Mohon tunggu...
Luthfia Arradiah
Luthfia Arradiah Mohon Tunggu... Lainnya - Mahasiswi

Salah satu Mahasiswi Universitas Negeri Makassar. Fakultas Ilmu Sosial Prodi Sosiologi Murni

Selanjutnya

Tutup

Metaverse Pilihan

Analisis Dunia Digital Metaverse terhadap Kemajuan Teknologi Informasi

25 Mei 2022   10:08 Diperbarui: 25 Mei 2022   10:17 708 1 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Metaverse. Sumber ilustrasi: FREEPIK

Perkembangan teknologi informasi saat ini memang terjadi begitu pesat, dimana terjadi integrasi dan penyatuan secara global. Pertukaran informasi dari seluruh belahan dunia yang meliputi produk, pemikiran, pandangan, dan aspek-aspek kebudayaan lainnya, berlangsung sangat cepat.

Di ujung perkembangan teknologi informasi ini, kini hadir METAVERSE. Perbincangan mengenai Metaverse cukup menarik minat banyak kalangan, khususnya di jagat maya. Terjadi setelah pendiri Facebook, Mark Zuckerberg mengubah nama perusahaannya menjadi Meta dan mengungkapkan visinya untuk membangun dunia virtual bernama Metaverse. Dalam imajinasi Mark, Metaverse berwujud dunia virtual yang membawa pengalaman mendekati dunia nyata, bukan sekadar aplikasi semata.
Konsep Metaverse  ini pertama kali muncul pada sebuah novel berjudul snow crash karangan Neal Stephensond di tahun1992.
Metaverse pada dasarnya adalah istilah untuk sebuah konsep dunia virtual yang benar-benar memiliki fungsi dan menyerupai kehidupan nyata, dengan adanya tanah, bangunan, avatar, mata uang virtual yang bisa dijual dan dibeli menggunakan mata uang kripto. Dalam dunia virtual ini orang-orang bisa melakukan berbagai kegiatan seperti bermain, berteman, mengunjungi tempat tertentu, berbicara dengan orang lainnya, melakukan jual beli barang-jasa hanya melalui satu dunia virtual saja.


Dengan berkembangnya konsep metaverse, tentu saja kita terutama generasi milenial, akan dihadapkan oleh berbagai tantangan baru. Akan selalu ada permasalah baru yang muncul ketika sebuah konsep kehidupan baru mulai diterapkan disekitar kita. Dan dengan adanya 'penyatuan' dunia secara virtual ini, dimana ruang lingkupnya tidak lagi hanya sebatas satu Negara saja, melainkan seluruh dunia berada di satu tempat yang sama dengan mata uang yang sama.
Salah satu tantangan terberat yang pastinya akan terjadi ialah komunikasi. Bayangkan saja, sebuah dunia virtual baru yang dimana aturan tak tertulis dalam komunikasi yang ada didalamnya pasti akan berbeda dengan dunia nyata. Kita bisa saja meng-implementasikan peraturan tak tertulis yang ada di dunia nyata, namun apakah aturan-aturan tersebut masih berlaku di dunia virtual ini?

Selain itu, akan muncul juga budaya-budaya baru yang tercipta di dunia virtual ini, dimana kebudayaan yang muncul dari dunia virtual ini bisa saja terbawa hingga kedunia nyata dan pada akhirnya mempengaruhi kebiasaan yang sudah ada di dunia nyata. Kemungkinan juga permasalahan yang biasa terjadi di dunia nyata bisa terbawa ke dunia virtual, seperti pelecehan seksual, rasisme, diskriminasi, penipuan, dan lain-lainnya.

Keberadaan Metaverse bagi dunia komunikasi akan menjadi sebuah tantangan baru yang perlu dipikirkan bersama. Munculnya konsep Metaverse sebagai media baru dalam berkomunikasi mungkin juga akan menciptakan kebiasaan baru yang akan mempengaruhi gaya komunikasi manusia di dunia nyata. Akan muncul juga orang-orang yang akan lebih nyaman berbicara melalui dunia virtual ketimbang di dunia nyata. Atau bahkan bisa saja di masa mendatang manusia tidak lagi berbicara melalui mulut karena ada teknologi yang memungkinkan kita berbicara hanya melalui gelombang otak saja.


Dosen Teknik Informatik Universitas Pasundan yang juga YouTuber Web Programming Unpas, Sandika Galih, mengatakan, ada 5 (lima) pra syarat yang dibutuhkan Metaverse untuk berkembang dengan baik.

Pertama, koneksi internet  yang cepat. Saat ini, dunia sudah mempersiapkan jaringan 5G yang kemungkinan bisa digunakan 1-2 tahun mendatang. Kedua, virtual reality, teknologi yang bisa membawa seseorang masuk ke dunia digital. Facebook sendiri telah memiliki produk Oculus, peranti layar untuk menampilkan realitas virtual yang membuat penggunanya bisa merasakan sensasi dunia maya seperti di kehidupan nyata.

Ketiga, augmented reality. Contoh paling mudah, kini banyak diaplikasikan dan ditemui pada fitur filter di Instagram, SnapChat, TikTok, maupun aplikasi lainnya. Facebook juga sudah mempunyai teknologi untuk membuat augmented reality, yaitu Spark AR Studio.

Keempat, artificial intelligence (kecerdasan buatan). Metaverse perlu didukung dengan kecerdasan buatan guna meniru fungsi kognitif manusia. Untuk teknologi ini, Facebook sudah punya laboratorium yang dapat diakses di laman ai.facebook.com.

Terakhir,  mata uang digital. Di dalam Metaverse, nantinya akan ada transaksi keuangan yang memerlukan mata uang digital sebagai alat jual beli. Lagi-lagi, Facebook telah memiliki mata uang digital bernama Diem sebagai payment system dan dompet digital bernama Novi.

Demikianlah, internet akan selalu memunculkan masa depan yang tidak bisa dihindari. Metaverse adalah salah satunya. Minimal, kita harus tahu, siap, dan paham dengan perkembangan ini. Positifnya, Metaverse menawarkan segudang fitur-fitur canggih. Tapi tentu tidak akan lepas dari masalah security dan keamanan data.
Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia Johnny G. Plate mengatakan pemerintah tengah menyiapkan regulasi merespons kehadiran teknologi digital metaverse. Menurut Johnny, Indonesia saat ini sudah memiliki payung hukum yang memadai untuk mengantisipasi perkembangan teknologi digital, di antaranya Undang-undang (UU) Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja yang saat ini sedang yudisial review di Mahkamah Konstitusi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Metaverse Selengkapnya
Lihat Metaverse Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan