Lutfi Syarqawi
Lutfi Syarqawi

Pemerhati Sosial-Politik

Selanjutnya

Tutup

Politik

Memotret Sisi Humanis Cak Imin

14 November 2017   18:18 Diperbarui: 14 November 2017   19:09 193 0 0

Salah satu kelemahan calon pemimpin yang muncul dari partai politik adalah fokusnya melulu pada kekuasaan. Mereka berjuang membangun opini dan program yang terkadang jauh panggang dari api alias tidak realistis. Ditambah dengan gaya penyelesaian yang tidak terjun langsung ke masyarakat sehingga melahirkan keputusan yang kontra produktif dengan keinginan masyarakat. 

Padahal apa yang menjadi dambaan masyarakat adalah sosok yang terjun langsung untuk mengatasi persoalan-persoalan yang melingkupi mereka. Artinya, dibutuhkan sosok yang humanis yang betul-betul memahami dan memperjuangkan hak-hak dasar kebutuhan masyarakat .

Seorang pemimpin tidak perlu teriak-teriak di menara Monas untuk melakukan ini-itu tapi cukup terjun langsung ke masyarakat dalam rangka mendampingi dan membantu kesulitan mereka. Pemimpin yang sejati dipastikan akan selalu bersama orang-orang yang belum beruntung dan teraniaya serta bersama mereka berjuang agar hak keadilan dalam beragam bidang terpenuhi dengan baik .

Dalam sebuah kaidah fiqh disebutkan bahwa keabsahan/kebijakan seorang pemimpin atas masyarakat itu harus didasarkan pada kemaslahatan (tasharraful Imam 'alar ra'iyyah manuthun bil maslahah). Pemimpin yang tidak memiliki empati sosial sulit untuk menjadi pembela kemiskinan dan ketidakadilan. Dan untuk mengetahui seorang pemimpin mimiliki sense of crisis yang tinggi sangat mudah diketahui hanya dengan melihat dari sepak terjangnya dalam membela kepentingan umat yang terzalimi hak-haknya sebagai warga negara.

Pada saat ini sosok yang demikian humanis dan sangat jelas kiprahnya di masyarakat adalah tokoh yang masih muda namun sepak terjangnya sudah dikenal dan dirasakan masyarakat yaitu; Muhaimin Iskandar atau biasa dipanggil Cak Imin. Di antara tokoh-tokoh muda saat ini seperti Puan Maharani, Anas Urbaningrum,  Agus Yudhoyono dan lainnya, sosok cak Imin, menurut beberapa pengamat, menempati urutan teratas baik dari sisi prestasi politik maupun peran sosialnya dalam masyarakat.

Hal tersebut diperkuat dengan pembelaan dan perjuangannya terhadap nasib petani tebu bebas dari pajak pertambahan nilai (PPN) sebanyak 10 persen, baru-baru ini. (Tribunnews.com/25/8/2017). Bantuannya terhadap sekitar 143 pasangan miskin menikah secara gratis bahakn beliau menjadi saksi atas pernikahan massal tersebut (Merdeka.com/25/8/2017). Belum lagi intruksi langsung beliau melalui partainya untuk membantu para korban dan pengungsi Rohingya (detiknews.com/3/9/2017)

Semua data di atas menunjukkan bahwa Cak imin tidak hanya mahir berpolitik tapi juga memiliki sifat humanis yang tinggi terutama dalam membela dan membantu mereka yang terabaikan. Kalau sepak terjang politik beliau sudah banyak ditulis oleh berbagai media tapi sisi humanisnya ini jarang terungkap ke publik. Dari itu, tulisan ini mencoba mengungkap peran sosial (humanisme) cak imin dalam membantu kesulitan umat demi tegaknya keadilan sosial yang menjadi amanat konstitusi dan undang-undang.

Di tengah kondisi ekonomi bangsa yang lesu, keberpihakan terhadap rakyat kecil merupakan suatu kewajiban. Banyaknya persoalan sosial kemasyarakatan yang perlu diselesaikan menuntut tampilnya sang dewa penolong yang memiliki visi dan misi kerakyatan dan kebangsaan dalam meyelesaikannya. 

Cak imin sebagai tokoh muda saat ini sudah membuktikan diri dengan jiwa sosial/humanisnya membantu masyarakat yang kesulitan seperti membela petani tebu, memfalisitasi pernikahan kaum miskin mewujudkan impian meraka membina rumah tangga serta bantuannya terhadap korban muslim Rohinya serta lain sebagainya.

Ketiga fakta ini cukup menjadi alat bukti bahwa cak imin tidak melulu berorientasi pada kekuasaan tapi juga pada masyarakat yang kesulitan. Sebagai seorang humanis, beliau hadir untuk membela dan membantu mereka yang kesulitan. Adanya ketidakadilan dalam kebijakan politik maupun ekonomi telah mendorong beliau terjung langsung ke masyarakat dan mendengar keluhan mereka untuk kemudian diperjuangkan dalam perlemen maupun pemerintahan.

Jihad sosial beliau tidak hanya sampai disitu, beliau juga menjadi pendorong bagi adanya beasiswa bagi siswa-siswa yang berprestasi dan hafal Al Qur'an. Nusantara Mengaji merupakan salah satu Lembaga sosial keagamaan yang di inisiasi beliau dalam memberi besiswa tersebut dan juga menginfaqkan Al Quran ke masjid dan musolla di seluruh nusantara, serta pemberian dan pengajaran Al Qur'an bagi penderita difabel.

Pada dasarnya apa yang dilakukan cak imin mungkin bisa dilakukan oleh semua orang yang menganggap dirinya pemimpin. Namun satu hal yang membedakan beliau dengan yang lain adalah sosoknya yang muda, tawadhu' serta ketulusannya dalam menolong orang lain. Tak banyak yang tau hal ini kecuali orang-orang dekat beliau. Maksudnya, Cak Imin mampu melampui ambisi pribadinya dan senang menolong orang lain sehingga menjadikannya sosok yang tulus dan tawadhu', terutama dihapan para kyai.

Bahkan dalam Mubes alim ulama sejawa timur dengan peserta 1000 kyai, beliau lah yang diberi amanah oleh para kyai untuk memperjuangkan keadilan ditengah masyarakat agar tidak muncul tindakan radikalisme dan terorisme. Kepercayaan para kyai terhadapnya merupakan modal beliau dalam melakukan jihad menciptakan keadilan sosial dan mengikis kemiskinan di masyarakat. Karena memang dalam diri beliau menyatu sosok politisi yang ulung juga sosialis/humanis yang agung.

Akhir kalam, apa yang saya gambarkan tentang sosok Cak Imin hanya merupakan penegasan dari para kyai dan para pengamat politik akan potensi dan kemampuannya dalam memimpin. Tulisan ini sekedar memotret sisi humanisme cak Imin dalam sepak terjangnya selama ini. Sebagai mantan seorang aktivis mahasiswa dan lembaga kemanusiaan, beliau selalu berpegang pada Prinsip memanusiakan manusia baik dalam agama, sosial, politik dan lainnya. Cak Imin sangat mengagumi tokoh yang menjadi panutan sekaligus mentornya nya dalam segala hal, yaitu; KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Wallahu a'lam Bisshowab.