Mohon tunggu...
Luthfi Lesmana
Luthfi Lesmana Mohon Tunggu... Penulis - Ahli tidur

Merupakan mahasiswa biasa-biasa aja di Fakultas Psikologi UIN Malang. Kecintaannya pada dunia literasi ia salurkan dengan berproses di komunitas Gerakan Perpustakaan Anak Nusantara Regional Malang. Bisa disapa melalui Instagram : @luthfi_lesmana

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Tentang Perintah dan Nurani

20 Januari 2021   20:35 Diperbarui: 22 Januari 2021   08:50 370
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Tolak Komunisme! Tolak Liberalisme! Usir antek-antek asing! Takbir! Suasana di area Masjid Agung Kota Tasikmalaya kian memanas. Pekikan kalimat takbir terus bersautan menandakan demo akan berlangsung lama.

“Idup emang keras, Sup. Hari gini mah yang penting perut loe sama keluarga loe kenyang, udah beres. Persetanlah sama yang namanya kemanusiaan,” Ucap Kohar, Polisi anyaran yang berusaha mengajari kehidupan, ceritanya.

 “Apa iya hidup ini cuma soal perut, Har?” Balas Yusup sambil terus menggandeng lengan Kohar dan rekan lainnya untuk menahan demonstran. “coba loe liat lagi muka-muka mereka. Gue yakin mereka ngerti apa yang lagi mereka perjuangin. yah.. walaupun gak semuanya, sih.”

“Alah jangan naif deh, Sup! Palingan abis ini mereka melas-melas minta nasi bungkus, hehe,” Sindir Kohar sambil cengengesan.

Goblog lain jelema sia mah, Har,” (Goblok, bukan manusia kamu, Har). Timpal Yusup setengah tidak peduli.

 Perihal hidup.. gumam Yusup dalam hati. Aku yakin hidup gak se-hina apa yang dibilang Kohar. Maksudku, kalo hidup ini hanya perihal perut, apa bedanya kita dengan babi hutan yang hidupnya cuma soal makan-kawin saja? Manusia punya satu hal yang membedakannya dengan makhluk lain, apalagi kalo bukan cinta? Cinta adalah.. ah, aku tidak bisa mendefinisikannya. Cinta adalah cinta itu sendiri. Ia hadir bukan untuk dijelaskan, tetapi dirasakan.

 Duar!!! Tiba-tiba suara peluru memecah keheningan jiwa Yusup. Sebuah peluru gas air mata meluncur dari udara menuju kerumunan massa yang sedang larut dalam ghiroh membela hak-haknya yang dirampas.

 Rezim laknatullah! Rezim laknatullah! Semua demonstran kalut dalam emosi seraya kocar-kacir bubar dari kerumunan karena tidak tahan menghirup pedihnya gas air mata.

 “Waduh! apaan nih?” Bripda Kohar panik melihat situasi yang semakin gak karuan.

 Kohar memang bisa dibilang polisi amatiran. Ia tidak terbiasa menangani kerumunan massa yang tidak bisa ditebak. Selebihnya, Kohar cuma punya modal emblem segitiga perak yang bertengger di seragamnya, itu saja.

 “Tenang, Har! Tenang!” Teriak Yusup berusaha menyadarkan Kohar. “Tetep fokus di barisan! Gue gak mau hari ini ada pertumpahan darah lagi, gue capek!” Yusup mengeluh.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun