Mohon tunggu...
Nisa Lutfiana
Nisa Lutfiana Mohon Tunggu... Okee saya seorang perantau yang tengah mencari penghidupan di perbatasan negeri ini :)

I know I'm not the only one. Belajar tak akan pernah mengenal waktu. Inilah sepenggal cipta dari rasa yang terjaga.

Selanjutnya

Tutup

Hiburan

Larasati Mahaayu dan Sedikit Cerita Tentangnya

19 Desember 2016   23:30 Diperbarui: 20 Desember 2016   01:10 11 0 0 Mohon Tunggu...

Ini kali pertama aku menoton teater kampus sendiri. Teater Texas berjudul Larasati Mahaayu menjadi pilihan ku, ya bertepatan dengan final Indonesia vs Thailand dan gerimis manis memang penghambat luar biasa besar. Tapi aku ingin, maka aku pergi meski sendiri. Aku tak ingin ketiadaan orang yang biasa menemani menjadi penghambat untuk melakukan yang aku inginkan, hanya itu saja. Maka terkadang ku tantang diriku ku sendiri, seperti kali ini, mungkin lain kali ku beranikan diri menonton film sendiri.

Awalnya aku sempat mengira bahwa teater yang dibawakan akan menceritakan kisah kolosal. Tapi sayangnya pada scene pertama bersetting masa kini, sempat kecewa dan sanksi ini tidak seperti ekspektasi. Kecewa ku cukup besar karna ini adalah pentas pertama yang ku tonton sendiri (seperti ku katakan sebelumnya), dan memang membutuhkan sedikit perjuangan (baca : digoda nobar, mager hujan dan tiketing). Maka betapa kecewanya jika ini pementasan yang terasa seperti sinetron. Tapi syukurlah apa yang ku kecewakan tidak terjadi. Study pentas yang membahas cinta, kuasa, dan luka, namun kesederhanaannya dan tujuannya menghibur tidak absen begitu saja. Yup, sebuah pementasan masih memiliki tafsiran yang diterjemahkan dengan bebas oleh penontonnya kan?

Ketidak-menyesalan ku bermula ketika Petit, tokoh utama pria, mengiyakan permintaan Larasati, tokoh utama wanita pujaan nya dan seluruh desa berkat kecantikannya. Petit pun bersedia membunuh Saraswati, seorang gadis buta yang lantang menolak pembangunan yang akan dilakukan Larasati. Bahkan ketika Larasati meminta Petit memakan tubuh Saraswati hingga habis, Petit pun berkenan. Padahal hubungan Saraswati dan Petit seperti hubungan warga desa pada umumnya, akrab. Tapi Petit rela melakukannya, demi Larasati.

Ini mengingatkanku pada sebuah novel Karya Eka Kurniawan, Cantik Itu Luka. Mengejawantahkan bahwa kecintaan pada seorang mampu membuat kita melakukan apa pun. Bahkan di luar batas kewajaran, hanya untuk dia yang kita cinta, hanya agar bisa bersama nya.

Namun, kecintaan kita terhadap seseorang pun mampu menjadi sebab kita melukainya. Seorang pernah berkata pada ku bahwa terkadang orang yang melukai kita adalah orang yang mencintai kita atau bahkan orang terdekat kita. Maksud ini dengan mulus disampaikan pada endingpementasan. Petit membunuh Larasati karena telah mengkhianatinya, sebab Larasati memanfaatkan Petit untuk memudahkan ia menangani warga desa yang menolak pembangunan yang tengah Larasati dan kekasihnya (yang entah dimana rimbanya) idamkan.

Selayaknya sebuah karya sastra, pementasan teater selalu memiliki keberpihakan. Meski dikemas dengan ringan dan menghibur, Larasati Mahaayu tak luput pada keberpihakannya. Ia jelas menggambarkan bahwa siapa yang menolak pembangunan dengan lantang, maka ia terancam. Bahwa rakyat yang bersuara nyaring melawan kuasa berakhir dengan kematian.

Terakhir, terlepas dari pertanyaan filosofis ada dan tidaknya kata sifat yang bernama kecantikan, kecantikan masih memiliki eksistensi. Pementasan ini memperlihatkan kembali bahwa kecantikan adalah modal sosial. Ya mau diakui atau tidak, kecantikan mampu memudahkan dalam bermasyarakat.

Kesemua itu juga didukung dengan penokohan yang dapet banget, musik yang yah lumayan dan lighting yang pas. Meskipun tanpa ada penggantian setting tempat (hanya ada 2 setting), ini tidak membuat penonton bosan. Sebagai sebuah studi pentas maka ini adalah studi pentas terbaik yang pernah ku tonton. Biar ku perjelas, ini adalah pementasan yang menghibur, namun tidak menegasikan nilai dan keberpihakan yang ia bawa.

Purwokerto, 14 Desember 2016

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x