Mohon tunggu...
Trimanto B. Ngaderi
Trimanto B. Ngaderi Mohon Tunggu... Penulis - Penulis Lepas

Penulis, Pendamping Sosial Kementerian Sosial RI, Pegiat Urban Farming, Direktur PT LABA Indoagro Nusantara

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup Pilihan

Kebudayaan Makan

3 Juli 2016   06:58 Diperbarui: 3 Juli 2016   08:48 68
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Gaya Hidup. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Rawpixel

KEBUDAYAAN MAKAN

Oleh: Trimanto B. Ngaderi*)

Makan adalah kebutuhan dasar setiap mahkluk hidup untuk menjaga keberlangsungan hidupnya. pun dengan manusia, ia harus makan untuk tetap bertahan. Secara alamiah, orang membutuhkan makan ketika perutnya sudah memberikan sinyal berupa rasa lapar. Rasa inilah yang mendorong manusia mencari makanan untuk mengisi perutnya.

Allah Yang Mahapemurah telah menyediakan alam semesta ini dengan berbagai jenis makanan di dalamnya, baik yang berasal dari tumbuhan maupun hewan, baik yang langsung bisa dimakan maupun yang mesti diolah/dimasak terlebih dahulu. Dan manusia diberi kebebasan untuk memakan apa saja yang dia inginkan dan dia sukai, asalkan jangan yang diharamkan olehNya.

Secara fitrah, ketika perut lapar, ia tidak meminta atau menuntut makanan tertentu, atau dengan kata lain ia tidak pernah menolak apapun yang diberikan kepadanya. Mau dikasih nasi kucing harga seribu rupiah atau dikasih nasi dari beras termahal, ia terima semuanya. Mau dikasih ikan asing atau daging terenak, ia pun menerimanya. Atau mau dikasih soto seharga lima ribu atau seharga lima puluh ribu pun, tetap ia terima.

Demikian pun dengan minum, mau diberi minum air putih atau diberi susu, ia mau menampungnya. Mau diberi teh hangat atau jus buah, ia terima dengan senang hati. Atau mau dituang dengan kopi seharga dua ribu per gelas atau kopi seharga lima puluh ribu segelas, ia pun takkan menolaknya.

Kegiatan industrilah yang telah mengubah makan dari tindakan alamiah dan sederhana menjadi sebuah seremoni budaya yang rumit dan glamor. Lalu, orang ramai-ramai mendirikan warung, kedai, rumah makan, restoran, dan semacamnya. Orang makan tidak  sekedar sepering nasi dengan sendok dan garpu plus sayur dan lauk seperlunya.

Kini orang makan disetting dengan budaya tertentu. Kelengkapan minum dan lauk-pauknya, peralatan makannya, jenis masakan dan variannya, tempat dan suasana makannya, dekorasi dan hiasannya, para penyaji dan pelayannya, musik pengiring dan hiburannya, segala aksesoris dan fasilitas pendukung lainnya. Intinya, makan menjadi persoalan yang rumit dan kompleks.

Belum lagi terkait dengan perihal makan (terutama di restoran). Kita mengenal ragam jenis pelayanan, ragam harga, paket-paket menu, diskon pada momen tertentu atau dengan kartu tertentu, kelas biasa dan kelas VIP, fasilitas delivery order, dll. Ada lagi restoran terpadu, dalam arti sudah sekaligus menyediakan fasilitas-fasilitas pendukung seperti penginapan atau hotel, tempat belanja, ruang internet, biro perjalanan, kids fun, dan seterusnya.

Dominasi syahwat perut

Sekali lagi perut tidak pernah rewel, apapun yang diberikan kepadanya akan ia terima dengan senang hati tanpa pernah menolaknya. Berbeda dengan lidah kita, karena di sanalah asal-muasal rasa dan selera. Nafsu dan syahwat perut bersumber dari sini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Gaya Hidup Selengkapnya
Lihat Gaya Hidup Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun