Mohon tunggu...
Mohammad Lutfi
Mohammad Lutfi Mohon Tunggu... Wiraswasta - Tenaga pengajar dan penjual kopi

Saya sebenarnya tukang penjual kopi yang lebih senang mengaduk ketimbang merangkai kata. Menulis adalah keisengan mengisi waktu luang di sela-sela antara kopi dan pelanggan. Entah kopi atau tulisan yang disenangi pelanggan itu tergantung selera, tapi jangan lupa tinggalkan komentar agar kopi dan tulisan tersaji lebih nikmat. Catatannya, jika nikmat tidak usah beri tahu saya tapi sebarkan. Jika kurang beri tahu saya kurangnya dan jangan disebarkan. Salam kopi joss

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Dari Rujakan hingga Virus Corona: Ujian Integrasi Bangsa

28 Maret 2020   07:56 Diperbarui: 28 Maret 2020   07:51 539
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber: Dokumen Pribadi

"Anak-anak, kalau ada teman kita yang sakit, kita wajib  membantu", kata Ibu Guru dengan semangat memberikan penjelasan dan anjuran."

"Siap Bu", kata salah seorang murid di pojok.

"Kita tidak boleh egois. Hidup itu harus gotong royong dan peduli dengan sesama. Mengapa demikian?", tambah Bu Guru

"Karena bangsa kita menjunjung tinggi nilai kesatuan dan persatuan Bu" jawab anak yang paling pintar di antara kami.

Lalu guru bercerita tentang zaman penjajahan dan perebutan kemerdekaan Indonesia panjang-lebar. Bercerita tentang keragaman suku, budaya dan bahasa.

Cerita beberapa tahun lalu, mengenang mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKN) yang disampaikan oleh guru di depan kelas dengan topik integrasi nasional. Dari situlah awal mula saya mengenal konsep integrasi nasional. Akhirnya, setelah pembelajaran selesai di kelas itu, saya mempunyai kesimpulan bahwa integrasi nasional adalah penyatuan seluruh kehidupan di dalam masyarakat yang berbeda.

Seiring berjalannya waktu, saya semakin memahami dan menganalogikan konsep integrasi dengan kebiasaan rujakan di desa. Rujakan adalah satu gambaran masyarakat desa yang selalu hidup berdampingan dan menjaga kebersamaan. Sebab itu, selalu ada sesuatu yang selalu menarik hati untuk dieja dari segi sosial budaya di desa.

Rujakan biasanya dilakukan oleh anak muda dan ibu-ibu, dan tidak menutup kemungkinan bapak-bapak juga ikut rujakan. Waktu untuk rujakan tidak menentu asal ada keinginan dan bahan untuk dibuat rujak. Bahan yang dijadikan rujak pun biasanya variatif, seperti mangga, jambu, pepaya, dan lain-lain. Yang seru dari Rujakan adalah kebersamaannya dalam menikmati, satu cobek untuk ramai-ramai. Bahan-bahan rujakan dikumpulkan dari peserta, ada nyumbang buah ini, buah itu, kerupuk, keripik dan seterusnya.

Ketika rujakan dimulai siapapun boleh bergabung, termasuk orang yang tidak ikut mengupas buah dan mengulek sambal. Tidak ada yang menggerutu dan sibuk nyinyir, malah semakin banyak peserta justru menambah keseruan. Canda tawa sesekali menghiasi antarpeserta meski mulut sudah tidak karuan karena kepedasan. Kalau kurang biasanya mengupas dan mengulek lagi.

Seiring berjalannya waktu, lambat laun rujakan mengalami pergeseran nilai. Rujak semakin elit dan masuk panganan yang dikomersilkan.

Saya pun bertanya siapakah yang tega merampas kebersamaan dan menjadikan kita semakin individualis?

Saya bertanya begitu karena ketika muncul wacana rujakan saat ini, kita langsung menuju warung penjual rujak. Elitnya lagi sekarang rujak bisa dipesan dari rumah kemudian si empunya warung mengantarkan dengan tambahan ongkos kirim. Rujakan yang biasanya berkumpul dengan diselingi keriweuhan dan kebersamaan kini terbagi dalam piring-piring. Ujian integrasi muncul saat itu pula.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun