Mohon tunggu...
Herlya Inda
Herlya Inda Mohon Tunggu... Administrasi - Momhomeschooler

I am the ordinary mom, love Kids, Playing, sometimes writing bout me & Kids activity and homeschooling. visit my blog at https://www.herlyaa.com/

Selanjutnya

Tutup

Ramadan Pilihan

Idul Fitri Setiap Tahun Selalu Ada Kesannya Masing-Masing

24 Mei 2020   22:07 Diperbarui: 24 Mei 2020   22:05 601
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Idul Fitri (pic :jurnalpresisi-pikiranrakyat) 

Masih ingat hari itu Kamis, 17 Maret 1994.  Saya menemani Opa sedang menikmati kopi hangat setelah sholat magrib.  Hari itu adalah hari terakhir rencananya kami berada di rumah Opa untuk pulang kembali ke kota tempat tinggal kami karena libur lebaran sudah hampir habis.   

Tahun 1994 lebaran Idul Fitri jatuh pada tanggal 14 Maret.  Kami telah tiba satu hari sebelumnya di sana, artinya malam itu adalah hari ke lima, dan hari ke 6 adalah saatnya kami pulang agar tidak terlalu letih saat akan masuk sekolah pada hari Seninnya.

"Dek, tadi malam, Opa lihat Oma duduk disana. Oma senyum dengan Opa.  Mukanya mirip dengan Dedek," Ujar Opa kepadaku sambil kusuk-kusuk kepalaku.  

Opa dan Oma -lukisan (Pic : dokpri)
Opa dan Oma -lukisan (Pic : dokpri)

Semua anggota keluarga mengatakan saya mirip dengan Oma.  Oma telah lebih dulu meninggalkan kami saat saya masih berusia 3 tahun.  Jujur waktu itu saya merinding mendengar Opa bicara seperti itu.  Dan ketika saya katakan kepada Mama, Mama langsung diam.

Keesokan siangnya saat kami sedang bersiap-siap pulang dan mengatur barang di bagasi, sementara keluarga lain sudah mulai satu persatu pulang ke kota masing-masing, Opa tiba-tiba terkena serangan Jantung.  Oksigen sudah dipasang, namun Opa masih merasa sesak.  

Saya melihat wajah mama panik, mama sibuk menelepon om (kakak mama) yang juga seorang Dokter Anastesi.  Tidak berapa lama Paktuo datang bersama ambulans.  Sekilas mendengar suara Paktuo berkata kepada Opa untuk membawa ke Rumah Sakit.   Saya mengintip opa melambaikan tangan.  Namun opa tetap dibawa saat itu.

Hanya selang beberapa saat, om yang baru saja berangkat subuh, kembali pulang.  Tante yang baru berangkat naik pesawat, menelepon ke rumah dan meminta bicara dengan siapa saja orang dewasa yang ada di rumah. Hati saya saat itu mulai tidak tenang.

Benar saja.  Opa kembali dibawa pulang menggunakan ambulans, Mama tampak menangis, Papa pun terlihat sedih.  Kami para anak-anak diam tidak berani dan tidak tahu berbuat apa-apa.  Opa meninggalkan kami semua di Hari Jumat, 18 Maret 1994.

Saya ingat sekali, karena kejadian itulah pertama kalinya saya merasa kehilangan orang yang saya cintai.  

Opa seorang kakek gagah dan perkasa yang pernah saya miliki.  Menurut saya sangat keren ketika kami, semua cucu-cucunya diajak berkeliling dengan mobil yang disupir oleh opa sendiri.  Ditraktir makan kue dan dibelikan permen gulali yang dilarang oleh ibu-ibu kami membuat kami seperti bermain sembunyi-sembunyian bersama Opa.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ramadan Selengkapnya
Lihat Ramadan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun