Choirul Rosi
Choirul Rosi Pegawai

Cerita kehidupan yang kita alami sangat menarik untuk dituangkan dalam cerita pendek.

Selanjutnya

Tutup

Novel

Teana - Sabra (Part 25)

16 September 2018   09:37 Diperbarui: 16 September 2018   10:12 432 0 0
Teana - Sabra (Part 25)
Koleksi pribadi

Pasar Sabra ramai sekali pagi itu. Matahari bersinar cukup hangat. Banyak sekali pedagang mulai menjual barang dagangan mereka tanpa merasa takut akan muncul kerusuhan ataupun penjarahan seperti dulu. Aneka jenis buah -- buahan dan sayuran tersedia. Karpet warna - warni bermotif khas Timur  Tengah tergantung rapi di tembok -- tembok. Mantel dari berbagai macam bulu hewan tersedia. Semua ditawarkan dari harga yang murah hingga paling mahal.

Suasana pasar cukup ramai. Alunan musik buzuq -- alat musik Timur Tengah yang menyerupai gitar -- dimainkan dengan sangat indah oleh seorang lelaki muda di salah satu sudut pasar membuat suasana pagi itu makin meriah. Para wanita yang sedang berbelanja di pasar ikut bergoyang dan menari saat melewati pemain buzuq yang tampan itu. 

Pemain buzuq yang saat itu mengenakan jubah hijau dan sorban hitam berbulu merak terlihat tersenyum ketika wanita -- wanita itu melempar koin emas kedalam cawan kecil yang ada diatas karpet yang ia gelar didepannya.

Beberapa kedai penduduk yang hancur sudah diperbaiki oleh pihak kerajaan. Tua muda pria dan wanita berkumpul disana untuk merayakan kegembiraan ini. Mereka minum sari buah dan arak berbagai rasa untuk memuaskan dahaga mereka.

Di setiap sudut pasar terlihat beberapa prajurit kerajaan. Para prajurit itu memakai baju besi dengan membawa perisai di tangan kiri dan tombak di tangan kanan. Mereka sedang mengawasi para pengunjung Pasar Sabra. Sebagian dari mereka berjalan -- jalan menyusuri lorong -- lorong pasar untuk menjaga keamanan.

"Ramai sekali pasar ini."

"Benar Tuan. Hamba dengar pihak kerajaan mulai memperketat penjagaan di Pasar Sabra ini."

"Benarkah? tanya Teana. "Mengapa disana banyak sekali prajurit Almeera?" sambungnya.

"Setahu saya, penjagaan keamanan disini dilakukan dua kali. Pagi dan malam, mungkin para prajurit itu sedang bertugas Tuan. Sebab kerajaan tidak ingin terjadi kerusuhan lagi seperti du....."

"Almeera....." ucap Teana memotong cerita Almeera.

"Ada apa Tuan?"

"Sepertinya kau harus menarik perkataan yang baru saja kau ucapkan itu." jawab Teana. Kemudian dengan langkah cepat ia pergi meninggalkan Almeera.

"Tuan... Tunggu..." teriak Almeera mengikuti Tuannya.

Teana berlari mendekati sumber kekacauan itu. Dua orang sedang bersitegang satu sama lain. Terdengar teriakan dari kejauhan.

"Berikan koin emas yang kau punya, atau aku akan membakar kedai milikmu ini."

"Aku tidak akan memberikan koin emas ini. Lebih baik kau pergi saja." ucap si penjual dengan lantang. Ia tak takut sedikitpun.

"Beraninya kau melawanku." balas laki -- laki berjubah hitam itu dengan suara yang tidak begitu jelas karena wajahnya tertutup burka.

"Le... Lepaskan aku." teriak si penjual sambil meronta -- ronta. Nyali si penjual mendadak ciut ketika lelaki itu mencengkeram kuat lehernya.

Dua orang prajurit yang sedang berjaga tidak jauh dari tempat itu segera mengendalikan keadaan. Mereka menghunuskan tombak kepada lelaki berjubah hitam agar ia melepaskan cengkeramannya. Namun sebelum mata tombak itu menyentuh kulitnya, ia dengan cepat menangkisnya hingga membuat kedua prajurit itu tersungkur diatas tanah. Teana segera menolong mereka untuk bangun.

"Lepaskan dia..." teriak Teana lantang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6