Mohon tunggu...
Luthfi Musthofa
Luthfi Musthofa Mohon Tunggu... Konsultan - Urban Salik

Ajaran tasawuf adalah puisi yang hidup. Puisi yang senantiasa indah bergema menyentuh dasar sanubari hingga menembus palung rahasia diri terdalam. Karena tasawuf adalah getar energi untuk menjaring sejatinya hidup sekaligus memburu cinta Sang Maha Hidup.

Selanjutnya

Tutup

Filsafat

Manusia Super Membunuh Tuhan

6 November 2019   15:43 Diperbarui: 6 November 2019   15:54 115
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Tunggu bentar, jangan komen dulu. Membunuh Tuhan di sini maksudnya hanya kiasan saja. Sebuah perumpamaan tentang manusia-manusia sok, super arogan yang ingin membangkang dengan menghapuskan pegangan hidupnya.  Bagaimanapun,  'Yang Maha Hidup' tak mungkin bisa dibunuh. Ungkapan tadi hanya  semacam simbol dari lunturnya keyakinan orang-orang di Barat atas segala jaminan Tuhan dalam hidup mereka.

Ada anggapan di kalangan mereka bahwa manusia bisa hidup mandiri dengan kekuatan dan potensi yang dimilikinya. Manusia adalah makhluk yang bebas. Dengan kebebasannya manusia adalah entitas  yang unggul, begitu keyakinan mereka. Dengan akalnya manusia memiliki berbagai daya untuk menghapus segala keterbatasannya. 

Bagi mereka dengan meyakini keMahakuasaan Tuhan berarti manusia menjadikan dirinya tak berdaya. Rasa ketidakberdayaan inilah katanya yang membikin manusia luntur kepercayaan dirinya.  Manusia jadi terkungkung dan tak lagi menjadi makhluk yang bebas dan memiliki peran yang nyata di dunia, begitu alasannya.

"Lupakan aturan-aturan Tuhan, lupakan segala janji-janjiNya.  Kita bisa hidup tanpa Dia.  Kita adalah Manusia Super ('der ubermensch'/Superman) yang  bisa melampaui segala sesuatu termasuk Tuhan," begitulah kira-kira ungkapan pembangkangannya.

Apa yang diungkapkan filsuf Jerman di atas  persis dengan perilaku Raja Namrudz tatkala ia membangun sebuah gedung pencakar langit. Kemudian di atas puncak gedung itu Namrudz dengan penuh arogansi berseru, "Aku akan membunuh Tuhan yang ada di langit!" Ia pun menarik busur dan melepaskan anak panah ke arah langit.

Begitulah, gedung itu dibangun  dengan maksud  menantang Tuhan. Allah pun kemudian  mengutus Jibril agar menjatuhkan seekor burung yang tertancap anak panah Namrudz tersebut. Ketika anak panah yang berlumuran darah itu jatuh ke tanah, Namrudz bertambah sombong dan bersorak, "Ah, sekarang akulah segalanya! Aku telah membunuh yang ada di langit!"

Ironisnya, kesombongan Namrudz segera terjawab. Tak lama setelah itu Namrudz  meregang nyawa disebabkan karena seekor nyamuk saja! Alkisah, hanya dengan seekor makhluk mungil yang masuk melalui lubang hidungnya itu, otak Namrudz habis digerogoti.  Namrudz yang besar kepala alias sombong itu ternyata tak sanggup mengalahkan nyamuk!

Adigung. Inilah watak utama hawa nafsu (ego). Di balik ungkapan-ungkapan sembrono itu, sebenarnya tanpa sadar mereka sedang memuja Tuhan lain. Tuhan mereka sekarang adalah hawa nafsu mereka sendiri.  Siapa saja yang bersikap angkuh dan sombong itu artinya telah dikuasai oleh hawa nafsunya.

Gravitasi Hawa dan Syahwat

Hawa nafsu, menurut al-Qur'an, senantiasa menyuruh kita pada kejahatan.  Aksioma ini tak pernah berubah sejak dahulu kala.  Agar memenuhi segala ambisi duniawi untuk mencapai kepuasan yang tak terbatas hawa nafsu akan menyuruh kita menghalalkan segala cara.  Manusia angkuh tidak pernah bisa berdamai dengan dirinya sendiri serta dengan lingkungan sekitarnya. 

Semakin kita memberi hak-hak atas kesombongan seseorang maka lihatlah ia akan semakin menindas kita. Homo homini lupus. Manusia pun menerkam sesamanya. Siapa yang paling berhasil menindas dialah yang berkuasa. Demikianlah, dengan filosofi ini, Hitler mengekspresikan der wille zur macht (kehendak untuk berkuasa). 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Filsafat Selengkapnya
Lihat Filsafat Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun