Mohon tunggu...
MangArip SN
MangArip SN Mohon Tunggu... Jeneng Peparinge Pepunden

Ajar nulis, nyinauni tulisan

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Diklat PKP 2019, Sebuah Catatan Kecil

2 Desember 2019   10:54 Diperbarui: 3 Desember 2019   11:48 46 0 0 Mohon Tunggu...

Catatan ini tertuang dari apa yang terlintas di pikiran saat sedang menjalani, sebelum, dan sesudah kegiatan tatap muka di hari Minggu ke 3, atau istilahnya IN-3, Diklat Peningkatan Mutu Kegiatan Pembelajaran Tahun 2019 berbasis Zonasi pada hari Minggu (1/12/2019) di Pusat Belajar SMPN 1 Ngadirejo, Temanggung, Jawa Tengah, yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan melalui P4TK PKN dan IPS. 

Bismillahirrohmanirrohiim.... Assalamu'alaikum Warohmatullahi wabarokaatuhu.

Sejak pertengahan pekan ini pikiran saya sudah terbayang pada kegiatan yang akan dilakukan di hari ini, karena memang silabus dan jadwalnya sudah jelas, hanya saja ada kendala dalam prosesnya sehingga meskipun semangatnya tetap ada dan cukup besar, namun dari segi kesiapan materi masih ada banyak kekurangan. Hal ini sepertinya juga dialami oleh beberapa teman GS (Guru Sasaran) yang juga belum menyelesaikan tugas ON-1 dan ON-2, yang merupakan kegiatan mandiri GS di rumah maupun di satuan kerja masing-masing.

Bahkan saya masih belum menyelesaikan tagihan IN-1 maupun IN-2, padahal rangkaian tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, artinya jika tugas 1 belum selesai maka belum bisa melaksanakan tugas 2, dan seterusnya. Kalaupun misalnya saja bisa melaksanakan secara terbalik urutannya, akan membutuhkan pengetahuan, pemahaman dan keterampilan yang kompleks, integral dan komperehensif dalam segala aspek berkaitan dengan kegiatan pendidikan dan pembelajaran di sekolah.

Akibat dari hal tersebut adalah hari ini saya belum bisa menyelesaikan tugas IN-3, yaitu menyelesaikan LK-7 Review (di sana kalau tidak salah tertulis Refiu) RPP.Berarti secara lugas dapat dikatakan bahwa proses pembelajaran saya hari ini belum tuntas, sehingga persentase ketercapaian tujuan pembelajaran secara klasikal dapat dipastikan tidak sampai 100%, dan akan lebih rendah lagi jika GS yang tidak hadir dan atau tidak mengikuti secara penuh karena ada kepentingan lain yang tidak dapat ditinggalkan juga diperhitungkan.

Itu yang pertama, yang kedua adalah saat proses kegiatan IN-3 hari ini. Kedatangan saya yang lebih lambat dari seharusnya membuat saya jadi lebih lambat juga untuk menyesuaikan diri dengan kelas, butuh waktu sedikit lebih lama bagi saya untuk memusatkan orientasi pada materi dan kegiatan kelas, termasuk untuk mempersiapkan alat-alat kegiatan berupa laptop dan peripheral pendukungnya, yakni colokan / roll kabel, charger, flashdisk dan proses menghidupkannya hingga mencari file yang dibutuhkan, tak kurang dari 10 menit untuk menyelesaikan itu semua, dari mulai membuka tas hingga siap mengetik.

Dengan demikian akumulasi dari keterlambatan saya yang secara normatif hanya 10 menit namun pada pada kenyataannya berkembang menjadi 20 menit. Waktu yang sebenarnya amat sangat berharga bagi saya, karena biasanya untuk berangkat melaksanakan tugas rutin sudah lebih dari separo perjalanan, dan kalau misalnya digunakan untuk tatap muka di kelas sudah 1/4 jam pembelajaran, sudah masuk kegiatan inti.

Tapi tak apalah, toh dari keterlambatan itu juga ada manfaat lain yang diperoleh, kepentingan keluarga yang jadi persinggahan awal atas kepentingan utama dalam melaksanakan tugas kehidupan

Jika dikaitkan lagi dengan tujuan kegiatan, maka faktor ini juga akan mengurangi tingkat keberhasilannya, daya serap saya sebagai peserta terhadap materi kegiatan menjadi kurang optimal akibat adanya gangguan yang saya alami dalam proses pembelajaran. Sekalipun ada sisi lain yang bagi saya pribadi menguntungkan, tetapi dari segi efektifitas kegiatan tetap merupakan gangguan yang harus bisa diminimalisir agar setidaknya hasil kegiatan mendekati taraf ideal yang dipersyaratkan.

Ketiga, masih dalam proses kegiatan, kelancaran kegiatan dalam mengikuti pembelajaran saya kali ini agak terganggu karena masih ada perlengkapan pribadi yang tak tersedia karena tak tersiapkan akibat dari ketergesaan. Sambung mata, sejak setahun belakangan ini kemampuan melihat tulisan sudah mengalami degradasi, penyakit degeneratif sudah mulai mempengaruhi kinerja fisik secara umum.

Akibat tidak dapat melihat tulisan dengan jelas maka diperlukan energi yang lebih besar untuk mengalirkan informasi dari laptop ke otak. Beberapa bagian tubuh harus bekerja lebih keras untuk ikut membantu, meskipun teknologi sudah dipakai untuk mengatasi masalah, namun tetap saja ada energi lain yang dibutuhkan, yakni energi untuk menjalankan teknologi itu, begini prosesnya ;

1. Akibat tidak jelas melihat layar laptop, maka perlu pembesaran tampilan hingga 150% agar tulisan dapat terbaca, juga kecerahan layar, perlu setelan yang lebih terang. Tentu saja secara langsung akan mempengaruhi penyerapan daya listrik yang pada akhirnya mempengaruhi daya tahan batere laptop, dan berarti secara umum akan mempengaruhi kinerja laptop. 

Memang sesuatu yang tampaknya sepele, tetapi faktanya banyak teman yang mengeluh komputernya lambat atau baterenya cepat habis dan keluhan lain berkaitan dengan kinerja aplikasi serta sistem yang kurang optimal.

2. Dengan besarnya tampilan layar, maka jendela yang dapat dibuka secara bersamaan dalam satu layar (multitasking) jadi terbatas, jika biasanya bisa melihat sekaligus 2 halaman file, sekarang hanya bisa melihat masing-masing setengah halaman, tangan dan jari harus bekerja lebih keras untuk menggeser-geser pointer di layar, yaitu untuk menggeser halaman yang terpotong dan untuk berpindah jendela kerja yang jaraknya lebih jauh, nyaris selalu bergerak dari tepi kiri layar sampai tepi kanan layar dan dari tepi atas ke tepi bawah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x