbeda baik Bahasa Bugis maupun Bahasa makassar sendiri. Sebaran etnis ini tidak luas, hanya bisa djumpai di DesaTompobulu dan sebagaian di Desa Labuaja, Maros.

Saat ini Bulusaraung telah menjadi salah satu destinasi andalan taman nasional, dengan nama detinasi Kawasan pendakian Bulusaraung. Kawasan pendakian ini merupakan salah satu dari 7 site wisata andalan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung yang lebih dikenal dengan "The Seven Wonders." Olehnya peningkatan pelayanan kepada pengunjung terus dilakukan pihak pengelola.

Untuk meningkatkan pelayanan pengunjung pada Kawasan Pendakian Bulusaraung, pihak Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I menggelar satuan tugas dua minggu sekali.

Beberapa waktu lalu, regu dua menggelar satuan tugas pada tanggal 14--15 April 2018 lalu. Regu ini terdiri dari 6 orang. Satuan tugas ini terdiri dari personil SPTN Wilayah I Balocci.

Setiap personil seksi ini akan mendapat giliran melakukan pendampingan petugas pengelola wisata di Kawasan Pendakian Bulusaraung. Pengelola site wisata ini adalah pemuda masyarakat desa setempat (Tompobulu) yang tergabung dalam Kelompok Pengelola Ekowisata Dentong.

Satgas ini bertugas untuk memberikan pendidikan konservasi bagi para pendaki Gunung Bulusaraung. Menerapkan standar operasional prosedur (SOP) pendakian Gunung Bulusaraung.

Saat registrasi petugas satgas menyampaikan hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan saat mendaki Gunung Bulusaraung. "Boleh mengambil foto, namun kami harap agar para pendaki tak meninggal sampah selama mendaki. Saya harap juga teman-teman pendaki tidak meninggalkan jejak seperti coret-coretan di sherter, batu ataupun di pohon," tegas Realy Krsibiantoro, petugas satgas kepada pendaki.

"Karena tak boleh meninggalkan sampah, kami minta teman-teman pendaki membawa turun sampahnya," tambah Realy. Setiap pendaki kemudian akan mengisi formulir sampah, mengisi daftar barang bawaan yang berpotensi menimbulkan sampah.

Saat turun setiap pendaki akan diperiksa petugas, menyesuaikan sampah yang dibawa turun dengan barang bawaan saat naik gunung. Jika jumlah sampah yang dibawa turun tidak sesuai dengan fomulir sampah (kurang) akan dikenakan denda Rp. 2.000 per item.

Jumlah sampah yang berhasil dibawa turun pendaki tak kurang dari 50 kg. Sampah tersebut kemudian dibawa turun dari Desa Tompobulu menuju Bank Sampah terdekat di Kabupaten Pangkep. Ke depan satuan satgas ini berharap "pendakian zero waste" dapat diterapkan di Kawasan Pendakian Bulusaraung.

Beberapa barang bawaan yang tidak diperboleh saat mendaki gunung ini, di antaranya sabun, pasta gigi dan shampo, karena dapat menimbulkan pencemaran lingkungan. Barang lain yang sering dibawa pendaki adalah speaker atau guitar. Kedua alat ini tidak dibolehkan karena dapat menimbulkan kebisingan yang pada akhirnya dapat mengusik satwa.

Jumlah pengunjung kawasan wisata selama dua hari tak kurang dari 237 orang. "Jumlah pendaki minggu ini cukup banyak, bisa jadi karena libur tanggal merah di hari Sabtu," ujar Realy.

Pendaki masih membawa barang yang tidak seharusnya dibawa saat mendaki, seperti guitar, sabun, dan beberapa barang lainnya yang berpotensi menimbulkan sampah. Ke depan perlu sosialisasi secara massif baik media cetak maupun elektronik untuk menyampaikan SOP ini.

"Sementara ini kami masih berlakukan 2 kali sebulan teman-teman melakukan satgas di Kawasan Pendakian Bulusaraung. Kegiatan ini bertujuan untuk meminimalisir efek dari aktivitas pendakian, seperti membuang sampah selama mendaki ataupun mengganggu satwa di habitatnya," pungkas Iqbal Abadi Rasjid, Kepala SPTN Wilayah I saat kami temui.

Gunung bukanlah tempat sampah. Jadilah pecinta alam, membiarkannya tetap alami tanpa mengusiknya.