Mohon tunggu...
Luthfi
Luthfi Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa Universitas Gadjah Margonda

Menulis untuk mengasah pikiran, imajinasi, dan bersenang-senang

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Sang Teknokrat dari Selatan Sulawesi

23 Desember 2019   13:06 Diperbarui: 23 Desember 2019   13:20 125
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

"Meraih masa depan yang cerah tidak akan didapat dengan mudah, kamu harus mau berkorban untuk mendapatkan hal itu."

Kutipan tersebut kurang lebih menggambarkan bagaimana seorang Bacharuddin Jusuf Habibie memandang dirinya, orang terdekatnya, dan negaranya. Habibie selalu percaya bahwa masa depan yang cerah itu ada dan dapat digapai, jika kita mau belajar serta berusaha untuk mendapatkannya. Semangat Habibie ini tercermin dari perilakunya, semenjak sekolah Habibie terus bercita-cita bahwa suatu hari nanti ia akan bisa membuat pesawat sendiri dan membawa negaranya pada kemandirian dirgantara. Tetapi ia paham betul, bahwa agar Indonesia mencapai kemandirian dirgantara, Indonesia harus maju dalam bidang sains dan teknologi terlebih dahulu. Maka dari itu, Habibie terus belajar untuk mencapai cita-citanya, bahkan sampai merantau ke negeri Jerman. Sampai batas tertentu, cita-cita Habibie sudah tercapai, dengan lepas landasnya pesawat IPTN N-250 pada Agustus 1995 (Tamtomo, 2019).

Namun nampaknya tidak mudah bagi Habibie untuk mewujudkan cita-citanya, karena ada banyak rintangan yang menghadang. Mulai dari pandangan miring orang-orang terhadap kedekatannya dengan Soeharto, krisis ekonomi yang melanda pada tahun 1997, sampai segala guncangan yang dialaminya saat menjabat menjadi Presiden. Tetapi Habibie tidak bergeming, ia tetap percaya bahwa masa depan Indonesia yang cerah dapat digapai. Maka dari itu, Habibie mengizinkan persidangan bagi Soeharto beserta keluarganya dan referendum di Timor Timur.

Bagi seorang Habibie, menjadi presiden bukanlah tugas yang mudah, ia tidak pernah tertarik dengan politik. Habibie adalah seorang teknokrat yang sangat ingin tanah airnya bisa maju lewat teknologi dan sains, serta meraih kemandirian dirgantara. Namun suratan takdir berkata lain, Habibie harus rela dirinya diolok-olok, diremehkan, dan di cap penghianat oleh banyak orang - hanya karena ia termasuk orang dekat Soeharto dan mencoba menegakkan kebenaran.

Bacharuddin Jusuf Habiebie adalah seorang teknokrat yang lahir di Sulawesi Selatan, pada 25 Juni 1936. Di dalam dirinya ada darah campuran Jawa-Bugis, dari pasangan Alwi Abdul Djalil Habibie dan Tuti Marini Poespowardojo. Habibie kecil biasa dipanggil dengan nama panggilan Rudy oleh orang-orang terdekatnya. Rudy adalah anak yang gagap, tidak mudah bicara dan bergaul, serta suka kesendirian (Noer, 2015). Hal ini disebabkan Rudy senang membaca, alasannya karena  ia memiliki banyak pertanyaan di dalam kepalanya sehingga ia mencari jawabannya dengan membaca.

Selain itu, menurutnya membaca membutuhkan fokus yang lebih, sehingga ia tidak begitu mementingkan untuk bergaul dengan anak-anak lain. Meski gagap bergaul, Rudy adalah anak yang sayang kepada orang tuanya, ia memanggil orang tuanya dengan panggilan mami dan papi. Dalam wawancaranya dengan Najwa Shihab di acara Mata Najwa, Habibie mengungkapkan, "Saya masih ingat betul kalau ayah saya adalah seorang yang taat beragama dan tegas, saya setiap malam juga membaca yasin dan tahlil untuk ibu yang melahirkan saya."

Sudah menjadi rahasia umum jika keluarga Habibie dekat dengan Soeharto, kedekatan di antaranya sudah dimulai sejak tahun 1950. Pada waktu itu, Makassar sebagai bekas ibukota Negara Indonesia Timur (NIT) sedang memanas karena pemberontakan Andi Azis. TNI kemudian mengirim banyak pasukannya ke Makassar, salah satunya Brigade Mataram pimpinan Soeharto. Markas Soeharto kebetulah berada tepat di seberang jalan dengan rumah keluarga Habibie, dari sinilah keduanya berkenalan (Dwipayana & H., 1989).

Menurut Soeharto, keluarga Habibie sudah menjadi bagian dari keluarga besar Brigade Mataram. Tuti Marini yang fasih berbahasa Jawa membuat para prajurit yang jauh dari keluarganya di Jawa merasa terhibur. "Obrolannya dalam bahasa Jawa merupakan hiburan tersendiri bagi anggota staf kami yang jauh dari keluarga," kenang Soeharto. Kedekatan Brigade Mataram dengan keluarga besar Habibie diperkuat oleh pernikahan antara Kapten Soebono Mantofani dengan Titi Sri Sulaksmi, kakak B.J. Habibie. "Saya sebagai Komandan 'besanan' dengan lbu Habibie," ucap Soeharto. Kedekatan Soeharto juga terlihat saat ayah Habibie meninggal pada tahun 1950 akibat terkena serangan jantung saat sedang salat. Soeharto dan anggota Brigade Mataram ikut memakamkan Alwi Abdul Djalil Habibie, pada titik ini, Soeharto sudah menganggap Habibie sebagai anak angkat dan vice versa.

Setelah kepergian ayahnya, Habibie memutuskan untuk mengambil sekolah menengah di Bandung. Saat bersekolah, Habibie muda adalah anak yang menonjol secara akademik dan digambarkan sebagai seorang jenius oleh teman-temannya. Saat bersekolah inilah Habibie pertama kali bertemu dengan Ainun, alasannya? Karena Habibie dan Hasri Ainun Besari adalah siswa cemerlang di kelasnya masing-masing, kebetulan mereka memiliki guru ilmu pasti yang sama, namanya Gouw Keh Hong (Firdausi, 2019). Karena sama-sama cemerlang, kemudian Habibie dan Ainun "dijodohkan" oleh guru ilmu pasti mereka. Seperti yang tertulis dalam Ainun Habibie: Kenangan Tak Terlupakan di Mata Orang-Orang Terdekat (2012: 1-3), katanya, "Ini menarik kalau Hasri jadi dengan Habibie, jika mereka jadi suami istri, anaknya bisa pintar-pintar." Tetapi mereka tidak pernah benar-benar dekat, kedekatan mereka baru dimulai nanti di tahun 1962.

Setelah lulus SMA pada tahun 1954, Habibie melanjutkan pendidikan di Jurusan Teknik Institut Teknologi Bandung. Namun Habibie hanya berkuliah selama enam bulan di ITB karena ia kepincut untuk mempelajari teknik konstruksi pesawat di Jerman. Alasannya karena sejak dulu Habibie terkagum-kagum pada pesawat tempur Jerman era Perang Dunia II, Messerschmitt 109 rancangan teknokrat Willy Messerschmitt (Wirayudha, 2019a). Habibie mendapatkan gelar diploma of engineering dari Technische Hochschule di Aachen pada tahun 1960.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun